Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Bertemu Dengan Mama Tercinta


“Kek, mengapa kau begitu menyebalkan!” ucap Araxi ketus.


Setelah berdebat Araxi pun memutuskan, untuk masuk ke dalam mobil sambil memejamkan matanya.


Untuk mengistirahatkan tubuh dan energinya yang sempat terkuras habis.


Namun tak di sangka pandangan matanya mencari keberadaan Albert dan juga Angel, yang sedari tadi tak menampakkan diri, setelah pertarungan tersebut.


Ke mana mereka? Mengapa malah hilang sendiri! Kebiasaan sekali mereka seperti ini terus. Batin Araxi sembari mengumpati tingkah laku Albert dan Angel.


Tak mengidahkan hilangnya dua arwah hantu cantik dan tampan tersebut, Araxi pun telah terlelap menuju ke alam mimpinya.


Tanpa sadar dirinya merasa tak terganggu dengan suara bising di sekitarnya.


Di luar mobil masih dengan Alexa dan Alex yang tengah memikirkan di dalam pikiran masing-masing, dikejutkan dengan suara yang berasal dari arwah hantu Sumarni.


“Permisi bagaimana dengan saya? Karena saya ingin segera mendapat keadilan juga!” tanya Sumarni dengan lembut.


“Apa masih lama tempat desamu?” tanya Alex yang mewakili leluhurnya.


“Seharusnya tak lama lagi. Kira-kira sekitar setengah-satu jam, seharusnya tiba ada di sana?” jawab Sumarni sambil tersenyum.


“Aku akan menunggu Om Kevin bangun terlebih dahulu!” sahut Alex tanpa menoleh ke arah arwah hantu itu. “Apa kau tak keberatan?”


Sumarni pun menggelengkan kepala, pertanda ia masih bisa menunggu.


Lalu kemudian tatapan mata Alex, menatap ke arah Alexa yang sepertinya tengah berusaha untuk memejamkan mata.


“Apa Kakek akan istirahat?” tanya Alex dengan sendu.


“Kakek tidak akan ke mana-mana. Kau tenang saja, Kakek masih ada urusan yang belum terselesaikan!” jawabnya dengan lembut. “Apa kau bisa menyetir mobil? Daripada menunggunya bangun, sebaiknya kau saja yang menggantinya menyetir.”


Atas saran dari leluhurnya akhirnya Alex pun menggantikan Kevin untuk mengambil kendali setir kemudi, meninggalkan hutan tersebut yang kini telah berdamai.


Untuk dapat di gunakan dan dilewati kembali, tanpa ada rumor yang menakuti warga di sekitarnya.


Mobil yang di kendarai oleh Alex pun telah tiba di desa tersebut dalam waktu sejam, kemudian ia pun terpaksa membangun dua saudara kembarnya yang telah tertidur dengan pulas.


Tak lupa ia juga membangunkan si pemilik mobil yang ia tumpangi, untuk mengatakan bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan.


Namun sebelum mereka sampai di desa tersebut, di alam mimpi baik Araxi dan Alexa telah di pertemukan oleh seseorang yang sangat mereka rindukan.


“Ara,” panggil Alexa. Yang di panggil pun hanya menatap dingin ke arah saudari kembarnya. “Mengapa kamu bisa datang kemari?” tanya Alexa yang merasa heran.


Seperti yang Araxi duga, ia sendiripun tak mengerti mengapa bisa sampai datang ke tempat yang tak seharusnya mereka datangi.


Pandangan netra mata dingin Araxi menatap ke arah seseorang yang tengah menghampirinya.


Seorang wanita cantik itu tengah berjalan sambil tersenyum, tak lama kemudian wanita cantik tersebut menyapanya.


“Long time no see Dear,” sapanya dengan lembut. “Kalian berdua sudah besar dan cantik,” pujinya pada Araxi dan Alexa.


Baik Araxi dan Alexa pun dibuat bingung, mengapa wajah mereka begitu mirip bagai pinang dibelah dua.


Beberapa detik kemudian merekapun baru menyadari seseorang tersebut, sehingga membuat keduanya merasa senang bisa bertemu dengan seseorang yang selama ini mereka rindukan.


“Mama,” panggil keduanya pada wanita cantik tersebut. “I miss you!”


“Mama juga rindu dengan kalian bertiga,” ucap Siska dengan sendu. “Oh iya maaf sudah menarik kalian ke tempat ini, karena ada suatu hal yang ingin Mama katakan pada kalian berdua!”


