
Theo yang sedari tadi menonton pun tak bisa berbuat apa-apa, sehingga dia mulai menggumamkan sesosok yang biasa menjaga dan melindunginya itu.
Apa yang harus aku lakukan, meskipun aku dapat melihat wujudnya secara nyata, tetapi rasa takut itu terus menyergapku. Benar-benar pilihan yang sangat sulit untuk diriku ini Kek.
Namun sedetik kemudian ia bisa mendengar suara sesosok yang sangat ia kenal, tetapi Theo tak dapat melihat wujud asli dari sesosok tersebut.
“Kalau kau ingin melihat wujud asliku, tentukan yang menjadi pilihanmu itu. Apa kau tak merasa kasihan melihat keadaannya? Jika tak segera di selamatkan, bisa-bisa nyawanya meregang di tempat.” Bisiknya tepat di belakang telinga Theo, tanpa harus menunjukkan wujudnya itu.
Untuk membuktikan sebuah janji yang pernah terucap, dengan tekad yang bulat Theo pun mencoba melawan rasa ketika berhadapan dengan makhluk dari dunia lain.
Menghampiri seseorang yang tengah berjuang melepaskan diri, sembari menahan sakit yang sangat menyiksa akibat gigitan jenglot tersebut tak main-main.
Semakin dekat jarak langkah kaki Theo, tanpa sadar jenglot tersebut tak memperhatikan pergerakan dari seseorang yang tengah menghampirinya.
Tepat di depan Theo tanpa ia sadari tangannya bergerak dengan sendiri, untuk menangkap makhluk tersebut.
Alexa yang menonton itu terkejut bukan main, saat melihat Theo yang dengan gampang menangkap makhluk yang meresahkan warga desa itu, tanpa mengalami luka di tubuhnya.
Ini tak mungkin! Bagaimana dia bisa menangkap makhluk kecil itu tanpa terluka? Sebenarnya dia siapa? Aku merasa dia mempunyai kemampuan melihat para hantu itu. Batin Alexa yang sangat heran dengan kemampuan yang dimiliki oleh Theo.
Seorang pria yang membuat Alexa jatuh cinta pada pandangan pertama, sejak pertama kali netra matanya bertabrakan dengan pria itu.
Theo yang menggenggam jenglot itu tanpa takut. Karena ia merasa mendapat sebuah keberanian sejak berhasil melawan rasa takut, saat Theo berhadapan dengan beberapa makhluk tak kasat mata.
“Sekarang kau bisa melawan rasa takutmu itu, tanpa harus berpura-pura kembali saat nanti kau berhadapan dengan beberapa arwah hantu di setiap pertemuanmu.” Kata sesosok yang menjaga Theo. “Sekarang aku pergi terlebih dahulu, tenang saja aku pasti akan datang kembali untuk menceritakan semua tentangmu yang berhubungan dengan mendiang Kakekmu itu.”
*****
“Apa kau tak ingin mengenalkan pria tua ini padanya Sis?” tanya pria tua itu sembari menegur Mamanya tercinta.
Dengan senyum malu Mamanya tersebut sedikit meringis, tanpa sadar ia menyungging senyumnya di balik tatapan wajah dingin itu. “Tak perlu bertanya dengan Mama Kek. Karena aku sudah mengetahui bahwa engkau pasti Kakekku. Aku benar bukan?”
Kakeknya itupun tertawa terbahak-bahak, ia sangat senang bisa bertemu dengan cucunya tercinta. Untuk mengobati kerinduannya pada putranya tersebut.
“Kau pasti telah melewati banyak hal bukan, bahkan kau bisa sampai ke tempat ini. Karena tiba-tiba kau di serang oleh sesosok makhluk kecil saat berada di desa sunyi benar begitu Ra? Sehingga kau sedikit kehilangan banyak darah, tetapi bukan berarti kau waktunya pergi. Belum saatnya Kakek maupun Mamamu, membawamu ke tempat itu.” Dengan raut wajah yang serius, Kakeknya tersebut memberinya penjelasan yang membuat Araxi sedikit memahami keinginan besar Kakeknya itu.
“Karena ada hal yang harus kau lakukan di sana. Selamatkan juga Papamu dan juga Kakakmu dari neraka itu, sebaliknya Kakek merasa bisa merasa senang kau mempunyai kemampuan yang sama dengan menantuku ini. Karena Kakek sampai kapanpun tak pernah merestui pernikahan mereka, kau pasti bisa melihat peristiwa itu bukan Ra!” Kakeknya itupun melanjutkan dan menjelaskan semua yang telah terjadi di antara keluarga besarnya tersebut.
Penjelasan yang di katakan oleh Kakeknya itupun dapat di pahami, Araxi tak menyangka kehidupan Papanya sekarang begitu sangat menyiksa. Dan ia bisa melihat dengan jelas di dalam gambaran yang ia lihat dengan kemampuannya itu, wanita yang kini menjadi istri dari Papanya itu mempunyai aura yang sangat berbahaya.
Namun sedetik kemudian Araxi dapat melihat tubuhnya terbaring di atas brankar rumah sakit dengan sesosok Albert yang tengah melu’mat bibir pucatnya itu, akan tetapi ia sendiri tak bisa meresponsnya luma’tan dari Albert.
Karena jiwanya tengah bertemu dengan mendiang Mama dan juga Kakeknya tercinta, dan kejadian itu membuatnya sangat kesal dengan tingkah laku yang di lakukan oleh Albert.
Mengingat ia benar-benar marah dengan Albert yang dengan terang-terangan mencuri ciuman pertamanya, dan dengan tatapan dingin itu ia harus bisa menutup wajah merah meronanya.
Agar Mamanya tersebut tak mencurigai kelakuan Albert yang telah menciumnya, saat dirinya dalam keadaan masa kritis.
.
.
.
.
.
Sudah up lagi ya ges
Aku juga bawa karya temenku nih
Yuk mampir ya 😚😚
See you next time
Sekian terima gaji
Love you all