
Untuk menyampaikan informasi yang Theo dapatkan tentang hasil tes DNA Leonard dengan Araxi.
Sedikit lagi Le. Aku harap ini memang benar adanya, bahwa mereka bertiga itu ketiga adik kembarmu. Aku harap setelah ini kalian bisa bertemu dalam waktu yang sangat panjang.
*******
Pada pagi hari di sebuah mansion terdapat seorang wanita paruh baya yang tengah menahan kesal sekaligus kecewa yang sangat mendalam.
Karena sejak semalam suaminya itu tak menunjukkan diri di mansion tersebut. “Sialan kau Ray, tak bisa menemuimu sekarang kau semalam tak pulang ke mansion ini. Apa yang kau lakukan di luaran sana?” Umpat Marista dengan geram.
Sebagai seorang istri kedua dari Raymond Wesley Wiratmaja, Marista pun tak menyangka pria yang selama tujuh belas tahun ia nikahi itu tak sedikit pun membalas perasaannya, bahkan menganggapnya sebagai seorang istri pun tak pernah ia rasakan.
Lantas hal tersebut yang membuatnya sangat geram dengan sikap dingin yang di tujukan Raymond untuk dirinya.
Bahkan jika Raymond sampai mengetahui bahwa ialah yang telah membunuh istri tercintanya itu, tak menuntut kemungkinan ia akan di benci oleh orang yang menjadi obsesinya tersebut.
Karena selain membunuh istri tercinta dari Raymond, ia juga pun dengan sengaja membunuh kedua orang tua dari Raymond itu sendiri, dan sampai saat ini kasus tersebut belum bisa terpecahkan, mengingat Marista yang meminta bantuan pada polisi untuk tak terlalu mengungkapkan kasus itu.
Kini ia tengah berdiri di luar mansion untuk menunggu salah satu anak buahnya ke tempat yang menjadi tujuannya itu datang ke sana.
Mengingat salah satu anak buahnya itu sebagai mata-mata di perusahaan Raymond, agar ia bisa mengawasi keberadaan Raymond di manapun ia berada, tak akan pernah luput dari pengawasan ketat darinya.
“Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta padamu? “ tanya Marista yang membuka suara.
“Saya minta maaf Nyonya! Dari semalam saya tak melihat Tuan keluar dari ruangannya,” jawabnya tanpa menoleh kepala ke arah Nyonyanya tersebut.
Sialan kau Ray sudah semalam kau mengabaikan kedatangan sekarang kau menghilang di telan bumi, kau sungguh benar-benar membuatku muak. Kalau bukan demi Prisilia aku tak akan pernah mau bertahan denganmu, kau kira aku akan melepaskanmu. Tidak sampai kapanpun kau akan terus tunduk padaku, meskipun kau tak begitu menganggap keberadaanku ada. Umpatnya dengan geram.
Tentunya apapun yang terjadi ia tak akan pernah melepaskan pria yang selama ini menikahinya itu, meskipun saat nanti kebohongan yang ia miliki terbongkar, mengingat obsesinya pada Raymond Wesley Wiratmaja tak pernah main-main sekalipun ia harus membakar tulang belulang miliknya mendiang istri pertamanya itu. Yang tak lain seseorang yang telah merenggut cinta pertamanya tersebut.
“Baiklah awasi pergerakan dari suamiku, kalau kau mendapati dia mengunjungi sebuah makam. Bakar saja tulang belulang itu, lalu buang abunya itu ke laut. Karena aku sangat tak ingin dia terus mengunjunginya!” Perintah Marista tegas.
Sebagai bentuk rasa kesalnya pada istri pertama Raymond, dengan menahan napsu ia akan tetap melakukan apapun yang ia inginkan.
Lalu kemudian setelah Marista memberi anak buahnya perintah, kini tak ada lagi obrolan yang terdengar dari suaranya, bahkan mobil yang di tumpangi Marista Mayang terus melaju ke arah tujuannya ke tempat tersebut.