Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Part 185


“Aku merasa ganjal dengan kematiannya,” sahut Angel dengan raut wajah yang sangat serius.


“Jelaskan maksudmu itu, Ngel!” titah Albert dingin.


Angel mengangguk lalu ia pun mencoba mencari tahu mengapa kakak iparnya ini begitu sangat mengenaskan saat meregang nyawa.


“Tidakkah kau merasa sedikit berbeda dengan tubuh kakak ipar yang terlihat koyak dalam pakaian seperti ini, Kak?” tanya Angel.


“Kau, benar, ada beberapa banyak tanda di tubuhnya dan hatiku merasa tercabik-cabik saat melihat tanda itu.” Albert mengepal tangan seraya giginya gemuruh gemeretak. Mana kala dia melihat tanda di dalam tubuh kekasihnya tercinta.


“Maka dari itu aku mengajakmu mencari tahu kebenaran dari kematian kakak ipar dan dugaanku mengarah pada seseorang yang sangat membenci hubungan antara kalian berdua.” Angel begitu sangat yakin dengan orang yang ingin merusak kebahagiaan kakaknya tercinta.


“Siapa menurutmu, Ngel?” Albert bertanya tanpa mengarahkan kepala untuk menatap sang adik karena ia sedang memikirkan seseorang yang begitu sangat keji melakukan perbuatan bejat tersebut.


“Aku bisa saja membantumu menemukan dalangnya, Kak.” Angel bukannya tak ingin membantu hanya saja ia belum terlalu memastikan dugaan orang tersebut.


“Lalu aku harus bagaimana?”


“Kita cari sama-sama ya, Kak.”


Albert mendengkus kesal bukannya Angel membantu justru ia semakin dibuat bingung dengan perkataan yang terlontar dari mulut adiknya ini.


Selesai memerintahkan orang-orang menguburkan kekasihnya dengan layak. Kini dia dengan Angel sedang berjongkok di atas makam yang baru saja di kebumikan.


Suara kilatan petir saling bersahutan saat Albert bersumpah pada alam semesta. Yang akan mengejar wanita dicintainya meskipun menjadi seorang hantu kan tetap dilakukannya.


Lalu tak lama kemudian setelah kematian di alami oleh kekasihnya tercinta. Albert menjadi pribadi yang sangat dingin di depan semua orang termasuk pada seorang wanita yang begitu dia benci. Setelah mendengar kabar bahwa wanita tersebut telah membunuh kekasihnya tercinta.


“Katakan mengapa harus kau yang menjadi pembunuh itu?” tanya Albert dingin.


Di hadapannya kini sedang berdiri seorang wanita cantik yang penuh ambisi dan licik untuk mendapatkan semua apa yang ia mau. Termasuk cintanya pada Albert Van Derk Wirjk yang telah mengorbankan perasaan cinta untuk seorang Albert.


“Bukankah aku sudah pernah mengatakan hal ini padamu, Al. Kalau hatimu telah ku cintai sejak lama.”


“Itu bukan cinta namanya, kau begitu terobsesi denganku sampai-sampai harus membunuh orang yang sangat ku cintai, dan berpikir aku akan berpaling darinya begitu, hah!” Albert dengan kilatan amarah yang di atas ubun-ubun tanpa sadar terlalu keras mencengkeram sebuah pedang yang sedang di pegang olehnya.


Hal tersebut menimbulkan sebuah luka dengan dar'ah yang mengalir deras di sela-sela tangannya.


“Jaga batasanmu jangan terlalu mendekat! Aku tak butuh belas kasihmu!” Albert meninggikan nada dingin menjadi satu oktaf. Begitu ia lakukan karena wanita tersebut ingin mendekat dan memberinya sebuah pertolongan.


“Tak bisakah kau membalas perasaan ini, Al?”


“Sudah ku katakan berkali-kali sampai ma'ti hati ini sudah terkunci oleh namanya dan sebaiknya kau tak perlu lagi melakukan hal bo'doh karena ....”