Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Siapakah Sebenarnya Gadis Kecil Itu


Sekarang Ivone pun benar-benar mengerti dan memahami tentang perkataan dari Leonard terus membuat berpikir ulang apakah ia sanggup memaafkan ataukah ia harus menyerah dengan keadaan, hal itulah yang tengah mengganggu pikirannya.


Sampai suara serak bariton milik Papanya membuyarkan lamunannya tersebut.


“Apa yang sedang kamu pikirkan Sayang?” tanya Kevin yang merasa heran dengan tingkah laku putrinya.


Ivone pun menggeleng kepala. “Tidak ada yang sedang aku pikirkan Pa!”


“Lalu apa kamu masih sanggup mendengarkan semua cerita dari Papa?”


“Sudah cukup jangan Papa teruskan cerita itu,” jawab Ivone dengan nada meninggi.


Kevin yang baru pertama kali mendengar nada tinggi putrinya mendadak hatinya mencelos. Apakah luka hati yang di terima oleh putrinya sangat dalam, hal tersebut yang mengganjal di benaknya.


Mengingat putrinya tercinta itu terlalu pandai menyimpan luka hatinya sendiri, sehingga ia benar-benar tak bisa memahami perasaan putrinya tersebut.


“Maaf!” sesal Kevin sembari menatap sendu ke arah putrinya. “Kalau itu maumu baiklah. Papa berjanji tak akan membahas perihal tentangnya di depanmu, jika itu yang selalu membuatmu terluka. Karena kamu adalah harta paling berharga milik Papa.”


Tanpa menjawab pertanyaan Ivone menggenggam erat jemari tangan yang selalu memberinya kehangatan tak pernah ternilai harganya. “Maaf juga telah membentakmu sedikit Pa, jujur saja aku sangat muak dengan keadaan ini. Bahkan aku sudah lelah hati dan pikiranku saat Papa selalu membahasnya, dan juga saat ini yang ada di hatiku selamanya hanyalah cintamu yang tak pernah bisa terukur. Jika di bandingkan dengan semua pengorbananmu untuk merawatku sepanjang napasmu berhembus.”


Bahwa ia telah berhasil mendidik putrinya tercinta, menjadi seorang yang sangat istimewa tanpa pernah ia tahu putrinya tersebut sangat membenci orang yang telah membuatnya dan Papanya terluka.


Kamu sudah sangat dewasa, maafkan ketidaksempurnaan Papamu ini. Kamu melewati banyak hal yang terlalu begitu menyakitkan, dan kamu benar tak seharusnya Papa terpuruk dalam luka yang telah di torehkan darinya. Baiklah sesuai janji Papa padamu, dihadapanmu sekarang Papa tak akan pernah membicarakan perihal tentangnya. Papa akan menutup mata dan hati tentangnya, biarlah ia mati bersama kenangan masa kelam itu.


Maafkan aku tak bermaksud menyimpan hal ini denganmu Pa. Karena sampai kapanpun aku tak akan pernah memaafkan dan bahkan mengingat namanya pun aku tak sudi, sejak ia memutuskan darahnya denganku ia bukan lagi seorang yang biasa aku panggil dengan sebutan Mama.


“Sebaiknya kita kembali ke rumah sakit,” ucap Kevin sembari mengurai pelukan.


Tanpa menjawabnya Ivone pun hanya diam sambil mengangguk kepala, sembari menunggu Papanya membayar makanan yang di pesan oleh Papanya tersebut.


Lalu beberapa menit kemudian mereka pun meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke rumah sakit tempat Araxi di rawat.


Di dalam mobil yang sedang melaju tersebut, Ivone pun kembali melamunkan sebuah keputusan yang tengah ia ambil itu. Karena sejatinya ia terlalu sulit melupakan perkataan yang dilontarkan oleh seseorang yang benar-benar Ivone benci, bahkan untuk melihat wajahnya sekarang pun ia merasa enggan.


Apalagi semenjak pertemuan makan malam beberapa minggu lalu sangat membekas di ingatannya, bagaimana mungkin ia yang tak ingin di sebut ibu begitu menyayangi seorang gadis yang lebih muda dari dirinya.


Namun besar kemungkinan gadis tersebut tak begitu mengetahui sebuah rahasia besar yang begitu rapi di sembunyikan oleh wanita yang berhati iblis tersebut.