
Kening Albert mengerut saat penuturan dari pocong tersebut. “Dari mana kau bisa mengetahui hal itu?” tanya Albert dingin.
“Aku menghilang sebentar saat ada di mobil. Karena aku sedang memastikan sesuatu, saat sampai ke tempat itu. Aku tak melihat makhluk tersebut, bahkan ia bisa terbebas dari kurungan itu!”
“Maksudmu kurungan es itu kah?” tanya Angel yang merasa heran.
Pocong tersebut pun mengangguk kepala, “Benar ... Karena ada Tuannya yang melepas kurungan yang mengurung jenglot itu.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku tak ingin jenglot itu mengincar mereka juga,” ujar Angel.
“Satu-satunya cara ialah mengalah si pemilik makhluk tersebut. Dan juga kemungkinan yang diincar hanyalah darah yang sangat langka, aku tak menduga Araxi yang ditandai oleh Tuannya.”
“Jadi kita harus kembali ke desa itu?” sahut Albert sembari berpikir. “Aku tak yakin bisa melawan makhluk itu, mengingat ia bukan tandinganku.”
“Lebih baik kita bicarakan ini dengan Alexa dan Alex!” saran Angel. Yang di setujui oleh pocong tersebut.
Di dalam ruangan operasi dengan Araxi yang terlelap di atas brankar, terdapat dua saudara kembarnya yang tengah berjuang mendonorkan darah untuk dirinya.
Namun darah ditubuhnya benar-benar sangat langka, sehingga dokter Arif yang menanganinya angkat tangan.
“Bagaimana keadaannya dok?” tanya Alexa dan Alex dengan kompak.
“Darah di dalam tubuhnya benar-benar langka, berbeda dengan kalian masih sama. Hanya saja si pasien masih butuh beberapa kantong darah untuknya. Apa masih ada keluarga lain?” jawab dokter Arif sembari balik bertanya.
Alexa dan Alex pun kompak menggeleng, bukan karena tak mau mengatakan pada dokter tersebut, akan tetapi mereka benar-benar menjaga rahasia tersembunyi tanpa orang lain tahu.
“Sebaiknya kalian harus segera mencari darah itu, agar kembaran kalian dapat melewati masa kritisnya.” Dokter Arif pun dengan tegas memerintahkan Alexa dan Alex untuk mencari beberapa kantong darah, agar Araxi bisa melewati masa kritisnya.
Tanpa berpamitan dengan cepat mereka pun keluar dari ruangan tersebut, yang disambut pertanyaan dari Ivone yang mana mereka setia menunggu keadaan Araxi.
“Bagaimana apa kalian berhasil mendonorkan darah pada Araxi?” tanya Ivone yang menghampiri Alexa.
“Masih kurang beberapa kantong Kak. Bahkan darahku dan Alex tak cukup untuk menolongnya dari masa kritisnya,” jawab Alexa sendu.
“Aku tak tahu Kak. Hanya mendiang Mama yang mengerti keadaan kita.”
Kevin yang sedari tadi diam pun membuka suara, menawari bantuan untuk mencarikan pendonor tersebut, “Apa kalian ingin dicarikan pendonor untuk Araxi?” tawar Kevin yang membuka suara.
Saat Kevin akan membuka suara kembali, tiba-tiba Theo yang hanya diam menyimak pun menyahut obrolan mereka. “Bagaimana kalau saya ikut membantu mereka Om?” sahut Theo yang menyela obrolan itu.
“Apa kau tak keberatan? Bukankah seharusnya kau bekerja di tempatmu itu, mengingat aku sangat mengenal betul seperti apa peringai dari Leonard!” tolak Kevin halus.
“Ini tak ada hubungannya dengan Leonard Om,” ucap Theo datar. “Aku datang kemari juga atas perintah dari Ayah.”
Perdebatan keduanya pun dengan cepat dilerai oleh Alexa, “Sudahlah Om biarkan saja. Yang penting Araxi harus segera mendapatkan darah itu.”
Dengan mengalah terpaksa Kevin menuruti permintaan dari Alexa. “Baiklah Om kalah denganmu.”
Saat akan membuka obrolan kembali, Alexa tanpa sengaja memanggil Angel untuk datang menemuinya, dan meminta bantuan Angel. Serta tak lupa pocong yang melindunginya itu.
.
.
.
.
.
Yuk jangan lupa kopi sama kembangnya ya
See you next time
Love you all