Saat akan mengatakan suatu hal Siska pun baru menyadari ada yang tak beres dengan penampilan di antara kedua putrinya tersebut.


“Mama lupa yang mana Araxi dan yang mana Alexa ya? Mengapa pula berdandan seperti ini?” ucap Siska sambil bertanya.


Yang mana membuatnya merasa heran dengan penampilan Araxi yang tak biasa dari kembarannya.


“Mama aku Alexa,” jawab Alexa sembari menunjuk ke arah diri sendiri. “Kalau dia baru Araxi!”


“Jadi sulungku ini menjelma jadi pria jadi-jadian begitu?” tanya Siska sambil berseloroh.


Araxi hanya bisa mendengus mendengar godaan yang dilontarkan oleh Mamanya tersebut.


“Lalu mengapa kamu berpenampilan seperti ini sayang? Apa kamu akan menyamai adik lelakimu itu begitu?”


Di cecar pertanyaan dari Mamanya tercinta, tak bisa membuat Araxi menjawab pertanyaan tersebut.


“Oke ... Oke ... Maaf ya Mama tak akan mengomentari penampilanmu,” ucap Siska yang baru menyadari ketidaknyamanan di dalam diri Araxi. “Maaf Mama menarik kalian ke tempat ini, karena ada yang ingin Mama tanyakan pada kalian!” dengan raut wajah yang serius Siska pun menjelaskan pada dua putri kembarnya tentang keadaan mereka yang di tarik ke dunia Siska.


“Kalian tahu bukan di dalam tubuh kalian ini, ada sesosok yang melindungi kalian dari kejarannya?” tanya Siska dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Kedua anak dari Siska itupun kompak menggeleng, sejujurnya mereka sendiripun tak mengerti.


“Karena saat Mama hamil kalian bertiga, Mama sendiri tanpa sengaja membuka kemampuan Mama yang sempat tertutup,” ungkap Siska sembari menceritakan semua kenangannya bersama Raymond sang suami tercinta. “Jadi karena itulah saat Mama melahirkan kalian bertiga, terpaksa Mama harus menyelamatkan kalian. Mau tak mau tanpa sengaja Mama memanggil kedua leluhur itu, untuk bisa menjaga kalian bertiga dari kejaran ibu tiri kalian itu.”


“Lalu kalau kita seperti ada lawang yang menjaga kita, sepertiku dan Alexa,” ucap Araxi yang masih tak mengerti dengan leluhurnya itu. “Bagaimana dengan tubuh Alex! Apa Alex juga ada pawangnya yang mendiami tubuh Alex Mama?” tanya Araxi dingin.


Siska sendiri itupun terkekeh saat mendengar pertanyaan dingin yang terlontar dari putri sulungnya tercinta.


Entah mengapa Siska merasa putrinya sulungnya tersebut sangat begitu mirip dengan suami tercinta, baik sifat dingin itu dan juga tingkah laku mereka benar-benar ayah dan anak.


Hal tersebut membuatnya tersenyum, pantas saja Albert sangat tertarik dengan putri sulungnya.


Pantas saja Albert begitu jatuh hati denganmu, karena pesonamu benar-benar seperti Papamu sendiri. Yang dingin datar seperti triplek berjalan. Batin Siska dengan tertawa.


Karena itu selain dingin pesona putri sulungnya sangat unik dari gadis maupun wanita mana pun, akan kalah dari putri sulungnya tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sudah up 3 bab ya


Bagaimana apa semakin menarik?


Atau semakin membagongkan?


Maklum lah aku hanya penulis receh


Eits biar pun begini aku akan tetap usahakan untuk tetap bisa membuat kalian nyaman dengan cerita-cerita yang tak bisa di tebak dengan nalar.


Jangan pernah bosan membaca cerita ini beda dari yang lain.


Yang mau berkenalan lebih dalam denganku


Masuk saja di grub chat ku


Caranya gampang klik profilku lalu ketuk pintunya di sana


Pasti aku buka dengan senang hati


Yang terpenting jangan dengan ini ya


Kopi mana kopi


Bunga mana bunga


Hati mana hati


E canda ding


Tenang kok aku gak terlalu ngoyo minta sogokan banyak


Cukup beri dukungan dengan like favorit sebanyak mungkin


Minta doanya ya semoga antologiku laku di pasaran juga


Kalian gak mau meluk juga?


Aku bisikin harga sekitar 70k itupun kalau enggak masa dalam po


Makanya masuk di grub chat ku kalau penasaran dengan harga antologiku


Wokeh cukup sekian terima gaji.


See you next time


Love you all sekebon rel sepur