Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Seorang Ibu Yang Tak Berhati Nurani


Kevin yang tengah menyetir mobil itupun hanya bisa menghela napas gusar, entah apa yang sedang di lamunkan oleh putrinya itu ia hanya bisa pasrah, mengingat ia tak bisa berbuat banyak saat melihat kemarahan yang ada di dalam dirinya.


Sayang, apa selama ini hatimu benar-benar terluka oleh sikapnya? Apa yang sedang kamu sembunyikan dari Papamu ini Nak? Sampai-sampai kamu sangat begitu pandai menyimpan perasaanmu sendiri! Batin Kevin dengan sendu.


Tentunya sebagai seorang ayah sekaligus ibu yang telah merawatnya itu, ia hanya bisa memahami dan mengerti tentang perasaan putrinya tersebut.


*******


Sementara itu sekembalinya dari dukun Sugeng. Marista Mayang pun kembali memerintahkan anak buahnya yang tengah menyetir mobil, untuk melaju ke arah kantor milik suaminya agar ia bisa memastikan apakah suaminya Raymond menemui makam mendiang seorang wanita yang sangat di cintai oleh suaminya tersebut.


“Jalankan mobilnya ke kantor,” titah Marista tanpa menoleh ke arah sopirnya yang tengah menyetir itu.


Ingatannya melayang jauh ke arah beberapa tahun silam, lebih tepatnya saat Leonard duduk di bangku sma, ia tak menyangka bisa bertemu dengan seorang yang sangat ia benci itu.


Bahkan tanpa mengurangi rasa hati nuraninya, ia pun harus memutuskan ikatan darah yang mana ia dengan tegas mengatakan tak sudi menganggapnya sebagai seorang anak yang pernah ia lahirkan tersebut.


Sampai sekarang ia benar-benar tak akan sudi melihat wajah itu kembali, saat bertemu beberapa minggu lalu itu membuatnya harus menggeretakkan gigi menahan amarah. Bagaimana mungkin ia harus bertemu dan melihat wajah yang ia benci tersebut.


Kevin, sialan kau, kenapa kau dan anak pembawa sial itu harus menunjukkan batang hidungmu di depanku. Membuatku muak melihat wajah kalian, bahkan aku sangat tak sudi mempunyai darah dagingmu. Karena hanya Prisilia yang harus mengalir darah dari diri Raymond, meskipun Prisilia bukan anak kandungnya, tetapi tidak ada yang tak bisa aku lakukan sekalipun harus membunuh putra sulungnya. Karena sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa melepas Raymond dari genggaman tanganku.


Di sebuah apartemen tempat yang tak pernah orang lain tahu, terdapat seorang pria paruh baya menatap dingin ke arah balkon tersebut sembari membayangkan ingatannya pada mendiang istri tercinta.


Di tempat inilah ia yang di kenal dengan Raymond Wesley Wiratmaja itu telah menjadi dirinya sendiri, tanpa semua orang lain tahu bahwa selama ini ia bisa kembali seperti sedia kala.


Sebelum berangkat ke kantor, Raymond tengah menikmati pemandangan dari arah balkon apartemennya, sembari menyesal wine dengan menggoyangkan gelas kristal tersebut.


Tak lupa juga ia kini tengah memikirkan dan menunggu kabar dari putra sulungnya tercinta perihal anak kembarnya yang telah di temukan itu, membuat hatinya merasa berbunga-bunga setelah sekian lama penantiannya terbayarkan.


Bahkan ia tak akan pernah melepaskan ketiga anak kembarnya tersebut, sembari memastikan perlindungan untuk ketiga, agar istri keduanya tak mengincar nyawa mereka.


Mengingat ia sangat mengetahui bahwa istri keduanya itu tak akan pernah melepaskan dirinya begitu saja.


Karena putranya tak menghubunginya dengan terpaksa ia berjalan kembali ke dalam, sambil memastikan tak ada seorang pun yang mengetahui perihal tentang dirinya.


Setelah berganti pakaian dan juga tak lupa jas yang melekat itu, ia pun kembali duduk di atas kursi rodanya untuk mengelabui semua musuhnya, bahwa dirinya telah kembali dalam keadaan lain.


Mendorong kursi roda itu dengan kedua tangannya sendiri, tak lupa setelah mengunci pintu kamar unitnya, ia pun mengarahkan kursi roda di basement parkiran apartemen, untuk mengambil mobil kesayangan dan mengantarkan dirinya ke kantor tersebut.