
“Jika Tuan mendekat, kami tidak akan segan-segan membunuh mereka.”
“Bunuh ya bunuh saja, kalian ini sudah lama mengikutiku. Tapi kenapa bisa takluk pada mantan istriku?”
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan dari mantan Tuan mereka, namun tiba-tiba Kevin memberi mereka penawaran serta tak lupa uang untuk membuat mereka menutup mulut dengan kejadian yang mereka alami.
“Baiklah kita bernegosiasi saja bagaimana?” tawar Kevin.
Ketiganya pun saling berbisik untuk mendiskusikan penawaran yang sedang Tuannya lakukan.
“Baiklah Tuan, kami ingin Anda memberikan nominal yang sangat tidak banyak untuk uang tutup kami,” ucap rekan dari penculik bayi itu.
“Andra, kau yang mengurus permintaan mereka. Kalau perlu jual setengah saham perusahaan milikku untuk menutup mulut mereka, dengan syarat mereka harus membuat rekayasa seolah-olah mereka kecelakaan dan juga buatlah kematian para bayi itu.” Perintah Kevin tegas. “Apa kalian siap melakukan apa yang aku minta?”
Setelah itu Kevin dan Andra pun berhasil menyelamatkan ketiga bayi kembar tersebut, dan Andra meminta pada Kevin untuk menyembunyikan keberadaan mereka di sebuah tempat desa yang mempunyai aura mistis.
Sedangkan di rumah sakit saat Albert dan Angel akan menjenguk Ara, Alexa, dan juga Alex secara tidak sengaja mereka terkejut mendapati tempat ketiga bayi kembar itu dalam keadaan kosong.
“Angel bagaimana bisa mereka hilang?” tanya Albert dengan raut wajah sulit di artikan.
“Entah Kak, aku sendiri pun tidak tahu,” jawab Angel acuh. “Atau jangan-jangan sengaja ada yang sudah merencanakan penculikan mereka?”
Tanpa menjawab perkataan dari Angel, seketika Albert menggunakan kekuatan miliknya untuk mencari keberadaan ketiganya.
Alangkah terkejutnya Albert mendapati saat mendapati mereka yang tengah di selamatkan oleh seorang pria yang pernah ia datangi.
Melihat Kakaknya tiba-tiba menghilang, dengan gerakan cepat Angel pun mengikuti ke arah di mana tempat ketiganya itu berada.
Albert pun terkejut mendapati seorang pria yang merupakan mantan suami dari wanita iblis itu, telah berhasil menyelamatkan bayi yang di lahirkan oleh Siska.
Tanpa membuang waktu banyak Albert pun merasuki tubuh seorang pria yang berdiri tak jauh darinya.
“Apa kau yang menyelamatkan mereka?” tanya Albert to the poin jangan lupakan sorot mata yang datar nan dingin.
“Apa maksudmu Ndra?” sahut Kevin bertanya balik.
“Kau tak perlu khawatir, aku hanya meminjam tubuh rekanmu untuk bisa berbicara denganmu. Kau tak perlu bertanya tentang siapa aku, yang jelas aku menginginkan ketiga bayi untuk aku jaga dan lindungi. Kau pasti sangat tahu bukan kecelakaan kedua orang tuanya itu memang sudah di rencanakan.” Jelas Albert secara detail yang tengah merasuki Andra.
Berdehem Kevin pun tanpa berbasa-basi mempertanyakan perihal kayu jati yang tengah ia dapatkan dari laporan suruhan Andra.
“Kalau boleh tahu kenapa mobil Raymond bisa menjadi rem blong secara tiba-tiba? Bahkan aku mendapat laporan dari mereka menemukan sebuah kayu jati yang masuk ke dalam bagian mobil tersebut,” tanya Kevin.
“Simpan bukti tersebut, kau jangan khawatir dia tidak akan bisa kembali ke pemilik yang mengirim ke mobil itu, karena aku yang menahannya.” Kata Albert seraya menatap ke arah ketiga bayi tersebut dengan tenang. Karena ia merasa lega Ara, Alexa, Alex berhasil diselamatkan.
