
Sampai akhirnya Sumarni bertemu seseorang yang mampu membantunya, untuk membalaskan dendam tersebut.
Tak lama kemudian di sebuah kamar dengan konsep sederhana milik Araxi itu telah menyelesaikan waktunya, kini dirinya pun mulai berpikir dengan permintaan dari arwah tersebut.
Yang memintanya untuk menuntut balas perbuatan mereka yang membunuhnya, serta tak lupa menemui sang adik tercinta untuk meminta maaf sebelum arwah tersebut kembali ke asalnya.
“Apa kau yakin ingin aku yang melakukan hal itu?” tanya Araxi memastikan.
“Tolong pertemukan aku dengan adikku Jamilah,” punya arwah Sumarni sendu.
“Aku tak yakin bisa menemukan tempat itu, mengingat desa yang dulu kau tempati pasti banyak berubah,” sahut Araxi acuh. “Lalu apa kau tak keberatan, bila aku mencari desamu setelah sekolahku libur?”
“Tidak!”
Tanpa banyak karena tenggorokannya merasa kering dirinya pun keluar ke kamar pribadinya, namun saat membuka pintu dirinya di kejutkan dengan kehadiran dua saudara kembarnya yang menunggunya di sebuah tatapan yang sulit diartikan.
“Akhirnya kau keluar juga Ara,” ucap Alexa
merasa lega dengan kembarannya.
Kening Araxi mengernyit saat melihat kecemasan di dalam diri Alexa, yang membuatnya sudut bibirnya berkedut.
“Apa yang kalian lakukan di depan kamarku?” tanya Araxi dingin.
Mendengar nada dingin Araxi, membuat Alex mendengus. Tak bisakah saudari kembarnya itu lebih hangat sedikit.
“Aku dan Alexa sedang menunggumu,” jawab Alex acuh. “Apa kamu sudah selesai dengan urusanmu di dalam?”
Araxi pun menatap heran pada kembarannya, seketika bibirnya berkedut saat melihat kembarannya dengan setia menunggunya yang mana saat itu tengah memasuki dimensi ruang waktu milik arwah Sumarni.
“Libur sekolah nanti aku akan mengunjungi sebuah desa, apa kalian mau ikut?” tawar Araxi dengan mengalihkan arah pembicaraannya.
“Hei aku tadi bertanya padamu Ra, mengapa kamu suka sekali mengalihkan pembicaraanku,” omel Alex dongkol.
Mengendikan bahunya acuh tak acuh, Araxi pun meninggalkan dua saudara kembarnya yang tengah mengumpat tingkah dinginnya yang secara tak langsung di tujukan oleh kembarannya tersebut.
“Ara,” panggil Alexa. “Bisa tidak kamu tak berbicara dengan nada dingin begitu dengan kita, aku sangat heran kamu suka sekali bersikap dingin pada kita,” ucap Alexa dengan cemberut.
“Lalu kalian mau aku seperti apa?” tanya Araxi sembari melipat tangan di dada.
“Sudahlah Ra, kepalaku mendadak jadi pusing. Selalu saja begini kalau sedang berdebat denganmu, kamu tak pernah mau berbicara. Aku heran sekali kau itu dingin begini mirip siapa?” tanya Alexa seraya bersungut-sungut.
Araxi pun tak bergeming mendengar nada sungutan yang berasal dari saudari kembarnya itu.
Dengan santai tak menghiraukan Alexa mau pun Alex, Araxi menikmati makan malamnya dengan lahap tanpa merasa kalau dua saudara kembarnya menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Hingga tanpa Araxi sadari dirinya pun mendapatkan tatapan perhatian yang di Khususkan untuk dirinya, siapa lagi kalau bukan Albert kini tengah menatapnya dengan perasaan lega.
Karena dirinya merasa takut Araxi terlalu lama menggunakan kemampuannya, saat berada dalam dimensi ruang waktu tersebut.
Kini akhirnya Albert pun merasa, namun siapa yang menyangka dirinya harus melihat keganasan Araxi dalam melahap sebuah makanan yang tertata rapi di meja makan, seketika habis tak bersisa.
