
Sementara itu Araxi yang masih berada di bawah alam sadarnya itu, secara tak sengaja berdiam diri sembari tak memerhatikan bahwa Mamanya tercinta dapat melihat wajah meronanya dibalik tatapan dingin dengan gemas.
Karena dibalik wajah dinginnya Araxi masih bisa memperlihatkan raut wajah meronanya, akibat ulah Albert yang terang-terangan mencuri ciuman pertamanya.
“Sudah saatnya kamu kembali ke tempatmu berada,” ucap Siska yang juga merasa berat berpisah dengan putri sulungnya tersebut. “Keberadaanmu ke sini berimbas pada tubuhmu di sana. Ada seseorang yang lebih membutuhkanmu, mama berharap kamu mau membuka hatimu untuk seseorang yang begitu berarti untukmu.”
Di dalam ruangan Araxi terdapat dokter Arif dan juga beberapa perawat yang tengah berusaha melakukan pertolongan pada pasien, agar pasiennya itu merespons apa yang sedang ia lakukan pada tubuhnya.
Ivone yang tengah berdiri di luar ruangan Araxi itu bermondar-mandir ke sana ke mari, sambil menggigit ujung kukunya karena terlalu mencemaskan keadaan Araxi.
Selang beberapa detik dari arah lain terdapat Kevin dengan Leonard yang tengah berjalan cepat untuk menghampiri Ivone yang tengah bermondar-mandir tersebut.
“Sayang,” panggil Kevin. “Bagaimana keadaan Araxi di dalam?”
“Dokter sedang menangani Araxi di dalam Pa,” ucap Ivone lirih.
“It’s oke sudah jangan sedih lagi, Araxi pasti baik-baik saja.” Dengan penuh sayang Kevin pun mendekap erat tubuh yang selalu merasa nyaman dalam pelukan kasih sayangnya sejak menjadi bayi merah.
Leonard yang mengikuti langkah kaki Kevin pun dengan terpaksa duduk di sebuah kursi dengan jarak beberapa langkah dari tempatnya Kevin memeluk putrinya tersebut.
Tanpa sadar di sebelah Leonard ada sesosok arwah hantu yang selama ini menemani mereka, sejak berada dalam kandungan hingga menjadi yang seperti sekarang.
Keadaan di sekitar menjadi hening sampai beberapa detik kemudian, pintu ruangan tersebut di buka dari dalam dengan keluarnya dokter yang menangani Araxi.
“Maaf pasien harus segera mendapatkan darah tambahan, agar pasien dapat melewati masa kritisnya.” Sambil membuka masker dokter Arif pun menjelaskan perihal data rekam medis dari pasien yang ia tangani itu.
“Ambil darah saya saja dok,” sahut Leonard yang menyela penjelasan dokter Arif.
Dokter Arif yang sedang menjelaskan itu di buat tercengang saat mendengar sahutan dari seorang pria yang tengah menyelanya.
“Apa anda yakin?” tanya dokter Arif sembari memindai Leonard dari ujung kaki hingga kepala.
“Lalukan saja dok! Siapa tahu dengan anda mengambil darahnya, pasien bisa melewati masa kritisnya.” Kevin pun menjawab sambil memberi dokter Arif perintah, agar Araxi dapat melewati masa kritisnya.
Saat Leonard masuk ke dalam ruangan tersebut, seketika detak jantungnya meledak mana kala tak sengaja melihat wajah pucat pasi itu, mengingatkannya pada Papa tercinta.
Deg– Ini tak mungkin! Mengapa wajahnya begitu sangat mirip dengan Papa. Dan juga bukankah dia yang pernah datang ke perusahaan milik Tuan Marco? Atau mungkin hanya perasaanku saja, tapi mengapa aku seperti nyaman melihatnya.
“Sudah siap?” tanya dokter Arif yang membuyarkan lamunan Leonard.
Berdehem lalu berucap dingin, Leonard pun siap mendonorkan darah di tubuhnya, untuk seseorang yang tengah terbaring di atas brankar tersebut. “Dok, bolehkah saya meminta sesuatu pada anda?” pinta Leonard.
“Apa yang anda inginkan? Saya siap mengabulkannya,” sahut dokter Arif yang langsung memahami permintaannya itu.
.
.
.
.
.
Sudah crazy up ya
Gimana tegang?
Panik?
Pastinya penasaran dong
See you next time
Love you