Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Akhir Hidup Yang Begitu Tragis Pemilik Jenglot


“Ini ... Tak mungkin, wajahnya mengapa begitu mirip denganku, apalagi pada waktu masa mudaku? Siapakah dia? Apa Leonard berhasil menyusul Theo?” begitulah kira-kira pertanyaan yang terus ia gumamkan saat sedang memikirkan putranya itu.


Saat akan menghubungi putranya untuk menanyakan tentang maksud dari gambar foto tersebut, seketika ponselnya berbunyi kembali menandakan sang putra sulungnya memberinya peringatan.


Untuk tak menghubunginya terlebih dahulu, dengan raut wajah yang kesal Raymond pun membalas pesan singkat tersebut sambil menanyakan tempatnya berada. [“Apa maksudmu Boy? Mengapa Papa tak kamu izinkan untuk meneleponmu, lalu maksud dari foto gambar yang kamu kirim itu apa?”]


Setelah mengirim balasan singkat yang di kirimkan oleh putra sulungnya itu, Raymond tengah menunggu balasan kembali dari putranya.


Sambil jemari kekarnya mengusap foto gambar yang masuk ke dalam ponsel, kemudian tak ingin istri keduanya mengetahui sesuatu yang tak pantas di ketahui, terpaksa Raymond memindahkan foto gambar tersebut ke dalam laptop miliknya.


Agar foto gambar tersebut tak berpindah tangan ke orang yang seharusnya tak terlalu ikut campur urusan tentang privasinya.


Ponsel Raymond pun kembali berdering, pesan singkat balasan dari putranya masuk ke dalam ponselnya. [“Apa ada masalah dengan foto yang barusan aku kirim Pa? Maaf aku sedang berada di dalam ruangannya, lagi pula aku tak ingin mengganggu tidurnya. Ngomong-ngomong aku tadi melakukan tes DNA secara diam-diam, untuk memastikan bahwa dia benar salah satu dari adik kembarku atau bukan. Apa kamu tak keberatan Pa?”]


Raymond yang membaca pesan sambil meminum itupun seketika tersedak minuman yang sedang ia minum, tak kala membaca permintaan dari Leonard tentang tes DNA yang dilakukan oleh putranya tersebut. [“Boy kamu serius apa yang sedang kamu lakukan itu? Kamu ada di rumah sakit mana? Biar Papa menyusulmu ke sana!”] Raymond pun membalas pesan singkat dari putranya, untuk menanyakan posisinya berada.


Agar ia dapat menyusul putranya tersebut, sembari memastikan seseorang yang sedang mengganggu pikiran dan hatinya.


Jawaban singkat dari Leonard membuat Raymond mendadak lesu sekaligus kesal. Karena Leonard melarangnya menyusul ke tempat tersebut. [“Jangan aneh-aneh Pa, lebih baik Papa diam di kantor. Apa mau rencana yang aku susun di ketahui oleh istrimu itu? Kalau Papa tak ingin orang lain mengetahui hal ini, sebaiknya Papa diam dan duduk menunggu kabar dari putramu.”]


[“Baiklah Boy kali ini Papa akan menuruti kemauanmu. Apa kamu sudah bertemu dengan Theo?”]


Tak mendapat balasan dari putranya, membuat Raymond mengumpat kesal. Putranya ini selalu saja membuatnya marah sekaligus kesal, akan tetapi ia tak bisa marah terlarut lama.


Karena putra sulungnya tersebut adalah obat dari segala kesedihan yang melanda hatinya, hanya Leonard yang saat ini ia punya.


Bahkan kedua orang tuanya pun juga telah lama meninggal, menyusul istrinya tercinta. Tanpa pernah ia sadar kematian yang merenggut kedua orang tuanya telah di rencanakan oleh seseorang yang kini menjadi istrinya tersebut.


******


Namun warga tersebut menjadi penasaran dengan kematian yang terjadi pada Juragan mereka.


“Apa yang sebenarnya terjadi Pak Sholeh? Lalu siapa mereka Pak?” tanya seorang warga pada pak Sholeh.


“Sudah-sudah lebih jangan kalian jangan ikut campur ataupun menanyakan maksud kedatangan mereka,” peringat pak Sholeh dengan tegas.


Hal tersebut itulah membuat Angel terpaksa menemui pocong yang tengah menjaga mobil milik Theo.


Kembali dengan tiga orang yang tengah berdiam diri, mereka sungguh tak menyangka sebuah kematian tragis telah merenggut nyawa si pemilik jenglot tersebut.


Ketiganya pun juga teringat dengan pesan yang di sampaikan oleh dirinya, bahwa ia sangat ingin di makamkan di dekat dengan mendiang istrinya tercinta.


Yang tak lain mendiang Sumarni, tentunya tulang belulangnya di temukan dalam keadaan yang mengenaskan.


Itulah akhir kisah perjalanan cinta dari Juragan yang dulunya di kenal kejam, lalu setelah kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya ia kembali menjadi pribadi yang sangat tak tersentuh sampai akhir hayatnya.


.


.


.


.


.


Yuhu ges aku bawa lagi karya temenku


Jangan lupa mampir ya


See you next time