
“Ada!” Jawaban singkat dari Ara membuat Marco semakin yakin dengan seorang pelajar yang berdiri itu mengingatkannya pada rekan bisnisnya yang tak lain orang itu merupakan Raymond Wesley Wiratmaja. “Saya memang tidak mengenal Anda Tuan. Kedatangan saya kemari ada sesuatu yang ingin saya sampaikan untuk Anda.” Sahut Ara cepat setelah ia mendengar batin dari suami arwah Minerva tersebut.
“Lalu sesuatu yang ingin kau sampaikan itu apa?” tanya Marco dengan raut wajah yang terlihat serius.
“Apa anda mengenali seorang wanita bernama Minerva?” jawab Ara dingin seraya bertanya balik.
Deg---Seketika tubuh Marco menegang tak kala mendengar nama sang istri yang sangat di rindukan oleh dirinya.
Namun karena kelicikan dari istri simpanannya yang kini menjadi istri sahnya itu, ia sama sekali tidak pernah mengetahui perihal kebenaran yang menimpa pada istri tercinta yang telah menjadi sesosok arwah yang di penuhi oleh dendam tersebut.
“Bagaimana bisa kau mengenali istriku?” tanya Marco yang terheran-heran dengan seorang pelajar yang begitu terlihat sangat mengenali istrinya tersebut.
“Apa anda siap mendengarkan suatu kebenaran yang akan saya sampaikan!” jawab Ara berujar sambil mengungkapkan tabir kematian dari arwah penasaran tersebut.
“Bukankah istriku Minerva meninggalkan diriku karena ia berselingkuh di belakangku!” beo Marco yang terdengar oleh Ara.
“Sudah saya katakan bukan, Saya ingin menyampaikan suatu perihal kebenaran mengenai istri anda Minerva,” ucap Ara ketus nan dingin. “Apa anda tidak merasa sesuatu hal yang sedang di sembunyikan oleh istri ke dua anda itu?”
“Apa maksudmu itu?” tanya Marco yang merasa heran dengan perkataan yang di lontarkan oleh Ara. “Kau jangan mengada-ada menuduh istriku,” sahut Marco sarkas.
“Saya tidak menuduh istri kedua anda, akan tetapi perbuatan yang di lakukan oleh istri anda itu sangatlah fatal.” Kata Ara tegas. “Silakan cermati dan resapi perkataan yang saya lontarkan itu.”
“Ada apa Al?” tanya Ara lewat telepati batinnya dengan Albert.
“Ini gawat, arwah Minerva tidak terima atas perlakuan yang dilakukan oleh Sherly terhadap dirinya Ra, dia saat ini semakin marah,” jawab Albert. “Aku tidak kuat menahan energinya terlalu besar.” Katanya kemudian yang sembari menahan energi dari arwah Minerva tersebut.
Namun pandangan netra Ara semakin mendingin, saat seseorang yang sedang di bicarakan itu datang ke kantor milik suami dari arwah penasaran tersebut.
“Sayang,” panggil pada Marco suaminya itu. “Ada apa ini Sayang?” tanyanya dengan heran.
Wanita yang di bicarakan oleh Albert dan Minerva itu pun mengernyitkan keningnya, serta ia pun menatap ke arah Ada yang menatap dingin pada dua orang tersebut.
“Kau siapa?” ucapnya ketus sambil bertanya pada Ara yang menatap datar itu. “Apa kamu mengenalnya Sayang?”
“Saya memang ada perlu denganmu Nyonya,” sahut Ara santai yang menyela percakapan antara Marco dengan wanita itu.
“Lihatlah Sayang dia menyela percakapan kita,” adu Sherly. “Apa orang tuamu tidak mengajarkanmu tentang sopan santun,” tanya Sherly.
“Nyonya aku tidak mau berbasa-basi denganmu. Akan tetapi karena anda sudah muncul terlebih dahulu, maka dengan ini saya akan menyampaikan sesuatu hal yang selama ini anda sembunyikan dari suami anda tersebut. Apa hidup anda tenang dan damai setelah membunuh dan menjadikan seseorang yang anda bunuh menjadi patung manekin!” Ara berkata secara rinci dengan menjelaskan peri hal yang menimpa mendiang istri Marco.
Mendengar hal tersebut tubuh Sherly menegang, ia tidak menduga ada seorang pelajar yang berhasil membongkar rahasia yang selama ini ia tutup rapat.
“Kau tahu apa anak kecil sepertimu seharusnya duduk di bangku sekolahan, bukan mengoceh tidak jelas begini,” ucap Sherly sarkas sambil tetap menutupi rahasia tersebut. “Sayang, jangan dengarkan perkataan anak ingusan itu. Ini tidak seperti yang kamu kira.”
Namun justru Ara pun menyela kembali perkataan yang di lontarkan oleh istri dari Marco.
“Tuan aku tidak peduli kau mau mempercayainya atau tidak. Yang jelas saat ini aku mengatakan sesuatu hal kebenaran yang selama ini di sembunyikan oleh istri anda, bahwa mendiang istri pertama anda itu telah di bunuh dan di jadikan patung manekin. Kalau tidak percaya silakan lacak keberadaannya.” Ara pun menegaskan kembali apa yang memang ingin di sampaikan oleh dirinya.