Setelah berkomunikasi dengan Kevin, kemudian Albert pun keluar dari tubuh yang ia rasuki untuk mengikuti dua orang yang tengah berusaha menyembunyikan ketiga bayi kembar tersebut di sebuah tempat desa yang memiliki aura yang mistis.
FLASHBACK OFF
Lamunan Andra di kagetkan oleh suara cempreng dari arah pintu yang tengah di masuki oleh putri dari Kevin, yang tengah datang ke kantor papanya tercinta. Untuk memintanya mengantarkan dirinya ke suatu tempat.
“Om Andra,” suara cempreng nan manja itu membuyarkan lamunan Andra.
“Hai cantik kamu datang kemari dengan siapa dan juga naik apa?” sapa Andra pada seorang gadis cantik, yang tak lain putri kesayangan dari Kevin Morgan Adhitya.
“Aku datang dengan sopir Om, habisnya aku bosan berada di mansion,” adunya dengan mengerucut kesal. “Papa ke mana ya Om?”
“Papamu sedang istirahat di kamar ruangannya. Apa kamu ingin menemuinya?” tanya Andra. “Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?” tebak Andra.
“Aku kangen sama Alexa, sudah lama tidak menjenguk Alexa ke sana. Aku juga ingin di antar ke sana dengan Papa, bukan denganmu.” Sahut gadis itu ketus, serta tidak lupa ia menghampiri Papanya tercinta yang beristirahat setelah bekerja keras demi anak gadisnya yang sudah dewasa itu.
Sementara itu di tempat Ara yang baru saja selesai menikmati semangkok mi ayam itu, tiba-tiba saja sorotan matanya mendingin. Setelah ia secara tidak sengaja melihat cuplikan kejadian 17 tahun yang lalu, di mana saat itu ia dengan kedua saudara kembarnya harus di lahirkan akibat sebuah kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya.
Hingga menyebabkan mamanya menghembuskan napasnya setelah sang mama berhasil menggunakan kemampuan terakhirnya untuk menyelamatkan dirinya dengan dua saudara kembarnya itu.
‘Jadi itu yang sebenarnya terjadi ya? Sekarang aku harus memastikan sesuatu’ gumam Araxi lirih.
Dengan tergesa-gesa kemudian Ara pun beranjak dari tempatnya duduk setelah membayar pesanan yang tengah ia nikmati.
Tanpa memandang ke arah semua orang, yang tengah menatap aneh ke arah dirinya.
Hingga tanpa Araxi sadari, ia pun tengah di ikuti oleh seorang perampok yang berusaha merampok dirinya. Yang mana saat itu ia tengah menikmati semangkok mi ayam.
Araxi pun baru menyadari sesuatu saat di tempat yang sepi tanpa ada seorang pun yang berani melintasi tempat sempit tersebut.
Dari tempat itu para perampok itu menghadangi langkahnya yang mana Ara pun merasa tak takut sedikit pun dengan beberapa orang yang menghadang langkahnya.
“Serahkan semua barang yang kau punya pada kami, kalau tidak kau tak akan ...”
“Tak akan apa!” Sahut Ara dingin.
Salah satu di antara mereka pun saling berbisik. Sungguh tak menyangka mereka bisa menghadang seorang wanita cantik meskipun penampilannya seperti pria.
“Sudah puas bisik-bisiknya,” tegur Ara datar. “Apa kalian pikir bisa menangkapku? Langkahi dulu mayatku?”
Dengan gelap mata para perampok itu menyerang Ara seorang diri, namun pandangan mata Araxi yang dingin itu secara tak sengaja menangkap sesosok makhluk tak kasat mata yang terlihat marah itu menatapnya, dengan sorotan mata yang tajam.
‘Hai kau, aku minta maaf telah membuatmu merasa tak nyaman. Karena aku hanya ...’