
Dengan patuh Ivone pun menceritakan pertemuannya pertama kali dengan sang mama, serta tidak lupa ia menceritakan semua hal tersebut pada sang papa.
Termasuk seseorang yang kala itu terlihat lebih dekat dengan sang mama di bandingkan dirinya sendiri.
“Siapakah gadis itu Pa?” tanya Ivone dengan sendu. “Dia terlihat sangat akrab dengan Mama, dibandingkan denganku yang sama sekali tak pernah diinginkan oleh Mama kehadiranku untuk hadir di tengah-tengah kehidupan kalian.”
Di cecar pertanyaan dari putrinya, Kevin pun tersenyum kecut. Bagaimana dia tidak mengetahui sebuah fakta yang sebenarnya itu merupakan pukulan berat yang harus di alami oleh putrinya tersebut.
Ya fakta bahwa seorang gadis yang lebih muda dari Ivone itu merupakan adik tirinya, satu ibu namun berbeda ayah. Tidak ada yang mungkin bagi Kevin untuk tak mengetahui hal sekecil ini pun ia bisa mengetahui.
Karena secara garis besar tak mungkin bagi Raymond Wesley Wiratmaja yang kini menjadi suami dari wanita yang melahirkan putrinya itu bisa menghamili Marista mantan istrinya tersebut.
“Mau janji sama Papa?” Kevin pun memberi tawaran untuk Ivone, agar ia siap menerima kenyataan yang membuat hati terluka.
“Katakan padaku siapa gadis kecil yang selalu menemani Mama,” desak Ivone cepat.
Sambil berdehem lalu berucap dingin. Kevin mengatakan semua kebenaran yang memang ingin di sampaikan oleh putrinya tercinta. “Gadis kecil itu adik tirimu. Sekarang kamu sudah tahu bukan, siapa gadis kecil yang selalu menemani dan lebih akrab dengan Mamamu! Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan sayang setelah mengetahui hal kebenaran ini?”
“Apa aku boleh bertemu dengan gadis kecil itu Pa?” pinta Ivone pada papanya tercinta.
“Sayang,” suara tegas datar milik Kevin memanggil putrinya. Mana kala dirinya mendengar permintaan dari putrinya untuk bertemu dengan adik tirinya itu. “Kenapa kamu ingin bertemu dengan gadis kecil itu?” tanya Kevin.
“Karena aku ingin mendengar cerita darinya tentang Mama. Apakah Mama selalu memperhatikan dan menyayanginya itu saja Pa permintaanku,” jawab Ivone dengan sorot mata berbinar-binar.
Kevin pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa putrinya itu selalu saja mau menerima sebuah luka yang tak seharusnya ia dapatkan.
“Kamu harus berjanji sayang apa bisa?” tanya Kevin.
“Bisa!” sahut Ivone cepat. “Memangnya apa yang Papa khawatirkan terhadap diriku?”
“Tidak ada sayang,” jawab Kevin berkilah. “Intinya bila kamu bertemu dengan adik tirimu. Kamu tidak boleh memperkenalkan diri tentangmu terhadapnya, karena Papa sangat tidak ingin putri Papa ini selalu bersedih.” Kata Kevin dengan penuh kelembutan untuk bisa memahami perasaan yang selalu di pendam oleh putrinya tersebut.
“Ya sudah kalau begitu Pa, aku mau tidur di sini saja. Kalau pulang nanti Papa bisa membangunkanku,” ucap Ivone sembari melepaskan dekapan dari sang papa tercinta.
Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus, menandakan ia memejamkan matanya untuk memasuki alam mimpi.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini sayang. Papa tahu kamu selalu menginginkan sebuah kasih sayang yang tidak pernah kamu rasakan. Andai saja dulu Papa tak pernah menikahi Mamamu, hidupmu tak akan seperti ini.” Gumam Kevin lirih sembari tak lupa mencium kening putrinya yang tengah tertidur pulas membuat dirinya menggemaskan dimata Kevin.
Selang tak lama kemudian Kevin beranjak dari kamar di ruangan pribadi miliknya itu, untuk berbicara dengan Andra. Hanya pada sahabatnya ia bisa membagi keluh kesahnya dibalik sikap dinginnya itu.
