
Maka dengan ini tak penghuni mana pun yang berani mengganggu dirinya, termasuk penghuni di dalam kamar mandi tersebut, yang sedari tadi ingin mengganggu Ivone akan tetapi ia merasa gagal. Karena Ivone sendiri yang selalu ingat dengan perkataan yang dilontarkan oleh Alexa.
Saat tiba di kantin rumah sakit, Ivone melangkahkan kakinya ke arah warung makan yang terjual di kantin tersebut, dengan membawa ia yang di terima dari Papanya ia pun pun memesan sarapan dan juga tak lupa minuman yang ia pesan di nikmati.
Sambil menunggu sarapannya itu, Ivone memilih ke arah bangku meja yang ia tunjuk, sehingga membuat si pemilik warung tanggap dengan keinginannya.
Setelah pesanan Ivone datang dengan begitu ia sangat lahap menikmatinya, sampai-sampai tak menyadari ada Leonard yang datang menghampirinya.
Saat Leonard sampai di kantin tersebut, ia tak menyangka netra matanya menatap ke arah seseorang yang sangat ia kenal, dan sejak lama ia berusaha menanyakan perihal tentang ibu tirinya pada orang tersebut.
Dengan memasukkan tangan di saku celana, seketika Leonard melangkahkan kakinya menghampiri seseorang yang dulunya ia anggap sebagai salah satu sahabatnya selain Theo.
Dengan senyum simpul sekarang Leonard pun bisa mempunyai tujuannya sebelum bertemu dengan ketiga kembar adiknya itu, ia terus memperhatikan cara makan Ivone yang begitu sangat lahap, dengan duduk di sebelahnya serta tak lupa melipat tangan di dada.
Leonard pun menyapa sahabat sekaligus saudari tirinya itu. “Pantas saja kau selalu terlihat biasa saja. Begini caramu menghilangkan kesedihan, bahkan cara makanmu tak bisa membuat tubuhmu bengkak.” Ucap Leonard sembari meledek Ivone.
Yang membuat Ivone tersedak akibat ledekan dari seseorang yang tiba-tiba datang.
Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...
Setelah meminum dan menghabiskan sisa yang sedang Ivone lahap, dengan kesal ia memarahi orang tersebut. “Bisa tidak jangan mengganggu saat aku sedang makan! Kau pun juga tak pernah berubah,” sahut Ivone dengan bersungut-sungut.
Leonard pun terkekeh pelan saat mendengar sahutan dari Ivone, seketika itu ia langsung mengatakan inti tujuannya menemui Ivone. “Bolehkah aku bertanya hal penting padamu?” tanya Leonard dengan raut wajah serius.
Memicing mata ke arah Leonard, membuatnya mengernyit bingung dengan raut wajah dari pria itu. “Hal penting apa yang ingin kau tanyakan padaku?” jawabnya sambil balik tanya.
Dengan berdehem, lalu berucap dingin, Leonard pun menanyakan perihal tentang privasi ibu tirinya pada seorang yang sangat ia anggap sebagai adik tiri. “Apa kau tak pernah bertemu dengan Mamamu?”
Mendengar pertanyaan dari Leonard, raut wajah Ivone pun menjadi tatapan yang sangat datar, tentunya sebagai seorang anak yang tak pernah diinginkan oleh Mamanya sejak Ivone dilahirkan, hingga sekarang mengantarkan pada pribadi yang sangat sulit untuk di taklukkan.
“Untuk apa kau membicarakan tentangnya padaku Le?” tanya Ivone datar. “Haruskah kau menyinggung perasaanku tentangnya? Mengingat luka yang ia torehkan sampai saat ini masih sangat membekas di hatiku!”
Mengingat Leonard pun memahami tentang ibu tirinya yang lebih mementingkan kehidupan Prisilia, dibandingkan dengan Ivone yang sangat lebih membutuhkan kasih sayangnya, dan juga ia sangat ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah up lagi yo ges
Jangan lupa dukung terus ya
See you next time
Love you all