
Araxi yang masih menangis itu hanya bisa berdiam diri, saat ini ia begitu sangat ingin marah pada dirinya sendiri, yang sepunuhnya tak mengetahui kebenaran dan sebuah fakta tentang keadaan Papanya tersebut.
Hal itu membuatnya semakin geram dengan tindakan seseorang yang kini menjadi ibu tirinya itu, ia juga tak menyangka wanita tersebut benar-benar tak memberi celah sedikitpun.
Untuk ketiganya agar ia dan juga kembarannya tak bisa bertemu dengan papa dan kakak kandung itu.
Tanpa sadar Albert kembali ke dalam kamarnya itu, dan juga Albert dikejutkan dengan keadaan Araxi yang menangis dalam diam.
Tanpa memedulikan kedatangan Albert yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar inapnya, seketika Araxi pun semakin malas untuk bertatapan dengan sesosok hantu tampan itu.
Ada apa dengannya? Mengapa seperti ini terus, sejak aku datang kembali. Seakan-akan ia enggan menatapku lagi, bahkan sekarang ia jadi semakin dingin. Apa yang membuatmu seperti ini Ra? Batin Albert dengan penuh tanda tanya.
Tentunya Albert merasa sedikit kecewa dengan sikap dingin yang di lakukan oleh Araxi, mengingat ia sendiri merasa tak nyaman dengan sikap dari pujaan hatinya itu.
Karena merasa penasaran dengan sikap Araxi, dengan terpaksa Albert melihat keadaan itu menggunakan kemampuannya.
Namun ia tak berhasil menemukan apapun di sana, justru ia di kejutkan dengan pemandangan Araxi yang dapat melihat gambaran dari Papa kandungnya tersebut.
Albert pasti menduga bahwa Araxi sangat merindukan Papanya tersebut, meskipun belum pernah bertemu sekaligus. Dan kini Albert semakin memahami perasaan Araxi terhadap Papanya itu.
Wajah Albert pun menjadi tergugu dengan sisi rapuh dari gadis tomboi dingin pujaan hatinya tersebut, ia pun juga baru pertama kali melihat sisi rapuh dari Araxi yang selalu menutupnya dengan wajah yang dingin itu.
Dengan terpaksa Albert memberanikan diri untuk menghibur Araxi yang terlihat sangat rapuh, seakan membuat hatinya sangat sakit tak kala melihat keadaan Araxi yang sekarang. Serapuh inikah hatimu Ra? Tolong jangan kau buat hatiku sakit melihatmu seperti ini, apa kau tak tahu ketika kau menjadi rapuh seperti ini. Aku justru ikut merasakan semua hal yang terjadi pada dirimu.
Seperti itulah suara hati Albert saat melihat keadaan Araxi yang terlihat rapuh, akan tetapi ia tak menyadari bahwa semua yang ia lontarkan terdengar langsung sendiri dari si gadis tomboi dingin tersebut.
Namun kini Araxi memilih lebih diam, mengabaikan keberadaan Albert yang tengah berusaha menghiburnya itu dengan memperlihatkan singkatnya yang begitu dingin.
Untuk menutupi hatinya yang tengah rapuh merindukan seseorang yang seharusnya selalu ada bersamanya dan juga bersama dengan kembarannya.
“Ra,” panggil Albert yang tengah membuyarkan lamunan Araxi. “Apa yang sedang terjadi denganmu? Apa kau butuh sesuatu dariku Ra?” tanya Albert setelah ia berhasil mendekat ke arah Araxi dan duduk di atas brankar tersebut sambil menatap sendu wajah dingin itu.
Araxi yang sedikit melamun itupun secara tak sengaja menolehkan kepala ke arah Albert yang terus menatap wajahnya dari jauh yang cukup dekat, sehingga hembusan napas dari wajah pucat pasi milik Albert menyapu sekitar ke arah wajahnya, seketika tanpa sadar wajah Araxi berubah menjadi merah merona.
Tentunya hal tersebut membuat dirinya merasa kesal sekaligus merasa malu dengan tingkah laku dari Albert.
“Menjauhlah sedikit wajahmu jangan terlalu dekat,” tegur Araxi dingin.
Mendapat teguran dari Araxi, seketika itu Albert dibuat heran dengan tingkah laku dari gadis tomboi dingin pujaan hatinya tersebut, ia pun merasa gelisah saat Araxi menegurnya.
“Apa maksudmu Ra? Bukankah kau selalu bersikap biasa saat aku seperti ini denganmu?” tanya Albert yang semakin heran dengan sikap yang dilakukan oleh Araxi.
“Sudahlah Al itu sangat tak penting denganku, dan sekarang aku mau bertanya padamu. Apa kau mengetahui siapa sebenarnya rahasiaku dan dua kembaranku, aku merasa bisa melihat suatu gambaran yang berhubungan dengan Mama.” Araxi pun mengutarakan semua yang ada di pikirannya dan juga ia menanyakan hal tersebut pada sesosok hantu tampan itu.
Bukannya menjawab pertanyaan yang di utarakan oleh Araxi, Albert pun menanyakan perihal tentang suatu gambaran yang di perlihatkan oleh Araxi. “Apa yang telah kau ketahui tentang perlihatanmu itu Ra? Apa kau juga telah mengetahui siapa dalang dibalik kematian Mamamu?”
Dengan mengangguk kepala Araxi pun menceritakan semua yang telah terjadi pada Albert, sehingga besar kemungkinan Albert sendiri yang menyimpan sebuah rahasia yang selama ini rapi tentang kecelakaan itu.
“Aku yakin kau juga telah menyembunyikan rahasia tentang jati diriku.”