Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Perasaan Yang Terlarang


“Kenapa bukan kau sendiri yang memasuki dimensi arwah itu,” tanya Albert yang tak sengaja mendengarnya. “Kau pun bahkan lebih mampu dari ke dua saudara kembarmu itu.”


“Berisik!” sahut Ara dingin. “Aku malas kalau nanti mereka meminta bantuan padaku,” lanjutnya tanpa menghiraukan beberapa arwah penasaran dari sebuah gedung sekolah.


“Sorot matamu kenapa semakin mendingin, kau malah seperti ...” tanpa melanjutkan kembali perkataannya justru Albert memikirkan sebuah nama yang terlintas di benaknya. ‘Seperti Leonard kakak kandungmu Ara!’


“Seperti apa?” desak Ara namun sebenarnya ia mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh Albert.


“Oh itu maaf aku tak bisa menjelaskannya lebih detail,” sahut Albert cepat untuk menutupi bahwa selama ini ia dengan Angel selalu memantau keadaan kakak kandung dari tiga orang kembar itu. “Memangnya kau barusan habis dari mana?” tanya Albert sembari mengalihkan pembicaraan, entah mengapa ia bisa merasakan dengan jelas.


Bahwa di antara ketiga kembar tersebut, hanya Ara yang selalu mengetahui terlebih dahulu apa yang selama ini ia sembunyikan.


“Aku bertemu dengan seseorang yang terhubung dengan kematian mendiang mamaku,” jawab Ara dingin, serta jangan lupakan raut wajahnya yang sulit di artikan.


“Lalu Ra ... Apa kau sudah melihat sesuatu yang berhubungan dengan Siska mendiang mamamu itu?”


“Tidak!” singkat dan padat menanggapi pertanyaan dari Albert. “Akan tetapi yang pasti mimpi yang aku alami berhubungan dengan mama.”


“Nanti juga akan ada waktunya, kau bertemu dengan seseorang yang telah merenggut kebahagiaan keluargamu,” ucap Albert sembari memberi penghiburan untuk menghilangkan kesedihan yang di alami oleh seseorang yang tengah berdiri di hadapannya.


Sebagai seorang arwah penasaran yang mati selama ratusan, ia pun sedikit mulai memahami perasaan kesedihan dari salah satu di antara ketiga kembar tersebut.


Yang mana membuatnya seperti memiliki perasaan lebih di antara mereka. Selama menjaga mereka bertiga, ada perasaan lain yang timbul di dalam diri Albert.


Perasaannya yang tengah timbul dengan sendirinya itu, merupakan perasaan yang mana yang selalu ingin memiliki dan merasakan sebuah perasaan yang sangat nyaman untuk salah satu di antara dua orang kembar itu.


Namun takdir tak dapat memihak keduanya, karena ia hanya sebuah arwah yang di tugaskan untuk menjaga dan melindungi dari segala macam bahaya yang mengintai ketiga kembar tersebut.


********


“Aku benar-benar tak akan pernah mempercayai perkataanmu itu seperti membual, mana mungkin suamiku mempunyai anak darimu,” ucap Minerva dengan keras mengatakan penolakan yang di tuju untuknya bahwa ia tak akan mempercayai sebuah bayi yang berada di dalam kandungan istri simpanan suaminya itu.


“Aku tak peduli kau mau mempercayai perkataanku atau tidak, yang jelas suamimu lebih memilih menghabiskan waktunya denganku,” sahut Sherly tanpa menghiraukan ucapan yang terlontar dari Minerva.


Karena sangat terlihat jelas di mata Sherly secepatnya ia akan menjadikan istri sah dari Marco itu menjadi manekin cantik dari tubuhnya, untuk menemani beberapa korban manekin lain akibat ulahnya itu.


Guna bisa menyingkirkan dan menggantikan posisinya sebagai seorang istri dari Marco tersebut.


Tanpa menunggu lama lagi dengan gerakan cepat ia pun melancarkan aksinya, sebelum melumuri tubuh korbannya ia akan meminta orang suruhan untuk mencicipi tubuh molek korbannya yang terlihat tak berdaya di bawah kekuasaannya.


“Kalian semua bisa menikmati tubuhnya, kalau dia menolak memberikan tubuhnya siksa sesuka hati kalian,” perintah Sherly kejam tanpa perasaan itu yang selalu melekat di dalam dirinya.


Tanpa menunggu perintah dua kali suruhan dari Sherly itu pun melancarkan aksinya, salah satu di antara mereka bernafsu seperti binatang tak kala melihat sebuah tubuh mulus nan putih itu.


“Kau atau aku yang akan menikmatinya terlebih dahulu,” tawar orang suruhan Sherly.


“Mengapa tak kau dulu yang menikmati surga dunia itu?” tanya rekan suruhan Sherly. “Aku heran denganmu, biasanya kau terlihat sangat menggairahkan ketika berhadapan dengan korban. Lalu mengapa sekarang mengalah?” lanjutnya bertanya dengan mengejek.