
Sekolah ketiga orang kembar tersebut, berjarak jauh dari arah rumah mereka.
Dengan terpaksa ketiganya berangkat ke sekolah sembari naik kendaraan umum, ya mereka pun naik bus yang saat itu tengah melintasi halte yang sedang di tunggu oleh mereka.
Tak lama kemudian bus yang mereka tumpangi, tibalah di halte yang hanya beberapa jarak dari arah sekolah mereka.
Yang membuat ketiganya harus berjalan kaki, untuk bisa sampai ke gerbang sekolah tersebut.
Namun saat hampir sampai di gerbang sekolah, salah di antara mereka seketika berkeringat dingin setelah secara tak sengaja melihat sebuah bayangan yang tersamar yang baru saja di dapat olehnya.
“Ada apa Alexa?” tanya Alex seraya menghentikan langkahnya. “Apa kau telah melihat sesuatu, sehingga tubuhmu menjadi berkeringat dingin seperti ini?” todong Alex pada Alexa.
“Gedung sekolah yang akan kita masuki, memiliki aura negatif yang sangat dingin. Aku bisa merasakan kehadiran mereka di tiap sudut ruangan yang akan kita datangi,” sahut Alexa seraya menjelaskan apa yang berhasil di lihat olehnya.
Hingga membuat ke dua orang saudara kembarnya melakukan hal yang sama, namun berbeda dengan Alex yang terlihat tenang nan misteri saat berhasil melakukan apa yang di lakukan olehnya dengan Ara.
Melalui pikirannya Alex menyampaikan pesan langsung pada Ara yang tengah menatap gedung sekolah mereka dengan sorotan yang mendingin.
“Ara,” panggil Alex yang mana ia berbicara lewat batinnya dengan Ara. “Apa kau juga merasakan apa yang di rasakan oleh Alexa?” tanya Alex.
“Tanpa kau bertanya pun, seharusnya sudah bisa mengerti dengan apa yang aku lakukan ini. Lagi pula nanti ada Albert dan Angel yang akan menemani kita, bukankah selama ini mereka berdua yang selalu menjaga kita,” Penjelasan Ara dengan panjang dan singkat untuk membuat ke dua saudara kembarnya, tak terlalu memikirkan keadaan sekitarnya itu.
“Ingat juga ini baik-baik, katakan pada Alexa untuk tak terlalu menggunakan sesuatu yang bukan bagian penting dari saat kita berhadapan dengan musuh. Apa kamu paham Alex!” peringat Ara melalui batin Alex dengan sorotan mata yang datar.
Tanpa menjawab apa pun dari Alex, sang kakak itu pun memasuki gerbang terlebih dahulu.
Yang mana sang kembaran tercinta langsung di sambut oleh sebuah mobil yang melintas.
Turunlah si pemilik mobil tersebut, seraya mengejek sang kakak tercinta. Yang mana membuat darahnya seketika mendidih.
Ya, Alex baru saja melihat dengan saksama dari sorotan mata gadis angkuh nan sombong itu yang tengah mengejek sang kakak tercinta sangat terhubung dengan kejadian di mana saat mereka sebelum di lahirkan.
‘Apa kau pikir bisa sesombong ini, menghina kami bertiga. Kalau pun kau tahu siapa kami sebenarnya, yang ada kau tak akan bisa berbuat apa-apa. Terkecuali ibumu yang tamak dan serakah itu, meski pun ibumu telah menikah dengan papa. Akan tetapi tak pernah terlintas sedikit pun papa mengkhianati mama, meski pun mama di lenyapkan oleh ibumu. Karena hati papa sudah terpaut dengan mendiang mama kami bertiga!’ gumam Alex dalam batin.
Yang tanpa Alex sadari terdengar langsung dari Ara sang kakak kembarnya, itu menyeringai setelah ia mendengar semua yang di lontarkan oleh Alex.
Kembali lagi di mana dengan seorang Araxi yang tengah di hadang oleh seorang gadis yang merupakan anak pemilik dari sekolahnya tersebut tengah menghina dan mengejek dirinya serta kedua saudara kembarnya.
“Sejak kapan sekolah kita kedatangan tamu dari desa hem?” tanya Prisilia pada teman gengnya.
Bukannya menjawab pertanyaan dari gadis tersebut, tanpa sengaja Ara melihat arwah penasaran yang mengikuti salah satu teman dari gadis sombong tersebut.
“Hai kau belum menjawab pertanyaan dariku!” sentak Prisilia dengan geram.
Dengan sorotan mata yang mendingin tanpa menghiraukan perkataan yang terlontar dari gadis tersebut, tanpa banyak kata Araxi melewati mereka begitu saja.
Hingga membuat darah di diri Prisilia, gadis sombong itu mendidih. Karena di acuhkan oleh Ara yang melewatinya begitu saja.
“Sialan,” umpat Prisilia. “Berani sekali mengacuhkanku! Belum tahu siapa yang berkuasa di sekolah ini.” Gumamnya seraya mengepalkan tangan.
“Apa perlu kita menghadangnya bos?” tanya rekan gengnya pada sang bos tersebut.
Seketika ia pun menyeringai dengan licik, kemudian tanpa aba-aba ia menyuruh rekan gengnya untuk menghadang seseorang yang berani mengacuhkannya.