‘Kau tak menyangka di balik kedinginanmu, ternyata kau seperti ini juga tingkah lakumu itu, benar-benar mengingatkanku pada Kakak sulungmu itu!’ batin Albert bergumam tanpa ia sadari terdengar langsung dari seseorang yang mendengarnya.
Ternyata orang yang mendengar suara batin Albert merupakan Alex yang tengah menatap kembarannya memakan dengan sangat lahap.
Tanpa sadar Araxi pun telah menyelesaikan makan malamnya, kemudian ketika melihat Araxi akan bersiap beranjak dari tempatnya.
Ia pun mengajukan sebuah pertanyaan untuk sang kembaran. “Ra, apa kau pernah melihat sesuatu yang berhubung dengan kita?”
Araxi pun memicingkan matanya, seakan-akan dirinya pun di buat bingung dengan pertanyaan dari Alex.
“Maksudmu apa sih Lex?” tanya Araxi balik.
“Apa kamu tak paham dengan pertanyaanku Ra?” jawab Alex. “Bukankah di antara kita bertiga yang mempunyai kemampuan lebih itu kamu Ra,” gerutu Alex.
“Lalu apa hubungannya denganku? Meski pun kamu bertanya seribu pun, aku tetap tak mengerti dengan pertanyaanmu itu.”
“Ra,” panggil Alex. “Apa kamu pernah melihat seseorang yang mirip dengan kita melalui kemampuanmu itu Ra?” tanya Alex dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Merasa tak mendapati jawaban dari kembarannya, dengan terpaksa Alex meninggalkan Araxi dalam keadaan membisu.
Entah mengapa bagi Alex sendiri, kematian dan persembunyian mereka justru seperti ada benang merah yang terusut.
Bahkan Alex sendiri pun tak memahami tentang persembunyian mereka tersebut, merupakan permintaan dari Albert.
Untuk menghindari kejaran dari seseorang yang sangat terobsesi dengan mereka, yang mana dirinya selalu berusaha melenyapkan ketiga kembar tersebut.
‘Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa Om Andra mengetahui sesuatu yang tak kami ketahui?’ batin Alex bertanya-tanya.
Bukan karena Araxi tak mengetahui sesuatu, yang jelas Araxi telah mengurai benang merah itu.
Hal itulah sampai saat ini Araxi tak membagi sesuatu yang dirinya lihat melalui kemampuannya, karena bagi Araxi tak ingin sesuatu terjadi pada kembarannya.
Mengingat sampai saat ini ada seseorang yang berusaha mengejar mereka, bahkan sampai saat kehidupan mereka telah di tanda oleh orang tersebut.
Tak ingin memikirkan hal yang terlalu rumit, Alex pun memutuskan akan beristirahat karena baik Alex mau pun kedua kembarannya akan menuntun ilmu kembali.
Sedangkan saat ini Araxi tengah melamunkan perkataan tentang sesosok yang mirip dengan dirinya.
Meski pun saat ini Araxi pun dapat melihat sesuatu yang membuat darahnya mendidih.
Lagi-lagi dirinya harus melihat keadaan sang Papa tercinta yang tengah merasa gundah gulana, saat Papanya tersebut di datangi oleh istri dan anak tiri dari Papanya itu.
Yang mana sang istri tersebut mempunyai niat yang buruk terhadap Papanya tersebut.
‘Maafkan Araxi Pa, belum saatnya kami bertiga muncul di hadapanmu, aku pun sangat tahu kalau Papa berusaha mencari keberadaan kita. Akan tetapi ada sesuatu yang aku urus terlebih dahulu, suatu saat kita akan berkumpul seperti yang pernah di katakan oleh Mama.’ Batin Araxi bertekad bulat untuk mencari seluruh bukti tentang keganjilan yang menimpa mendiang Mamanya tercinta.
Seperti yang Araxi duga sang Papa tercinta, selalu tetap dalam lindungan sang Kakak sulungnya itu.
Seseorang yang telah di singgung oleh Alex tersebut.
Di kamar Alexa sendiri pun sedikit termenung, tak kala kesedihan yang melanda kembarannya tercinta.