
Jangan di tanya bagaimana perasaan Alexa saat tak sengaja melihat gambaran itu, tentu saja ia sangat sedih dengan kematian Mamanya yang begitu tragis, oleh sebab itu ia bertekad akan menuntut balas kematian untuk mamanya. Pada seseorang yang kini telah berhasil menggeser dan menggantikan posisi Mamanya tersebut.
Gambaran yang di perlihatkan oleh Araxi juga terhubung dengannya, Alexa tentu saja sangat langsung mengetahui sebuah peristiwa yang menimpa kedua orang tuanya tersebut.
Namun yang menjadi pertanyaan dibenaknya itu, mengapa peristiwa yang di alami oleh orang tuanya, tak pernah sedikitpun media memberitakannya, bahkan seolah-olah ada seseorang yang sengaja menutup kasus tersebut.
Lantas hal seperti ini membuat Alexa semakin yakin dengan dalang di balik kejadian tujuh belas tahun berlalu.
Pantas saja Araxi murka ternyata kau tak lebih dari seorang iblis, bahkan kau tak pernah menganggap putrimu ada. Kau memang tak akan pernah bisa menggantikan posisi Mama untuk Papa, bahkan sekarangpun aku tak akan pernah merestuimu dengan Papaku. Kau pikir bisa bersenang-senang begitu, setelah menikahi Papaku? Aku sangat yakin kau pasti menderita di atas pernikahanmu itu.
Alexa dan Alexa pun tak menyadari kebungkaman mereka secara tak sengaja menarik perhatian Theo yang tengah menyetir itu, akan tetapi ia tak bisa berbuat banyak.
Selain harus mengantar kedua kembaran tersebut menuju arah rumah sakit, dan karena tak tahan dengan kebungkaman dua kembaran itu.
Dengan terpaksa Theo menghubungi sahabatnya, untuk menanyakan tentang Leonard yang tiba-tiba menghubunginya itu.
Tak mudah bagi Theo untuk membagi waktu jalanan sambil menekan sebuah nomor ponsel milik sahabatnya itu, dengan terpaksa ia harus memakai handsfree yang berada di dasboard mobil tersebut.
Begitu panggilan telepon tersambung, Theo pun mendapat todongan pertanyaan dari sahabatnya itu. “Kenapa baru menghubungi balik Yo? Ke mana saja dirimu itu? Apa kau tak tahu aku sekarang sedang menyusul ke tempatmu berada!”
Deg– Seketika jantung Theo berdebar saat mendengar kabar, bahwa Leonard tengah menyusulnya ke tempat di mana Araxi di rawat.
Gawat apa Leonard sudah bertemu dengan salah di antara mereka? Bagaimana nanti kalau dia kecewa denganku? Maaf, aku tak bermaksud menyembunyikan mereka darimu. Kau pasti tahu bukan keberadaan mereka memang sengaja di sembunyikan oleh Ayahku dan Om Kevin dari kejaran ibu tirimu itu. Batin Theo resah.
Tentunya tanpa Theo sadari dua kembaran yang tengah bungkam itu, tak sengaja mendengar apa yang dilontarkan oleh isi hatinya tersebut.
“Mengapa kau sampai repot menyusulku ke mari Le?” tanya Theo balik. “Lalu bagaimana dengan pekerjaan urusan kantormu itu, bukankah kau sanggup memimpinnya sendiri.”
“Aku memang sengaja ingin menyusulmu. Apa kau keberatan!” jawab Leonard dingin dan ketus. “Oh iya Yo apa kau sudah bertemu dengan sahabat semasa bangku sma dulu, bahkan ia mengataiku gila. Karena mau bersahabat denganmu!” Leonard pun menceritakan pertemuannya dengan Ivone, sahabat mereka berdua pada waktu duduk di bangku sma.
“Apa! Kau juga sudah bertemu dengannya Le?” jawab Theo yang begitu kaget mendengar cerita dari Leonard itu.
“Oke nanti aku menemui, kau tinggal kirim lokasi saja. Karena aku sedang mengantarkan seseorang untuk kembali ke rumah sakit,” jawab Theo dengan tenang, meskipun pada akhirnya ia harus siap menerima konsekuensi.
Karena telah menyembunyikan sebuah rahasia tentang ketiga kembar yang selama di cari oleh Leonard itu sendiri.
Menghela napas panjang, dengan mengendarai mobilnya. Mau tak mau akhirnya Theo pun dengan terpaksa menyusul Leonard yang memang ingin mengobrol hal serius yang kini tengah mengganggu pikirannya.
“Yo jangan lupa jika urusanmu sudah selesai segera susul aku,” titah Leonard sambil memutuskan panggilannya secara sepihak.
.
.
.
.
.
Maaf ya baru up tapi tenan ae
Aku langsung up tiga bab sekaligus
Tapi ojok lali jalok kembang e aku
Yo ws sak munu ae yo
Sampek ketemu