
Sementara itu di tempat penyekapan terjadi perkelahian yang tak seimbang. Mengingat Alex tak bisa mengimbangi kekuatan yang ada di dalam diri makhluk pesugihan yang terus menyerangnya.
Sampai harus membuat energi di tubuhnya terkuras habis, dan menyebabkan kemarahan sesosok yang berdiam diri di dalam raganya. “Apa perlu aku yang membereskannya?”
“Tidak perlu, biarkan saja,” ucap Alex acuh. “Ini urusanku, biarkan aku sendiri yang menanganinya, dan juga aku tak suka kau mencampurinya.”
Alex sengaja berkata demikian mengingat ia benar-benar tak suka jika ada yang mencampuri urusan pribadinya.
Akan tetapi sesosok itu tak mengidahakan peringatan dari Alex karena ia sendiri terlalu membenci kekacauan yang dibuat oleh manusia.
***
Raymond yang berada di tempat persembunyiannya itu pun terlihat menggeram marah ketika melihat ank-anaknya melawan makhluk meresahkan itu.
Kenapa aku bisa semarah ini? Apa ini artinya aku telah menerima mereka sebagai bagian kehidupan yang sekarang? Aku harap secepatnya nanti iblis itu harus dimusnahkan! Mengingat ia datang karena mengejar cinta yang selama ini ku tolak.
Tekad Raymond atau yang disebut sebagai raja kegelapan alias demon harus berhadapan langsung dengan iblis wanita tersebut.
Untuk menghilang rasa kecemasan yang melanda hatinya. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas untuk menghubungi Sean, dan menyuruhnya datang menemui dirinya.
Secara tak langsung tempat persembunyiannya diketahui oleh Sean, asisten sekaligus sahabatnya sendiri.
Tak membutuhkan waktu yang lama, kini kedua orang tersebut sama-sama berdiam membisu, dengan Sean yang terlihat begitu kecewa pada dirinya. Namun, ia sendiri tak memedulikan rasa kecewa yang ada di dalam diri sang sahabat karena, ia begitu yakin alasan pemilik tubuh asli sebelumnya menutup semua rahasia agar istri kedua yang tak lain iblis tak mengetahui perihal jati dirinya.
“Aku tahu kau sangat kecewa denganku tapi ....” belum sempat meneruskan perkataannya itu. Tiba-tiba Sean menyela dan sedikit curiga dengan tingkah lakunya.
“Apa maksudmu, Ray? Dan juga siapa kau? Kenapa tingkah lakumu berbeda. Aku merasa kau lebih dingin dari yang ku kenal.”
“Aku belum selesai bicara kau sudah menyelanya. Bukankah itu sangat tak sopan?” Raymond tanpa ragu memberi Sean peringatan untuk tak menyela perkataan yang sedang ia lontarkan itu.
Raymond menceritakan semua yang ada di dalam ingatan pemilik tubuh asli, dan meminta Sean menjaga rahasia yang hanya ia dengan asistennya mengetahuinya.
“Jadi maksudmu pemilik tubuh yang tempati itu, memintamu untuk menjaga tubuhnya begitu?” Sean memberanikan diri bertanya pada Raymond yang tak lain raja demon yang menempati tubuh milik sahabatnya.
“Apa kau keberatan?” Raja iu memberi pertanyaan balik yang ia ajukan pada pria yang duduk bersebelahan dengannya.
“Siapa yang keberatan, Ray,” jawab Sean dengan kesal. “Justru aku sangat senang kau memintaku untuk melakukan apa yang kau minta.”
Tak lama kemudian selain membahas permintaan Raymond. Keduanya pun juga membahas hal lain. Terutama pekerjaannya yang beberapa minggu ini tak disentuh mengingat ia selalu menghindari wanita iblis tersebut.
“Sepertinya kau harus terbiasa di atas kursi roda yang selama ini dipakai olehmu.” Tak lupa Sean juga memberinya peringtan karena hanya ia sendiri yang mengetahui rahasia besar dari sang sahabat.
Tak mengidahkan peringatan dari Sean, justru Raymond begitu tenang sambil di tangannya itu menggenggam segelas wine kesukaan pemilik tubuh asli.
.
.
.
.
.