Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Kesedihan Yang Melanda Kevin Morgan Adhitya


‘Perasaan ini kenapa terlintas di pikiranku? Siapa orang itu? Mengapa bisa terhubung pada perasaan ini? Apa yang terjadi dengan diriku?’ beo Alexa lirih yang tanpa terdengar oleh siapa pun.


Namun ia tidak menyadari langkah kakinya semakin tertinggal jauh dari Alex pun sudah terlebih dahulu melangkah, hingga ia di kejutkan dengan suara Albert yang datang tiba-tiba.


“Tidak baik melamun begitu, kau bisa mengundang seseorang untuk merasuki dirimu,” tegur Albert dingin.


“Jangan sok tahu, aku sedang tidak melamun,” cetus Alexa dengan berkilah. ‘Kenapa wajahnya tidak terlihat dengan jelas di penglihatanku.’


“Lalu yang tadi itu apa?” desak Albert.


“Sudah aku katakan bukan, aku ini sedang tidak melamun,” sahut Alexa ketus. “Ara apa masih lama? Bukannya tadi sedang denganmu? Apa tadi kalian berhasil?” todong Alexa sambil mencecar Albert dengan menanyakan keadaan saudari kembarnya itu.


Di todong seperti itu membuat Albert terkekeh, ia sendiri tidak menduga. Bakal selalu mendapat pertanyaan todongan yang menyangkut Ara saudari kembar seorang wanita yang tengah berdiri di hadapannya.


Keningnya mengernyit tidak kala mendapati sesosok yang tengah melompat-lompat tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Siapa dia Sa?” tanya Albert. “Apa kau tidak takut dengannya?”


Alexa pun mendengus, entah mengapa semua orang tidak mempercayai keberadaan kemampuan yang di punya oleh dirinya itu.


“Tidak perlu risau, dia hanya ingin berkenalan denganku saja. Akan tetapi Angel sudah terlebih dahulu memberinya peringatan.”


“Oh ya sudah kalau begitu,” ujar Albert merasa sedikit lega dengan apa yang di lontarkan oleh Alexa. “Terus mengapa penampilan seperti itu?”


Bagaimana ia tidak menahan tawa, kalau melihat penampilan dari pocong itu pasti menjadi hiburan tersendiri bagi si pencuri hatinya. Tentunya, ia sangat ingin melihat tawa lepas dari si gadis tomboi nan dingin itu.


“Dia tadi habis masuk ke dalam selokan, perutku sampai nyeri di buatnya.” Kata Alexa sembari melangkahkan jenjang kakinya, menyusul Alex yang sudah terlebih dahulu berjalan beberapa jarak dari dirinya.


Tanpa berpamitan Albert pun menghilangkan diri, yang mana membuat Alexa menggelengkan kepala melihat kelakuan Albert terlihat dingin. Namun ia bisa merasakan perhatiannya terhadap Araxi.


‘Sampai kapan kau akan seperti ini Albert, semoga saja kau dengan Ara bisa bersatu tanpa ada yang terhalang di dalam perasaan kalian itu.’


Alexa pun berdoa untuk saudari kembarnya dengan tulus, tanpa rasa iri atau paksaan. Karena ia percaya bahwa kelak ia juga sama seperti Ara yang bisa mendapatkan seseorang dengan cinta tanpa syarat apa pun.


“Hai apa kau menyukai hantu tampan tadi?” tanya pocong itu pada Alexa.


Tanpa sengaja Alexa pun mendorong tubuh pocong tersebut, hingga membuatnya jatuh terjerembab ke tanah yang basah dan becek, membuat semua kain putihnya menjadi kotor tidak karuan.


“Sembarangan kau kalau bicara,” pekik Alexa kaget. “Aku tidak suka dengan hantu tampan itu, lagi pula dia sudah menyukai seseorang yang dia suka,” ucap Alexa tegas pada pocong itu. Ya entah mengapa ia sedikit nyaman di dekat pocong itu.


Bukan nyaman tentang perasaan, akan tetapi seperti yang si pocong itu sendiri merasa ingin menjaga dirinya.


Setelah pocong itu berhasil berdiri, ia memperhatikan kain kafan putih miliknya menjadi terlihat lebih kotor dari sebelumnya. Hingga ia melayangkan protes pada seseorang yang mendorong tubuhnya.


“Lihatlah kainku dari putih, setelah mengikutimu, tambah semakin kotor saja,” protesnya dengan kesal. “Tapi tunggu dulu, kenapa bisa kau menyentuh dan mendorong tubuhku!” beo pocong itu dengan terheran-heran.


“Itu salahmu sendiri yang tiba-tiba mendekat ke arahku,” ucap Alexa ketus. Serta tidak lupa ia meninggalkan pocong itu dengan bersungut-sungut.


Sampailah Alexa ke dalam sebuah desa yang hanya di huni oleh dirinya, serta beberapa warga saja yang menjadi tetangganya di desa sunyi dari keramaian kota.


Sementara itu di tempat lain, di sebuah gedung kantor pencakar langit itu. Terdapat seorang pria paruh baya yang tengah memeriksa beberapa berkas untuk di tandatangani, sembari menanyakan tentang kabar tiga anak kembar yang dulunya ia selamatkan dari penculikan yang hampir saja di bunuh oleh mantan istrinya pada sekretaris pribadinya sekaligus orang yang telah ia anggap sebagai keluarga tersebut.


“Bagaimana keadaan mereka? Apa mereka telah aman dari kejaran mantan istriku? Apa mereka merasa kesepian, kita menempatkan mereka di desa yang jauh dari keramaian kota itu?” Todong Kevin sembari bertanya pada Andra yang berdiri tak jauh dari tempat meja kerjanya.


“Kau tenang saja mereka bertiga pastinya aman dari kejaran mantan istrimu itu,” jawab Andra dingin.


“Rupanya kau masih tetap saja punya dendam terhadapnya?” ejek Kevin pada sahabatnya itu. “Lalu bagaimana dengan putramu, Apa dia mengetahui sesuatu yang sedang kau sembunyikan darinya? Bukannya putramu seorang anak indigo ya!”


“Tidak, dia sama sekali tidak mengetahui perihal apa pun sampai sekarang. Karena menyembunyikannya hal ini darinya, kau tahu bukan dari dulu hingga sekarang dia masih sedikit takut jika berhadapan dengan hantu.”


Mendengar penjelasan rinci dari Andra tentang putranya. Kevin pun mengangguk kepalanya, pertanda ia semakin lebih sedikit mempercayai tentang kehidupan manusia yang selalu berdampingan dengan dunia lain.


“Lalu apa kau sendiri tidak ingin menjenguk mereka?” tanya Andra. “Karena aku merasa putrimu terlihat bahagia setiap bertemu mereka, bahkan dia merasa tidak kesepian kembali. Atas perlakuan mamanya terhadap putrimu.”


“Nanti aku akan berbicara dengannya, kau jangan risau dia telah berhasil melewati semuanya. Meski pun sering mendapat hinaan dari teman-temannya sejak kecil hingga sekarang,” ungkap Kevin sembari menceritakan keluh kesah yang di alami oleh putrinya itu.