
“Saya ingin melakukan tes DNA dengannya dok. Apa bisa?” tanya Leonard sambil memastikan sesuatu. “Dan juga tolong rahasiakan hal ini pada pamannya yang ada di depan.”
“Baik akan saya lakukan, akan tetapi anda harus bersabar mengingat hasil dari tes ini sekitar seminggu lamanya, kalau anda ingin cepat-cepat bisa anda lakukan di rumah sakit besar. Karena alat rumah sakit di sini tak seperti rumah sakit besar yang ada di kota.” Dokter Arif pun menjelaskan semua prosedur dari tes DNA itu, sehingga Leonard dengan terpaksa menyetujuinya.
Mengingat dirinya melakukan hal ini secara sembunyi-sembunyi, agar pada saat nanti ibu tirinya tak bisa semena-mena terhadap kehidupan pribadinya.
Setelah Leonard mendonorkan darahnya, ia pun meminta izin pada dokter tersebut. Untuk mengobrol sedikit dengan pasien yang tengah menerima darah dari tubuhnya. “Dok apa saya bisa di sini sebentar?”
“Silakan, kabari saya jika pasien sudah sadar. Saya Pamit undur diri.” Pamit dokter sambil membereskan peralatan yang berserakan.
Kemudian Leonard pun beralih menatap wajah pucat tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan. Tentunya ia sendiri tak menyangka bisa bertemu kembali dengan seorang yang pernah ia anggap sebagai pria.
“Wajah ini mengapa begitu mirip dengan Papa? Apa kau salah satu dari ketiga adik kembar yang tujuh belas tahun hilang di telan bumi? Jika itu benar maka aku tak akan melepaskanmu lagi, tidak dulu dan sekarang kalian harus kembali ke pelukanku!” gumam Leonard bertekad.
Jika memang Araxi adik yang selama ini ia cari, ia berjanji akan menjaga dan melindunginya seperti janjinya dulu pada mendiang Mamanya tersebut.
Mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian ia membidik kamera ke arah seseorang yang tengah terbaring lemah itu, dengan mengirimkan hasil bidikan yang pas ke nomor ponsel milik Papanya tercinta.
Sambil menulis sebuah caption untuk Papanya [“Itu adalah hasil dari pikiran dan perasaan resahku Pa.”] klik pesan tersingkat itu pun terkirim ke nomor ponsel Papanya tersebut.
Sementara itu di sebuah gedung kantor dengan berakhirnya sebuah rapat yang di pimpin oleh Raymond itu, meminta Sean untuk mengantarkan ke tempat ruangan pribadinya.
Namun ia terus merahasiakan hal tersebut, dari siapa pun. Hanya Sean yang mengetahui keadaan aslinya.
Setelah masuk ke dalam sebuah kamar yang ada di ruangan kerjanya, Raymond pun beranjak dari kursi roda miliknya sembari berjalan ke arah lemari pendingin, untuk mengambil sebuah minuman kesukaannya.
Sejak kehilangan seseorang dalam hidupnya, Raymond benar-benar menjadi pribadi yang lebih dingin, untuk menutupi kesedihan yang melanda hatinya.
Akibat kejadian tujuh belas tahun yang lalu, membuatnya merasa bersalah pada dirinya yang tak dapat menyelamatkan istri tercinta dari maut.
Bahkan ia juga harus kehilangan ketiga anak kembarnya yang baru lahir saat itu, tentunya semua itu telah di rencanakan oleh seseorang yang kini menggeser posisi mendiang istri tercintanya.
Sampai kapanpun kau tak akan pernah mampu menggeser posisinya dari hatiku, meskipun kau dapat memiliki raga ini. Akan tetapi hati ini hanya untuk Siska Winata Wiratmaja.
Lamunan buyar saat ponsel miliknya bergetar, menandakan ada sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel tersebut.
Begitu melihat nama yang tertera di ponsel tersebut, jemarinya dengan cepat membuka isi pesan singkat itu.
Bahkan gelas yang sedang ia pegang mendadak jatuh dan pecah berantakan, saat ia tak sengaja melihat gambar yang di kirim oleh putranya itu.