
“Jangan harap aku berbaik hati pada, bahkan sampai matipun. Kau tak akan pernah bertemu dengan mereka.” (Marista Mayang)
.
.
.
.
.
Karena sejatinya ia tak ingin terus-terusan menyembunyikan rahasia tersebut, bahwa ketiga adik kembar Leonard pun sangat dekat dengan dirinya.
“Memangnya apa yang telah terjadi pada keponakan anda Tuan?” Leonard pun kembali bertanya. Karena ia harus memastikan sesuatu yang sedang mengganggu hati dan pikirannya.
Ivone yang sedari tadi hanya diam menyimak membuka suara, dengan mewakili jawaban dari Papanya. “Apa yang ingin kau tahu dari keponakan Papaku? Apa kau harus perlu tahu tentangnya!” hardik Ivone dengan nada cetus.
Kevin yang sedang melamun pun tersedak, saat mendengar cetusan dari putrinya tercinta. “Sayang, mengapa kamu bisa bercetus begitu hm?” tanya Kevin dengan nada lembut.
“Aku kesal dengannya yang tiba-tiba datang dan bertanya keadaan Araxi, bahkan Araxi pun tak mengenal dekat dengannya.” Dengan polos Ivone sedikit tak mengerti sebuah rahasia tentang ketiga kembar yang selama ini tertutup dengan rapi oleh Papanya tersebut.
“Astaga sayang kamu kenapa sensitif jika ada yang membicarakan Araxi. Bukankah kamu tak terlalu menyukai sikapnya yang dingin itu hm?” kata Kevin yang selalu sabar dengan tingkah lakunya putrinya tersebut. “Sudah ya sayang, jangan begitu lagi. Biarpun mereka tak saling mengenal, bukankah bagus jika kamu ada yang menemani mengobrol saat Papa mencari darah Araxi.”
Namun saat akan membuka suara alangkah terkejutnya Ivone mendengar nada suara yang sangat familier diingatannya, suara tersebut mengingatkannya pada seorang sahabat saat ia duduk dibangku sma.
Seketika ingatannya tertuju pada dua sahabat prianya, yang mana salah satu sahabatnya di anggap aneh oleh teman-temannya dulu.
Untuk memastikannya dengan terpaksa Ivone bertanya pada seseorang yang tengah menatapnya itu. “Hei kau apa datang untuk sahabat gilamu itu,” tanya Ivone sambil memastikannya.
“Sahabat gilaku ya?” jawab Leonard dengan membeo.
Tentunya Leonard sendiri pun tak menyangka bisa bertemu dengan sahabat semasa bangku sma dulu, bahkan dulu ia dianggap gila karena mau bersahabat dengan Theo yang notabenenya adalah seseorang yang sangat spesial dan istimewa dihatinya.
Karena Theo mengingatkannya pada mendiang mama tercinta, yang mempunyai kemampuan dapat melihat makhluk tak kasat mata, sejak itulah Leonard bertekad akan tetap menjadikan Theo sahabatnya.
Dengan terkekeh pelan Leonard tak menggubris perkataan yang terlontar dari sahabatnya atau lebih tepatnya adik tirinya. “Kau masih mengingatku?”
“Tentu saja aku masih mengingatmu dengan jelas, kau dan Theo sama-sama gila!” sahut Ivone ketus.
Leonard pun tak percaya sahabatnya ini sama sekali tak pernah berubah, selalu saja seperti ini jika bertemu dengannya. “Apa kau tahu di mana Theo berada?” tanya Leonard to the poin.
“Aku sudah bertemu dengannya beberapa jam yang lalu, saat dia tiba-tiba datang dan membawa Araxi ke rumah sakit ini.” Jawab Ivone lirih. “Seingatku dia tiba-tiba mengikuti langkah Alexa dan Alex yang saat itu berpamitan keluar. Bahkan aku dan Papaku yang menjaga kembarannya di sini.”
Kevin yang mendengar hal tersebut, hanya bisa menggeleng kepala. Akan tetapi sedetik kemudian, ia harus segera membicarakan hal ini pada putra rekan bisnisnya yang tak lain Kakak kandung dari ketiga kembar tersebut. “Jadi dia juga sahabatmu?” tanya Kevin dengan sengaja menimbrung.
“Sudah tak apa sayang. Lagi pula dia sama sekali tak menahu tentang hal ini. Ngomong-ngomong bisakah kamu menjaga Araxi untuk Papamu?” pinta Kevin dengan bertanya. “Ada yang harus Papa bicarakan dengannya.”
Dengan patuh Ivone pun membiarkan Papanya membawa Leonard keluar, tentunya Kevin sengaja membawanya ke tempat sepi untuk memulai obrolan yang sangat ingin sampaikan tersebut.
Sementara itu di lain tempat di sebuah mansion terdapat seorang wanita paruh baya, tentunya wanita tersebut tak menerima saat orang yang telah menjadi suaminya itu tak bisa memberikan kebutuhan batin seperti yang ia inginkan.
Hal tak terduga saat makan malam berlalu, ia harus bertemu dengan seorang pria yang pernah menjadi mantan suaminya.
Bahkan mantan suaminya tersebut membawakan seseorang yang sangat ia benci itu, karena sejak ia melahirkannya sama sekali tak ada didalam hatinya menganggapnya sebagai darah dagingnya sendiri.
Karena baginya ia hanya ingin melahirkan darah daging dengan darah di tubuh seorang Raymond, akan tetapi kejadian tak terduga sampai saat ia masih marah sekaligus kecewa, bahwa ia menikahi seorang pria yang cacat yang tak bisa memberinya keturunan.
Namun dengan peringainya yang terkenal licik itupun mampu memanipulasi dna yang sengaja ia tukar, agar ia bisa leluasa bersanding dengan pria yang menjadi suaminya meskipun pria itu cacat sekalipun tak membuatnya mundur.
Untuk memastikan bahwa ketiga kembar anak dari putranya telah mati itu, ia harus meminta bantuan dukun yang membantu mendapatkan pria tersebut, untuk melacak dan memastikan sesuatu yang mengganggu pikirannya kini.
Mengambil ponsel pintarnya sembari jemari lentiknya Mendial sebuah nomor anak buahnya, guna membantu pergi menemui dukun tersebut.
“Apa kau bisa mengantarku ke tempat biasa aku berkunjung,” tanya Marista to the poin begitu panggilan tersambung.
“Ke mana Nyonya akan berkunjung?” jawabnya dengan balik tanya.
“Seharusnya tanpa bertanya kau sudah paham ke mana arah yang menjadi tujuanku berada,” hardik Marista dengan cetus. “Bagaimana dengan penyelidikanmu dengan rekanmu itu! Apa kau berhasil menemukan petunjuk tentang mereka?”
.
.
.
.
.
Yuhu ges sudah up lagi
Tetap dukung karya receh ini ya
Dengan memberi gift sebanyak yang kalian mau
See you next time
Love you