Namun sesuatu hal tidak terduga itu pun terjadi, saat dirinya hendak memanggil Albert tanpa sadar istri dari Marco itu pun menampar dirinya. Namun di cegah oleh sebuah tangan dari seorang karyawan yang sedang di rasuki oleh arwah Minerva itu sendiri.
“Aku sendiri pun tidak tahu Ra, tiba-tiba saja dia sudah merasuki tubuh seorang karyawan suaminya,” sahut Albert acuh.
“Apa kabarmu wahai perebut laki orang,” sapa Minerva dingin, yang tengah merasuki tubuh milik karyawan kantor milik suaminya tercinta. “Dan kamu apa kabarmu? Apa kamu sudah tidak mencintaiku seperti dulu?” sapa Minerva dingin pada Marco suaminya tercinta.
“Ka---u bagaimana bisa?” dengan terbata-bata Sherly pun tidak bisa mengelak dari seorang wanita yang pernah ia bunuh tersebut.
“Kau pasti bahagia bukan telah menjadikan bagian tubuhku dari koleksi manekin cantik milikmu itu.” Kata Minerva dengan tertawa yang membuat bulu kuduk merinding.
“Apa kamu tidak ingin menanyakan mengapa aku bisa menghilang dari kehidupanmu?” tanya Minerva pada suaminya yang tengah di landa kebimbangan antara mempercayainya atau hanya sekedar halusinasi semata.
“Ke mana saja selama ini dirimu sayang?” jawab Marco dengan bertanya balik. “Aku pikir kamu pergi meninggalkan diriku dengan selingkuhanmu.”
Mendengar tuduhan dari suaminya itu membuat arwah Minerva di dalam tubuh karyawan kantor itu murka, karena ia merasa tidak terima perkataan yang sangat menyakitkan.
“Aku tidak pernah selingkuh darimu,” ucap Minerva acuh. “Kamu bisa tanyakan pada istrimu itu, apa yang sudah di lakukannya harus ia pertanggung jawaban. Karena sampai saat ini tubuh asliku selalu kedinginan, aku juga ingin di kuburkan dengan layak. Agar aku bisa pergi dengan tenang menyusul anak kita yang sudah terlebih dahulu ada di surga.” Kata Minerva sembari meminta pertolongan untuk segera menguburkan tubuhnya yang sangat awet tersebut.
Deg---Jantung Marco itu serasa di terkam oleh pisau yang tajam, ia sendiri itu pun tidak menduga. Bahwa ia telah berbicara dengan mendiang istrinya tercinta yang hanya berupa arwah penasaran yang selalu mengikuti putri kandung Sherly.
“Jadi kamu dulu sempat hamil anakku begitu!” beo Marco yang semakin tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar.
“Sayang,” panggil Sherly yang merasa terpojokkan. “Ini tidaklah benar, a---ku sungguh tidak membunuhnya. Bisa saja anak ingusan itu hanya membual,” sahutnya dengan berkilah.
“Aku sedang tidak berbicara denganmu,” tegur Marco datar. “Maaf!” Sesal itulah yang di rasakan oleh Marco saat mendengarkan sebuah kebenaran yang sangat menyakitkan.
Bahwa selama ini ia telah di bohongi oleh seorang istri simpanannya yang memberi kabar tentang perselingkuhan mendiang istrinya tercinta, akan tetapi yang ia dapatkan istrinya tercinta itu di bunuh oleh istri simpanannya itu sendiri.
Dan untuk membuktikan kebenaran yang ia dapat, Marco pun menanyakan hal tersebut secara langsung pada istrinya itu.
“Jawab pertanyaanku dengan jujur Sherly,” ucap Marco dingin. “Apa kau yang melakukan hal ini semua? Serta juga apa kau yang membunuh istriku?”
Sementara itu dari arah lain di halaman parkir kantor milik Marco berada, terdapat sebuah mobil sport yang di tumpangi oleh Leonard dengan Theo sekretarisnya itu telah tiba di tempat mereka berpijak.
Kedatangan rekan kerja Marco itu pun menarik perhatian beberapa karyawan kantor tersebut, hingga membuat salah satu di antara dua orang itu merasa sedikit heran.
Sejak menginjakkan kakinya di kantor itu, Theo pun merasakan sesuatu yang sedang tidak beres.
Ya dia melihat sesuatu yang mengganggu penglihatannya sebagai seorang indigo sejak kecil, ia pun selalu bisa melihat dan merasakan keberadaan mereka yang di sebut hantu.
“Ada apa?” tanya Leonard yang telah menyadari sesuatu yang telah terjadi pada sahabatnya itu. “Apa kau melihat sesuatu?”
“Ya, Ada akan tetapi itu dari arah sana,” jawab Theo sambil menunjuk ke arah tempat itu.
“Kalau begitu kita datangi tempat itu,” ajak Leonard yang di angguki oleh Theo.
Saat mereka sampai di tempat yang di maksud oleh Theo. Alangkah terkejutnya ia mendapati sesosok arwah yang tengah merasuki karyawan kantor tersebut, serta sesosok arwah lain yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.
‘Ada apa ini? Mengapa arwah ini begitu sangat kuat membawa sebuah dendam!’ batin Theo berbisik yang mana hal tersebut menarik perhatian ara yang berdiri tidak jauh dari tiga orang yang tengah menyelesaikan urusan mereka.