Kembar Tiga Indigo

Kembar Tiga Indigo
Part 198


Tak lama kemudian Albert kini tiba di sebuah makam dengan hanya beberapa orang yang berlalu lalang sampai pandangan mata menatap mengarah sesosok yang menjaga makam mendiang Siska.


Albert menghampirinya untuk menanyakan apakah ada kendala atau tidak tentang kepindahan makam tersebut.


“Apa ada masalah tentang kepindahan makam ini?” Tanpa menyapa Albert mencecarnya dengan pertanyaan yang banyak.


“Tak perlu cemas aku sudah memasang pagar ini, dan melindungi makam yang selalu menjadi incaran itu.” Tentu saja sesosok yang dulu mengabdi pada dukun yang menolongnya kini berganti membalas kebaikan dari seorang wanita yang berhati lembut.


“Baiklah kali ini aku menyerahkan semua di sini pada dirimu.” Albert memberi perintah, dan meminta menjaga makam tersebut agar terhindar dari kejaran seseorang yang begitu sangat obsesi dengannya.


Selesai mengobrol antara hantu tampan dan makhluk tersebut. Pandangan mata Albert menangkap ke arah Alex yang masih enggan beranjak dari makam.


Tentu saja bagi Alex keputusan yang diambil oleh Araxi secara tak langsung mengantarkannya bertemu dengan sesosok yang merasuki raga Raymond.


Ada apa dengannya? Mengapa dia terlihat lebih dingin dari Ara? Apa sesuatu sedang terjadi? Membatin dengan penuh tanda tanya tentang sikap dingin dari Alex kembaran Araxi.


***


Di tempat lain anak buah Andra sedang memantau untuk merebut jasad yang akan menjadi pengganti dari jasad Siska. Hal tersebut atas perintah langsung dari Tuannya Kevin Morgan Adhitya. Namun, mereka tak menyadari sedari tadi ada seseorang yang mengintai pergerakannya.


Sampai akhirnya semua tersebut menjadi kacau, dan membuat kedua kubu tersebut saling menyerang.


“Apa yang kalian inginkan dari kami?” Salah satu orang dari kubu Marista menghadang salah satu orang dari kubu Kevin.


“Kami hanya ditugaskan untuk merebut jasad yang kalian bawa!”


“Oh jadi, kalian ini mau mengambilnya dari kami?”


“Serahkan itu pada kami atau ....”


“Banyak ba'c0t serang!”


Perkelahian dari kedua kubu tersebut tak terelakkan sampai di antara mereka berhasil merebut, dan membawa lari jasad yang disinyalir sebagai seorang pengkhianat.


Begitu jasad mereka berhasil di bawa, anak buah Marista Mayang mengumpat geram karena mereka gagal melakukan tugas yang di emban.


“Kalian obati luka-luka, biar Nyonya aku yang menghadapi!” Salah seorang anak buah Marista memerintahkan beberapa rekan yang lain untuk mengobati luka-luka yang di dapatkan dari perang tersebut. Sambil salah satu tangan menggenggam ponsel yang menempel di telinganya.


“Maaf, Nyonya, kami gagal membawa jasad itu.” Begitu panggilan tersambung ia pun langsung melaporkan hal tersebut pada sang Nyonya.


“Bagaimana hal itu bisa terjadi, hah! Apa kalian semua tak becus membawanya?” terang Marista dengan geram.


“Kau menggagalkan rencanaku!” Marista menghardik dengan suara teriakkan yang cukup mencekam.


“Saya, siap menerima hukuman, Nyonya!”


“Aku tak mau tahu! Dapatkan kembali jasad itu, lalu segera lakukan rencana yang telah ku susun rapi! Ingat jangan sampai aku mendengar kau gagal melakukannya atau nyawamu menjadi taruhan!”


Panggilan tersambung itu pun diputuskan secara sepihak oleh Marista! Mau tak mau mereka harus bisa merebut kembali jasad tersebut.


Yang mana di tempat lain ketika Marista Mayang mendapat laporan itu, membuat ia kalang kabut sampai mengubah pandangan mata menjadi seseorang yang selama ini mengendalikan dirinya.


Seseorang iblis yang selama ini mengejar orang yang dia cintai itu ....


.


.


.


.


.


Blurb:


Berbekal ijasah SMA, Putri memberanikan diri mengadu nasib di Ibukota.


Seorang gadis yatim piatu mengadu nasib di kota besar yang secara tidak sengaja memiliki hubungan dengan pengusaha muda dan menguak misteri masa lalu.


Sky Putra Gandratama, pengusaha muda yang sukses membawa perusahaannya mencapai puncak kejayaan.


Hidupnya berubah setelag bertemh dengan seorang gadis belia yang secara tidak sengaja dia undang masuk kedalam kehidupannya.


Bagaimana kisah mereka?


Misteri apa yang terjadi dimasa lalu?