
“Apa kau yang mengambil alih tubuh Araxi?” tanya Albert dengan sopan.
Sembari menunggu jawaban Albert pun meminta pocong dan seorang arwah yang mengikuti mereka untuk menghilang sementara, karena tentunya Albert menduga sesuatu yang telah terjadi.
Selang lima belas menit kemudian, Albert pun tak menduga seseorang mengambil tubuh Araxi tersebut berasal dari seseorang yang tak dikenal oleh dirinya.
“Maaf aku tak bermaksud mengambil alih tubuhnya, hanya saja aku merasuki tubuh ini karena hati dan pikirannya begitu mendidih. Aku tak akan sepenuhnya mengambil alih tubuhnya!” ucap sesosok itu seraya menjawab pertanyaan dari Albert.
“Apa kau juga leluhur dari ketiga kembar itu?” tanya Albert yang merasa heran dengan kehadiran sesosok yang merasuki tubuh Araxi.
“Menurutmu!” jawab sesosok itu dengan singkat dan padat.
“Tapi mengapa kau harus muncul sekarang?”
“Sudah aku katakan bukan, dia yang menarikku ke dalam jiwanya.”
Tak ada pembicaraan mereka kembali, hingga membuyarkan pikiran mereka masing-masing.
Saat mendengar suara yang sangat tak asing menurut mereka.
“Kalian bertiga kenapa diam-diam begitu?” tanya Ivone dengan heran. “Sini masuk ke dalam mobil, biar Papaku yang mengantar kalian! Iya kan Pa?”
“Iya biar aku yang mengantar kalian,” jawab Kevin dengan menyahuti permintaan dari putrinya itu.
Kemudian ketiganya itupun masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Kevin, meninggalkan desa mereka menuju sebuah desa yang menjadi tujuan Araxi berkunjung.
Keheningan pun kembali terjadi begitu mobil membelah jalanan yang terlihat sangat sepi, dengan Kevin yang tengah memegang setir kemudi. Seraya menatap ke arah Araxi dengan sedikit takut.
Karena pandangan Araxi begitu sangat dingin, tentunya yang menyebabkan kemunculannya yang tak tepat waktu.
Akibat dari kemarahannya yang begitu mendidih, terhadap dua orang yang tengah menjadi tanda tanya di benak sesosok yang berada di dalam jiwa Araxi.
“Ngomong-ngomong apa yang kalian lakukan di desa itu Alexa?” tanya Ivone yang membuka suara untuk memecahkan keheningan di dalam mobil Papanya.
“Oh itu Kak, aku dan kembaranku hanya jalan-jalan,” jawab Alexa berkilah. “Memangnya mengapa Kak Ivone tanya begitu?”
“Apa kalian melakukan kegiatan diluar sekolah?”
Alexa menggeleng ini bukan kegiatan sekolah yang dilakukan, justru mereka datang ke desa tersebut atas permintaan dari arwah yang kini tengah menghilang sebelum Araxi kembali pada dirinya sendiri.
“Lalu kalau bukan sekolah terus apa dong?” beo Ivone yang merasa melupa bahwa ketiga kembar itu mempunyai kelebihan yang seharusnya dia pahami.
“Eh tunggu dulu Kakak hampir lupa. Apa kamu dan kembaranmu akan membantu hantu lagi?” tanya Ivone serius.
“Hehehe ... Iya Kak Ivone!” jawab Alexa sambil meringis pelan. “Memangnya kenapa Kak? Apa Kakak takut?”
Bukannya menjawab pertanyaan dari Alexa, justru Ivone ingin mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh Alexa dengan kembarannya. “Apa boleh aku ikut dengan kalian ke desa itu?”
“Bagaimana ya Kak! Masalahnya aku dan mereka ke desa itu kan ada perlu dengan hantu yang di tolong oleh Araxi.”
“Ayolah Alexa aku sangat tahu kegiatanmu dengan kembaranmu itu sejak lama,” desak Ivone dengan memelas.
Bukannya Alexa tak ingin mengajak Ivone ke desa tersebut, hanya saja ia merasa sangat tak yakin jika Ivone tak takut dengan hantu.
“Kak Ivone,” panggil Alexa dengan lembut. “Apa Kamu yakin ingin ikut Kak?” tanyanya dengan memastikan.
Dengan mantap Ivone menganggukan kepalanya, pertanda dirinya akan tetap ikut untuk melihat bagaimana cara si kembar menghadapi hantu yang mereka tolong.
