
...“Apakah begitu indah di cintai? Mengingat jika saling memendam, tentunya harus siap merasakan arti kehilangan.” (Alex Wesley Wiratmaja)...
.
.
.
.
.
“Kalau boleh tahu golongan darahnya apa Om. Mungkin aku bisa membantu mencarikannya,” tanya Leonard sembari memancing reaksi Kevin.
“Aku tak mengerti golongan darahnya, akan tetapi dokter yang menangani Araxi. Menyebutkan golongan darahnya sedikit langka. Dan juga aku sangat heran dengan keadaannya yang berbeda dari dua saudara kembarnya,” jawab Kevin dengan jujur.
Tentunya Kevin sangat memahami pertanyaan dari kakak kandung ketiga kembar tersebut.
Namun untuk membuktikan apa yang sedang mengganggu pikirannya itu, dengan terpaksa ia menanyakan hal pribadi menyangkut keberadaan ketiganya, sebelum ia memutuskan membongkar rahasia itu atau tidak. “Oh iya ngomong-ngomong bagaimana dengan keadaan Papamu sendiri? Yang aku dengar saat ini Papamu tak pernah berhenti mencari keberadaan adik kembarmu. Lalu apakah mereka sudah ditemukan?” tanya Kevin dengan todongan cecaran.
Leonard pun tersenyum kecut, saat mendengar todongan pertanyaan yang menyangkut adik kembarnya. Bukan karena tak pernah berhenti mencari keberadaan adiknya itu, akan tetapi ia sangat yakin keberadaan ketiga adiknya tersebut tak dapat di lacak olehnya.
Seperti yang ia duga, ada seseorang yang sangat rapi menyembunyikan keberadaan mereka, di tambah dengan ada sesosok yang tak terlihat olehnya sebagai manusia begitu rapi menyembunyikan bau tubuh mereka.
Agar ketiganya tak dapat di lacak oleh mudah, dan juga untuk menghindari kejaran dari seseorang yang berambisi membunuh ketiga kembar tersebut.
Namun Leonard pun tak menyadari, orang yang menyembunyikan keberadaan ketiga adiknya itu ialah orang yang tengah duduk dihadapannya itu.
“Maaf Om bukannya Papa berhenti mencari keberadaan mereka, akan tetapi Papa dibuat frustrasi dengan seseorang yang begitu rapi menyembunyikan mereka.” Leonard pun mengungkapkan semua yang mengganjal di hati dan pikirannya itu begitu menohok hati.
Tentunya Kevin yang mendengar ungkapan dari Kakak kembar tiga itu, membuat tubuhnya menegang.
Secara garis besar kemungkinan yang diungkapan oleh Leonard memanglah benar, karena sejujurnya Kevin tak ingin terus-terusan menyembunyikan keberadaan ketiga kembar itu.
Karena Kevin sendiri pun telah berjanji pada sesosok yang selama menjaga mereka, hal tersebutlah membuatnya menutup rapat rahasia itu dari siapapun.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa sebaiknya aku mengatakan hal ini padanya? Akan tetapi aku tak ingin mereka diincar lagi oleh mantan istriku! Cukup sekali saja mereka pernah dilenyapkan oleh mantan istriku atau lebih tepatnya sebutan wanita iblis. Batin Kevin dengan pikiran berkecamuk.
Tentunya Kevin sangat bimbang mengatakannya atau tidak, karena menurut Kevin hingga saat ini pasti wanita itu tak pernah berhenti mencari keberadaan ketiga kembar tersebut.
Kembali lagi ke desa tersebut. Di mana terdapat Alexa dengan Alex, dan juga di tambah Theo yang sangat ingin membantu mereka menyelesaikan masalahnya.
Untuk bersiap menghadapi makhluk yang menyerang Araxi beserta Tuannya tersebut.
“Kita harus segera mencari pak Sholeh,” ajak Alex. “Karena beliau orang yang mengetahui seluk beluk desa ini.”
Bukan bayangan tentang Tuan dari makhluk kecil tersebut, akan tetapi bayangan seseorang yang sangat dekat dengan mendiang Mamanya tercinta.
Namun ia masih belum bisa melihat bayangan itu dengan jelas, besar kemungkinan apa yang ia lihat itu sangat terhubung langsung dengan Araxi.
Tak ada seorang pun yang menyadarinya, bahkan Alex sekalipun tak dapat merasakan sesuatu yang tengah di rasakan olehnya.
Karena Alexa dengan sengaja menutup hal tersebut dari Alex, untuk membuat Alex bisa leluasa fokus pada masalah yang akan mereka hadapi sekarang.
Pergerakan Alexa menarik perhatian Alex, sehingga tanpa sengaja Alex menegur dirinya. “Sa, apa yang sedang kau lamunkan? Bukankah kita harus fokus dengan sesuatu yang ada di depan mata!” tegur Alex dingin. Apa yang di lamunkan olehnya? Sial mengapa aku tak bisa merasakan perasaan yang sedang di rasakannya itu. Aku baru mengerti dengan kemampuanmu yang satu ini Sa. Lanjut Alex dalam batin.
Namun teguran darinya tak mendapat respons dari Alexa, sehingga besar kemungkinan kembarannya itu tak ingin ia tak menjadi fokus pada misi kali ini.
Bahkan Alex dapat melihat dengan jelas raut wajah tenang Alexa, menunjukkan bahwa ia tetap tak ingin mengatakan hal apapun pada dirinya.
.
.
.
.
.
Seperti janjiku sebelumnya ya mengenai lomba tim yang aku ikut
Caranya gampang lihat gambar bawah yang aku kirim ya dan juga jangan sampai salah oke
Lalu klik kata kunci judul karyaku ya
Terus jangan lupa tekan vote ya
Dukung terus ya
See you next time
Love you all