Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Laporan Mata-mata Kevin Tentang Rencana Marista


Namun diluar dugaan ada rekannya yang begitu berani menanyakan secara langsung pada Nyonyanya tentang perintah selanjutnya yang sengaja mereka tunggu, “Permisi Nyonya, apakah anda ingin memberi perintah kembali pada kami?”


Marista yang masih tertawa itupun berhenti sejenak, saat ia mendengar pertanyaan dari anak buahnya tersebut. “Lakukan semua perintah dan permintaanku, ingat jangan sampai aku mendengar kalian semua gagal. Paham?”


“Baik Nyonya,” jawab semuanya dengan kompak. “Apa ada tempat untukku beristirahat? Karena aku lelah dan sangat ingin tidur, ingat jangan ada yang berani menggangguku?”


“Nyonya saya minta maaf untuk kamar yang ada di sini mungkin tak terlalu cocok dengan tubuh anda, sebaiknya biar saya yang mengantar anda ke arah penginapan di sekitar sini,” jawab anak buah Marista yang lain, sambil menawarkan diri untuk mengantarnya ke tempat tersebut.


Dengan berdecak kesal Marista pun mau tak mau menerima tawaran dari anak buahnya, mengingat ia benar-benar tak begitu menyukai tempat yang membuatnya jijik. “Aku tunggu kau di mobil, minta kuncinya pada rekanmu itu.”


Tanpa menolehkan kepala ke arah belakang, iapun melenggangkan kakinya menuju mobil pribadi kesayangannya, sambil menunggu anak buahnya yang tengah mengambil kunci tersebut.


Sementara itu setelah ia menyerahkan kunci mobil pada rekannya, dengan cepat ia bergegas masuk ke dalam sebuah kamar mandi yang berada didalam kamar miliknya, untuk segera melaporkan pada Tuannya tentang sebuah rencana yang dilakukan oleh Nyonyanya tersebut.


Namun sebelum melancarkan aksinya, iapun harus memastikan bahwa tak seorangpun yang mencurigainya tengah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Tuannya.


Setelah ia sampai ke dalam kamar miliknya, dan juga tak lupa memeriksa pergerakannya melalui CCTV yang terekam dari laptop pribadinya, yang dengan sengaja ia hapus rekaman barusan sebelum ia melancarkan aksinya.


Nyonya, anda sama sekali tak pernah berubah, aku tak habis berpikir mengapa orang sepertimu selalu berambisi besar, untuk menyingkirkan seseorang yang telah menyinggungmu. Bahkan anda sama sekali tak pernah berpikir tentang perasaan ketiga bayi kembar yang anda pisahkan dari orang tua kandungnya, sungguh saya sangat menyesal telah mengikuti dan selalu menuruti permintaan anehmu itu Nyonya. Kalaupun saya mengetahui keberadaan ketiga bayi kembar itu, maka dengan ini saya harus mengorbankan nyawa untuk melindungi mereka bertiga dari semua ambisimu.


Untuk membalas pengkhianatan pada Tuannya, dengan terpaksa ia melakukan tugasnya terakhir sebagai mata-mata yang selama ini di tugaskan dari Tuannya tersebut.


Lalu kemudian iapun mengeluarkan ponsel pintarnya untuk menghubungi dan melaporkan pada Tuannya, sebelum Nyonyanya kembali berulah, dengan mengirimkan sebuah pesan singkat serta tak lupa ia meminta bantuan untuk melindungi keluarga yang akan ditinggalkan olehnya.


[“Tuan Kevin ini saya yang ingin melapor pada anda.”] menekan tombol send pada sebuah nomor pada kontak tersebut, tanpa pernah ada yang mengetahui bahwa ia adalah seorang mata-mata yang mendapat tugas langsung dari Kevin Morgan Adhitya.


Karena tak mendapat jawaban dari Tuannya, dengan terpaksa ia mengetik ulang kembali sekaligus langsung melaporkan pada Tuannya itu. [“Tuan saya tak bisa lama-lama di sini. Langsung saja pada intinya Tuan, Nyonya sedikit mulai curiga pada saya, dikarenakan ...”]