Duduk di kursi kebesaran miliknya sembari mengetuk-ngetuk meja kerja dengan jari telunjuk sambil membayangkan pertemuan antara putrinya dengan seorang gadis remaja yang beberapa kali sudah di lihat oleh putrinya itu.
“Ada apa kau memanggilku Vin?” tanya Andra.
“Bagaimana Ivone bisa bertemu dengan wanita iblis itu Ndra?” jawab Kevin acuh.
Mengabaikan pertanyaan dari sahabatnya tersebut.
“Aku sendiri tak tahu Vin, akan tetapi menurut laporan dari mata-mata yang mengawasi putrimu. Sepertinya laporan itu sangat akurat, kau tahu bukan saat ini kita selalu menyembunyikan sebuah fakta.” Andra menjelaskan laporan yang ia dapatkan secara rinci tentunya tak lupa dengan ekspresinya menjadi diri bila bersangkutan dengan seseorang yang sangat Andra benci.
“Kau tahu Ndra, Ivone sangat ingin bertemu anak dari wanita iblis itu dengan alasan ingin mengetahui cerita tentang Mamanya. Jika saja wanita iblis itu tak menelantarkannya sejak bayi, aku tak akan pernah sekecewa ini terhadapnya,” ucap Kevin yang selalu membagi keluh kesahnya pada Andra.
Tentu saja baik Andra maupun Kevin, mereka sangat mengetahui latar belakang dari seorang gadis remaja yang tak lain anak dari wanita iblis itu.
“Apa maksudmu Ndra,” beo Kevin.
“Ayolah Vin, aku tahu kau itu sangat tidak bodoh atau pura-pura bodoh. Kau pastinya sangat tahu bukan latar belakang anak dari wanita iblis itu,” gerutu Andra kesal.
Bisa-bisanya Kevin berpura-pura bodoh. Ingin sekali Andra menggeplak kepala sahabatnya itu. Mengapa bisa Kevin melupakan hal penting seperti sekarang ini.
“Cih, sembarang kau kalau bicara. Aku sumpal mulutmu itu Ndra,” ucap Kevin dongkol. “Bagaimana bisa aku melupakan satu hal ini. Oh itu tidak akan pernah terjadi, ingat itu Ndra. Aku Kevin Morgan Adhitya bersumpah akan mengungkapkan kebenaran tentang wanita iblis itu di depan mata kepala Raymond.” Janji Kevin dengan penuh tekad bulat.
‘Aku sangat tak yakin hal itu Vin. Mengingat Raymond masih mempunyai seorang putra lagi. Di tambah lagi dengan kondisi tubuhnya yang kini, tak mungkin bisa bagi seorang Raymond tak mengetahui akal busuk dari wanita yang kau sebut iblis itu. Karena menurut laporan dari beberapa mata-mata yang aku tugaskan memantau dan mengawasi, sepertinya wanita iblis itu telah menuai apa yang telah menjadi konsekuensinya merebut dan menghancurkan kebahagian dari keluarga Raymond.’
Kembali lagi pada sebuah tempat, di mana terdapat seorang gadis tomboi yang tengah berbicara dengan makhluk tak kasat mata tersebut. Beranjak dari tempatnya berdiri meninggalkan sesosok makhluk tak kasat mata itu dengan tatapan yang aneh.
Tanpa Araxi duga sesosok tersebut mengikuti langkah kakinya, hal tersebut membuatnya kesal karena ia sama sekali tak merasa nyaman bila diirinya di ikuti oleh sesosok makhluk tak kasat mata.
Bahkan Albert sendiri itu pun sangat tak berani mengikuti langkah kakinya terlebih jauh, setelah menyelesaikan urusannya dengan para arwah penasaran. Ia akan selalu ditinggalkan sendiri oleh Albert tanpa perlu ada yang di khawatirkan.
“Hai ada perlu apa? Bahkan kau pun mengikuti langkah kakiku?” tegur Ara dingin.
Dengan bertelepati pada sesosok tersebut yang mengikuti dirinya.
.
.
.
.
.
mohon maaf ya readers hari ini segini dulu ya untuk up nya
besok aku usahain up sesuai yang kalian minta
jika ada yang ingin masuk ke dalam gc ku silakan follow aku dulu ya
ingat jangan lupa
like vote/gift komen
thanks you so much
see you next time
love you more