
...“Sejauh apa pun kita berpisah lama, akan tetapi ikatan darah akan tetap terus mengikuti kata hati yang tersembunyi.”...
...“Leonard Wesley Wiratmaja.”...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Dia barusan meninggalkan rumah sakit sekitar lima belas menit yang lalu Ray. Apa yang akan kau lakukan?” jawab Sean dengan balik bertanya.
“Aku akan meminta Leonard menyusul sahabatnya ke sana. Biar Leo tak terlalu mencemaskan keadaannya!” Kata Raymond sambil menghampiri kursi rodanya, kemudian duduk di atas kursi roda tersebut.
Yang mana ia meninggalkan Sean yang masih melacak keberadaan Theo, dengan mendorong kursi roda tersebut.
Untuk segera memberi perintah pada putra sulungnya, agar putranya segera menyusul sahabatnya ke desa itu.
Saat sampai di ruangan putranya, seketika Raymond mendapati sang putra tengah berdiri membelakanginya. Menutup kembali pintu ruangan tersebut, seperti sebelumnya ia telah mematikan semua aktivitas yang ada di ruangan itu.
“Boy,” panggil Raymond dengan nada tegas nan lembut. “Apa kamu sedang memikirkan sahabatmu itu hm?”
“Bukan,” jawab Leonard acuh.
“Lalu kalau bukan memikirkan sahabatmu, apa yang sedang mengganggu pikiranmu Boy?” tanya Raymond yang merasa heran dengan tingkah laku putra sulungnya itu.
Tak mendapat jawaban dari putranya, mau tak mau Raymond berusaha untuk tak terlalu membebani pertanyaan lagi, sekarang ia harus segera membuat putranya bisa tersenyum mendapat kabar tentang keberadaan Theo asisten putranya itu. “Boy kalau kamu memang mencemaskan asistenmu itu, pergilah susul sana. Biar tak menjadi beban yang mengganggu pikiranmu,” kata Raymond sembari memberi semangat pada putranya tersebut.
“Mengapa Papa ingin aku menyusul Theo?” tanya Leonard sembari menghembuskan napas gusar.
“Siapa tahu kamu menemukan jawaban dari kecemasan hatimu itu Boy.”
Bahkan apa yang dirasakan oleh Leonard, juga dirasakan oleh Raymond itu sendiri pun juga merasakan perasaan yang sangat sulit diartikan.
Untuk itulah ia memberi perintah pada putra sulungnya tersebut, untuk segera menyusul ke tempat di mana Theo berada, mengingat Sean mengatakan bahwa mobil yang di kendarai oleh Theo meninggalkan rumah sakit sekitar beberapa menit yang lalu.
“Sudah sana tak usah banyak bertanya lagi pada Papamu, lebih baik kamu sekarang pergilah menyusulnya Boy. Dan urusan kantor biar Papa yang mengurusnya,” titah Raymond dengan tegas. “Nanti biar Sean yang mengirim titik terakhir lokasi Theo berada.”
Dengan patuh akhirnya Leonard pun menyusul asisten sekaligus sahabatnya, dengan membawa petuah dari Papanya tercinta ia juga akan memastikan sesuatu yang mengganggu pikiran dan hatinya itu.
Setelah mendapatkan alamat lokasi tersebut, mobil sport kesayangan Leonard pun meninggalkan kantor dengan melaju kecepatan sedang menuju ke arah desa tempat Theo mengantar kedua kembar kembali ke desa itu, untuk menyelesaikan sebuah masalah yang menimpa sebuah desa tempat tinggal mendiang Sumarni arwah yang ditolong oleh Araxi yang tak lain adik kembarannya.
Sementara itu dalam mobil yang di kendarai oleh Theo, dengan Alexa dan Alex serta dua hantu yang mengikutinya terdiam membisu, tanpa ada obrolan yang dilontarkan kembali.
Sampai Alexa membuka suara untuk memecahkan kesunyian yang ada di dalam mobil tersebut. “Aku harus memanggilmu apa? Bahkan aku juga belum tahu namamu.”
“Panggil saja Theo,” sahut Theo tanpa menoleh ke arah belakang, tentunya ia sedang dalam keadaan memegang setir kemudi.
“Lalu bagaimana kau bisa mengenali kami? Selama ini identitas kami bertiga tertutup, tak mungkin ada orang lain yang mengetahuinya selain Om Kevin dan Om Andra!” ujar Alexa sambil berpikir keras.
.
.
.
.
Jangan lupa kopi kembang bahkan vote juga boleh
See next time
Love you all sekebon rel sepur