
Tak ingin membahas mantan istrinya, Kevin pun berusaha mengalihkan obrolan itu! Agar, sang putri tercinta tak menanyakan kembali perihal semua tentang mama kandungnya tersebut. “Sayang,” panggil Kevin dengan lembut. “Bisakah, kamu tak membahas perihal tentangnya?”
“Tapi, Pa …” dengan raut wajah yang kesal, Ivone pun tak bisa membantah perkataan dari Papanya tersebut.
“Sayang!” Lembut nan tegas, Kevin pun tak ingin putrinya membantah perkataan yang ia lontarkan. “Jangan membahasnya dulu, ya. Mau? Kita harus segera bergegas ke kamar, Araxi, bukankah tujuan kita kemari karenanya?”
Pasrah itulah yang dirasakan oleh Ivone, tanpa menjawab kembali dengan cepat ia berbalik arah meninggalkan papanya. “Tunggu, Sayang!” cegah Kevin yang menahan langkah kaki Ivone.
“Apalagi sih, Pa!”
“Apa, Papamu ini boleh ke arah sana sebentar?” tanya Kevin sambil menunjuk ke sebuah arah dengan dagunya.
“Ya, sudah tapi jangan lama-lama. Biar aku pergi ke kamar, Araxi dulu!” jawab Ivone tanpa menoleh ke arah papanya tersebut.
Melihat punggung putrinya sedikit menjauh, membuat sorot mata Kevin menjadi dingin. Menggeretakkan giginya dengan marah, sambil jemarinya menekan sebuah nomor ponsel dari arah seberang.
“Ya, Tuan!” ucap seorang dari arah seberang, begitu panggilannya tersambung.
Berdeham, lalu berucap dingin, Kevin menjelaskan perihal permintaannya itu. “Aku, ingin kau meretas CCTV pada sebuah kejadian lalu, nanti waktu dan tanggal itu akan kukirim melalui emailmu! Lacak sampai dapat, dan segera laporkan padaku jika kau menemukan sesuatu.”
“Oh, iya apa rekanmu yang menjadi mata-mataku mengabarimu tentang sesuatu?” jawab Kevin sambil balik tanya. “Sebab, dia hanya mengabari dan melaporkan padaku, tentang sebuah rencana yang akan dilakukan oleh mantan istriku itu.”
“Saya, minta maaf, Tuan!” jawabnya yang merasa heran dengan rekan yang bertugas sebagai mata-mata. “Saya justru tak mendapatkan kabar apa pun tentangnya.”
Setelah menjelaskan pada Tuannya, ia yang di seberang itu pun berpikir keras. Ada gerangan apa yang terjadi? Mengapa hal ini sedikit mengganjal, dan setelahnya itu ia langsung melaporkan pada, Kevin yang sedang berpikir sama dengannya.
Lalu Kevin pun mengumpat kesal, setelah ia mendapat sedikit kejanggalan yang sedang menimpa mata-matanya itu. “Damn shi't, sepertinya kita sedikit kecolongan! Aku baru menyadari pesan singkat yang dikirim olehnya, ternyata sebuah laporan dan juga firasat yang akan terjadi pada rekanmu itu.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan, Tuan?”
“Mengenai rekanmu itu, kita tak bisa gegabah untuk melakukan apa pun. Kalau pun benar ia dibunuh, lebih baik kita berpikir cara untuk merebut jenazahnya.” Kata Kevin sambil memijit keningnya. “Baiklah itu saja yang ku sampaikan padamu, setelah ini aku akan mengirimkan email mengenai waktu dan kejadian. Tugasmu hanyalah meretas kembali. Apa kau paham!” tut panggilan itu pun terputus, tanpa menunggu jawaban dari arah seberang.
Kevin dengan jemarinya mengetik sebuah email yang akan dikirim oleh dirinya, setelah email terkirim dengan bergegas ia menyusul putrinya, yang telah lebih dulu di kamar inap, Araxi.
Marista, jika aku menemukan kau melakukan hal yang menyakitkan, bahkan melukai hatinya yang sangat rapuh. Aku bersumpah dengan seluruh napasku, tak akan pernah sedikit pun kau mendapatkan kata maaf dariku. Sebab rasa sakit dan luka hatinya, merupakan semua rasa sakit yang ada di dalam diriku ini.