Darah di tubuh Ara pun mendidih, saat ini di sebut dengan sangat menjijikkan. Justru julukan itu lebih cocok untuk diri Prisilia sendiri.
Namun tak ingin kelebihannya dengan sang kembaran terdengar sampai ke telinga orang lain, melalui pikiran batin.
Dengan gerakan cepat Ara pun terpaksa menyuruh Alex membawa pergi Alexa terlebih dahulu, biarkan dirinya sendiri yang menghadapi kebrutalan dari geng Prisilia tersebut.
‘Alex bawa Alexa pergi dari sini! Jangan sampai aku melihatmu dengannya masih ada di sini. Tugas pertama untukmu cari tahu penyebab kematian dari arwah yang mengintai rekan anak geng itu. Karena arwah itu membawa dendam besar, auranya begitu kuat. Ingat jangan libatkan Alexa, karena ia masih belum bisa sepertiku mau pun sepertimu. Apa kamu paham Alex!’ Bisik Ara melalui pikiran yang dengan secara langsung tersalurkan di dalam pikiran Alex.
‘Tapi Ra!’ Sela Alex melalui pikiran yang langsung mendapat sorotan mata yang mendingin.
Tentunya hal tersebut mau tak mau Alex pun terpaksa membawa Alexa menyingkir dari hadapan para geng tersebut.
‘Kamu harus berhati-hatilah pada mereka Ra. Aku tak mau kamu terluka. Mengenai arwah itu, aku masih belum melakukannya untukmu. Butuh sedikit waktu, karena ia arwah yang di penuhi oleh sebuah dendam’ Melalui pikiran masing-masing baik Ara maupun Alex menyampaikan sebuah pesan yang hanya mereka yang bisa melakukan hal tersebut.
‘Kamu tenang saja, biar aku yang mengecohkan. Agar kamu segera bisa mencari tahu, apa yang di inginkan oleh arwah tersebut. Minta bantuan pada Albert dan Angel, mengingat kamu tak akan mampu menghadapinya!’
Tanpa menjawabnya, dengan tanggap Alex pun mulai melakukan apa yang di katakan oleh Ara, sembari menunggu reaksi dari kembarannya untuk mengecoh geng tersebut. Sementara dirinya mulai beraksi, tak lupa juga ia memanggil Albert dan Angel.
Kembali pada Ara yang saat ini terlihat tak takut sekali pada sekelompok geng yang sedang menghadangnya, dengan sorotan mata yang mendingin. Siapa pun yang melihat tatapan mata itu, menjadi segan. Tak terkecuali pada geng yang di pimpin oleh Prisilia.
Seketika tengkuk di antara geng tersebut, di buat merinding. Tak kala Ara menggunakan sedikit kekuatan yang di punya untuk memberi efek jera.
Namun tak di sangka olehnya, si pemimpin geng tersebut mendekatinya untuk memberinya pelajaran.
Hal tak terduga justru ia sendiri yang di permalukan oleh seorang Araxi si gadis tomboi nan misteri itu.
“Apa masalahmu?” tanya Araxi dengan sorotan mata yang mendingin itu.
Sama seperti ibunya yang pandai bersilat lidah, dengan sengaja Prisilia mengumumkan bahwa ia merasa sedikit risi sekolah milik orang tuanya.
Di injak oleh mereka yang notabenenya hanya murid beasiswa yang berprestasi.
“Apa ibumu menjadi wanita penghibur untuk bisa masuk ke sekolah ini! Bukankah aneh bagi kalian bertiga bisa masuk dengan mudah,” ucap Prisilia berkilah dengan nada sinis.
Namun ia sempat tertegun dengan sorotan mata yang dingin itu mengingatkannya pada kakak tirinya yang bernama Leonard.
Jangan di tanyakan lagi seketika hawa di sekeliling sekolah itu menjadi lebih dingin, ekspresi amarah yang di tuju oleh Ara membuat semua orang di sekitar tak berani menatap ke arah seseorang yang sedang menatapnya dengan sorotan yang mendingin bagai es kutub utara.
Tanpa banyak berbicara sembari menahan amarah yang sedang di tahan olehnya, dengan gerakan cepat ia pun menghampiri dan membisikkan sebuah kata yang membuat Prisilia terkejut bukan main.
“Kalau ibuku seperti dugaanmu itu! Lalu apa kabar denganmu sendiri, seorang Prisilia yang kehadirannya tak pernah di anggap oleh papa dan kakak tirimu itu,” bisik Araxi dengan datar sembari tersenyum licik.
Saat melihat Prisilia tercengang dengan bisikan yang di lakukan oleh dirinya.
Dengan beranjak dari tempat tersebut, menuju arah di mana Alex tengah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan arwah penasaran itu.
‘Sialan, bagaimana mungkin dia bisa mengetahui semua tentangku! Tapi mengapa sorotan mata itu seperti kak Leo? Bukankah ibu mengatakan padaku, bahwa dulu ibu melenyapkan mama dari kak Leo beserta adik kembarnya. Tak mungkin mereka bertiga bisa hidup kembali! Aku harus memastikan hal ini, sebelum bertanya pada ibu!’ Mengumpat sembari berperang batin antara rasa tak percaya pada diri Prisilia.
Yang tanpa di sadari olehnya, terdengar langsung dari seseorang yang sedang ....