
Di dalam mobil yang tengah membelah jalanan itu, terdapat seorang wanita paruh baya yang menahan amarah, ia tak menyangka ada pengkhianat yang tengah memata-matai pergerakan dan mengawasinya.
Namun sebelum itu terjadi ia terlebih akan melenyapkannya, mengingat pengkhianat tersebut menyimpan banyak rahasia tentang dirinya.
Sebaiknya aku bereskan ini terlebih dahulu, sebelum dia mengkhianatiku lebih dalam, tak aku sangka dia sendiri yang telah berkhianat, kalau begitu lebih baik mayatnya saja aku buat gantikan mayat wanita soal itu. Batinnya dengan seringai licik.
Tentunya, ia berencana menjadikan pengkhianat tersebut sebagai pengganti mayat dari wanita sial, yang akan ia bakar tulang belulangnya, agar tak seorangpun yang mengetahui rencana yang sedang ia susun.
“Aku ingin kau membunuh rekanmu itu. Karena dia pengkhianat sebenarnya,” titah Marista dengan sorot mata yang menyalang.
Ia yang tengah menyetir terkejut, saat mendapati kenyataan pengkhianat tersebut merupakan salah satu kepercayaan dari Nyonyanya, bahkan ia berpikir bagaimana Nyonya tersebut mengetahui pengkhianat sebenarnya? Dan hal tersebut yang tengah mengganggu pikirannya.
“Jangan lupa juga tugasmu setelah membunuh pengkhianat itu, jadikan mayatnya sebagai pengganti mayat yang akan kau dan rekanmu bakar, aku tak ingin mendengar kau gagal menjalankan misi ini dariku. Apa kau paham?” lanjut Marista dengan nada sarat ancaman.
“Baik Nyonya akan saya lakukan perintah anda. Lalu apa ada lagi yang ingin anda sampaikan?”
Tak mendapat respons dari Nyonyanya, ia lebih memilih bungkam, daripada mengundang kemarahan yang ada di dalam diri Marista Mayang.
Selang beberapa menit kemudian tibalah mobil yang dikendarainya, di tempat tujuan Marista untuk beristirahat, sambil mengusir anak buahnya tersebut tanpa perasaan.
“Kau, kembalikah ke markas untuk melakukan perintah dariku. Ingat jangan sampai gagal, jika tak ingin nyawamu yang menjadi taruhannya,” usir Marista. “Jangan lupa untuk membunuh pengkhianat itu.”
Nyonya saya tak tahu siapa engkau sebenarnya, bahkan memandang wajahmu saja saya sedikit merasa segan dengan anda, yang saya tanyakan menyapa aura anda sedikit terlihat menyeramkan dibandingkan orang lain yang pernah saya temui. Jika pun anda ingin nyawa, saya siap menyerahkanya suka rela dengan anda. Karena sejatinya saya tak ingin menjadi anak buah anda.
*****
“Aku mau pergi sama Alex dan juga dia Kak,” sahut Alexa sambil menunjuk ke arah Leonard dan juga Theo. “Memangnya kenapa Kak? Apa Kakak mau ikut?” tanya Alexa sembari menawari Ivone.
Ivone pun menggeleng kepala, ia seperti tak tertarik dengan tawaran dari Alexa, ia sedang kesal dengan Papanya.
Karena Papanya tersebut menyembunyikan sesuatu yang membuat dirinya merasa kecewa.
Kevin yang sedari tadi menyimak itupun memutuskan untuk mendekati mereka, dan juga tak lupa ia menanyakan tujuan ketiganya yang seperti tengah merencanakan sesuatu.
“Kalian berempat ini mau pergi ke mana?” sapa Kevin sambil bertanya.
“Aku sama mereka mau berkunjung ke Mama Om,” sahut Alexa dengan menjawab pertanyaannya seraya balik tanya. “Memangnya kenapa Om? Apa ada masalah?”
Kevin pun menggeleng kepala, pertanda ia tak ingin mencampuri urusan pribadi antara kedua kembar itu dengan Leonard kakak kandungnya.
Namun sebelum itu, Kevin pun memutuskan untuk memberitahukan pada Leonard ...