Suasana mobil yang di kendarai oleh Kevin pun mendadak menjadi hening, saat tak ada pembicaraan yang membuat Kevin merasa heran.
Sementara itu di dalam jiwa milik Ara dengan dua orang yang saling bertatap dingin, sehingga membuat orang tersebut kalah dengan tatapan dingin milik Araxi.
“Stop!” ucapnya pada Araxi. “Hei bisa tidak kau tak menatap dingin ke arahku. Oke aku mengaku kalah denganmu.”
Tak menjawab pertanyaan dari gadis tomboi tersebut, membuat dirinya mendengus.
Entah mengapa sorot mata dingin dari gadis tomboi di hadapannya itu, mengingatkannya pada dirinya sendiri dimasa lalu.
Hingga akhirnya sesosok tersebut dapat mendengar suara nada yang begitu dingin berasal dari hadi tomboi tersebut.
“Siapa yang menyuruhmu keluar dari tubuhku?” tanya Araxi dengan nada dingin.
Dengan berdehem sesosok tersebut mengaku kalah, sehingga membuatnya tak dapat berkutik berharap langsung dengan gadis tomboi itu.
“Maaf ... Bukan maksudku mengambil alih tubuhmu, aku muncul karenakan emosimu yang begitu tinggi, saat melihatmu mendengar suara batin dan hati orang yang terluka.” Kata sesosok seraya menjawab pertanyaan dari Araxi. “Aku sangat mengerti kau sangat peduli pada orang lain, meskipun dirimu terlihat sangat dingin. Nyatanya hal tersebut tak mengurangi kebaikan hatimu.”
“Lalu bagaimana bisa kau tahu bahwa aku selalu bisa mendengar batin orang yang berbicara?” tanya Araxi sedikit melunakkan pandangan sorot matanya.
“Apa kau akan percaya dengan apa yang aku katakan?” jawabnya seraya bertanya balik.
Tak mendapat jawaban dengan terpaksa sesosok tersebut langsung mengatakannya maksud muncul dari dalam jiwa Araxi. “Sebelumnya aku benar-benar minta maaf karena tak sengaja mengambil alih tubuhmu. Akan tetapi maksud kedatanganku membawa berita dari leluhurmu.”
“Leluhurku?” beo Araxi dengan heran.
“Benar leluhurmu yang tengah berdiam di dalam tubuh salah satu kembaranmu,” Sahutnya sambil memberitahu tentang leluhur Araxi. “Dan juga atas perintah dari beliau aku muncul dari jiwamu, mengambil alih tubuhmu. Karena aku diberi tugas untuk menjaga kalian bertiga. Dan juga hal tersebut kau mempunyai kemampuan yang tak dipunya oleh orang lain, selain dirimu dengan mendiang Mamamu.”
“Bukankah sudah ada Albert dan Angel yang menjaga kami bertiga,” ucap Araxi santai.
“Albert dengan Angel menjaga kalian di luar, sedangkan aku dan rekanku menjaga kalian dari dalam. Jadi otomatis hanya di saat darurat saja kami mengambil alih tubuh.” Ungkap sesosok tersebut dengan jelas.
Yang mana membuat Araxi menjadi terdiam membisu, benarkan yang dikatakan oleh sesosok itu, tentang leluhurnya yang menempati raga di antara salah satu kembarannya.
Mengingat ini merupakan hal yang tak sesederhana yang Araxi kira.
“Sudahlah tenang saja aku benar-benar tak akan mengambil alih tubuhmu,” terangnya dengan meyakinkan Araxi. “Apa kau tahu mengapa aku bisa tiba-tiba muncul seperti ini?”
“Karena apa memangnya?” sahut Araxi dengan bertanya balik.
“Ini lain dari yang tadi, aku muncul atas kehendakmu. Dan juga aku ingin memberimu peringatan, untuk selalu waspada terhadap seseorang yang tengah gencar-gencarnya mencari keberadaanmu dan kembaranmu.” Peringatnya yang membuat Araxi bungkam. “Bahkan tanpa aku beritahu kau sendiripun bisa menebak siapa orang itu.”
Masih dalam kebungkamannya dengan bergegas Araxi pun memejamkan mata, untuk kembali sadar ke alam dunia nyatanya.
Agar Araxi bisa menolong arwah Sumarni, serta membantunya untuk bertemu seseorang yang Sumarni kenal.