Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Ivone Yang Tangguh


Bahkan Araxi tak bisa melupakan kegilaan Albert yang tiba-tiba mencuri ciuman pertamanya, ingin marah dengannya pun ia sangat sungguh tak sanggup, sampai sekarang masih teringat dengan jelas bagaimana bisa bibirnya telah ternodai oleh hantu tampan tersebut.


Apakah dia yang dibicarakan oleh Mama? Mengapa harus aku yang kau gilai Al. Bahkan kau sedikit membuatku malu, berani sekali kau menodai bibirku ini. Berbisik melalui batin tak lupa Araxi bersungut-sungut.


Araxi tak bisa menebak jalan pikiran Albert yang terang-terangan mencium bibirnya tersebut. “Ada apa memanggilku?” ucap Araxi dingin ketus.


“Kau tadi sedang melamunkan apa?” tanya Albert.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Albert, justru Araxi menanyakan tentang kembarannya yang belum melihat keadaannya sejak ia bangun dari masa kritisnya itu. “Apa Alexa sama Alex belum kembali juga dari desa itu?” tanya balik Araxi yang menyela perkataan Albert.


Jangan di tanya bagaimana reaksi saat gadis tomboi pujaannya itu menyela pertanyaan darinya, ia pun di buat tercengang dengan tingkah laku dari Araxi yang membuatnya merasa gemas, dengan nada bicara Araxi yang terlihat sedikit hangat di bandingkan dengan nada dingin itu.


Membuat Araxi terlihat seperti gadis pada umumnya.


******


Sementara itu di rumah sakit sebelum Kevin dan Ivone memutuskan tidur di luar kamar inap milik Araxi. Kevin pun yang sedari tadi hanya berdiam diri sambil menyimak obrolan putrinya dengan Kakak kandung dari si kembar, tentunya ia tak menyangka bahwa putrinya tersebut bisa bersahabatan dengan dua pria itu.


Yang mana salah satu di antaranya anak dari sahabatnya Andra, dan juga anak dari rekan bisnisnya yang tak lain Kakak dari si kembar.


Tak ingin terlarut lama dalam penasaran Kevin menanyakan hal tersebut pada putrinya tercinta. “Sayang, bagaimana bisa anak Papa ini bersahabatan dengan mereka?” panggil Kevin sambil bertanya.


“Hanya mereka berdua yang tak memandangku aneh. Apa Papa lupa sejak kecil sampai sekarang mereka selalu membicarakan hal buruk tentang Mama,” jawab Ivone lirih.


Di karenakan ia tak pernah merasakan sebuah kasih sayang sejak di lahirkan ke dunia.


“Maaf!” hanya kata itu yang selalu di ucapkan oleh Kevin, mengingat ia sama sekali tak bisa memberinya kasih sayang lebih.


Di tambah dengan kesibukannya dengan pekerjaan yang sangat menumpuk, meskipun begitu ia tak pernah melupakan keberadaan putrinya tercinta.


Karena sejak pertama kali bisa berjalan kembali pada saat dulu, ia selalu bertekad tak akan pernah bisa takluk pada seorang meski itu mantan istrinya, karena sampai saat ini luka hati tersebut belum sepenuhnya sembuh.


“Kenapa Papa minta maaf denganku?” tanya Ivone polos. “Bukankah Papa pernah mengajarkanku untuk tak terlalu mendendam pada Mamamu, meskipun pada kenyataannya hatiku terlalu sakit di lukai oleh Mama!” keluh Ivone sambil terisak di dada bidang Papanya tercinta.


Menghela napas berat dengan masih mendekap tubuh rapuh tersebut, Kevin pun tak bisa berbuat banyak selain hanya bisa memberinya kasih sayang sebagai orang tua tunggal bagi dirinya.


Selang beberapa menit kemudian Kevin pun mulai teringat dengan Andra, bahkan ia lupa mengabari sahabatnya tentang kabar putranya yang tengah mengikuti kedua kembar kembali ke desa tersebut.


“Oh iya sayang kamu bisa tunggu di sini sebentar?” tanya Kevin dengan lembut.


“Papa mau ke mana?” jawab Ivone sambil balik balik bertanya.


“Oh itu mau menghubungi Om Andra. Untuk memberinya kabar tentang Theo yang sedang mengikuti si kembar! Apa kamu tak keberatan?”