
Angel yang mendengar itu pun, tak bisa menahan tawa yang hampir meledak. Bukan tanpa alasan, ia tak mengetahui perasaan, sang kakak. Akan tetapi justru dengan, gadis tomboi dingin itu yang membuat sang kakak bertekuk lutut tak berdaya.
Kak, kau itu bagaimana sih! Sudah tahu kalau, Araxi seperti itu. Seperti tak tahu sifatnya saja! Lagipula jika pun memang, dia ingin menolong hantu itu. Biarkan saja, dia melakukan apa yang ingin dilakukan olehnya, sebaliknya kau yang tetap menjaga dan menahan tubuhnya. Kau, tahu bukan, Kak di dalam kamar inap itu hanya ada dirimu seorang. Jadi aku meminta hal ini, supaya tak ada orang lain yang mengganggunya. Apa kau paham, Kak? Sudahlah mengobrol denganmu, membuatku gila!
Tanpa perasaan Angel pun memutuskan obrolannya dengan sang kakak tercinta, ditambah ia kini tengah berada di dalam mobil yang sedang di kendarai oleh Theo sahabat dari kakak kandung si kembar.
Namun tanpa Angel sadari, obrolannya dengan, sang kakak pun didengar oleh kedua kembar yang tengah berdiam membisu.
Bahkan keduanya pun sama-sama, memikirkan Araxi yang tetap nekat, dalam membantu hantu yang tengah ditolong olehnya.
Keduanya pun terpaksa memutuskan untuk bertelepati, agar tak ada seorang pun yang mengetahui perihal, obrolan mereka tentang, Araxi.
Albert, itu mengapa bisa melupakan yang satu ini, Lex? tanya Alexa pada Alex, sembari menggeleng kepala.
Bukankah itu sudah menjadi hal yang wajar menurutnya, ditambah dengan kondisi, Araxi yang masih belum pulih sepenuhnya. Jadi, dia yang wajar begitu posesif pada kakak sulung kita.
Alex pun demikian, tetapi ia benar-benar dibuat pusing kepala, dengan tingkah laku dari hantu tampan itu.
Bahkan, Albert melupakan satu kenyataan bukan, Araxi itu tak sesederhana yang aku pikir, Lex. Menembus kemampuannya pun, membuatku merasa tak sanggup, melawan kemampuan yang dimiliki oleh, Araxi.
Tak tega melihat kesedihan, yang dirasakan oleh kakak tengahnya, Alex pun menghibur kegundahan hati, Alexa.
Jangan bersedih ya, Sa. Biarpun, kamu tak bisa mengalahkan kemampuan, Araxi! Tapi yang aku pinta darimu, selalu kuat untuk berhadapan dengan para hantu itu. Apa kamu bisa melakukannya? Dan yang terpenting sekarang adalah, kita harus menyelamatkan, mama sebelum semuanya terlambat.
Mereka pun memutuskan telepati itu, menyisakan keheningan di dalam mobil yang sedang di tumpangi oleh keduanya.
Sampai sang kakak kandung tercinta itu pun membuka suara, agar ketiganya tak saling diam membisu. “Apa kalian berdua tak masalah membolos sekolah, sudah berapa hari tak masuk ke dalam kelas?” tanya Leonard pada kedua adik kembarnya.
“Hampir seminggu, Kak, kami tak masuk ke sekolah.” dengan penuh keberanian, justru Alexa yang menjawab pertanyaan dari sang kakaknya tersebut.
“Apa! Hampir seminggu kalian bertiga membolos begitu maksud kalian, hm!”
Menepuk keningnya sendiri, Leonard pun merasa gemas sekaligus dibuat heran dengan tingkah laku dari ketiga adik kembarnya ini. “Lalu apa, om Kevin juga yang membiayai kehidupan kalian selama ini?”
Lagi-lagi kedua adik kembarnya itu pun hanya bisa kompak mengangguk, bahwa mereka pun membenarkan soal, Kevin Morgan Adhitya yang selama ini membiayai kebutuhan mereka, dari sejak bayi sampai mereka tumbuh seperti sekarang ini.
Maafkan, papa dan juga, Kakakmu ini, ya! Kalian bertiga harus melewatkan banyak penderitaan yang harus kalian hadapi, tanpa adanya, kami berdua yang menemani masa tumbuh kembang. Sebagai penebusnya, kakak janji apa pun yang terjadi, sebisa mungkin aku akan melindungi kalian semua yang selama ini aku rindukan.
.
.
.
.
Jangan lupa ya ges dukung terus karya ini dengan
Like
Gift
Vote
Komen
See you next time
Love you