I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 98


Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Amartha saat ini. Tentu saja sangat lega setelah melihat anak pria keparat itu keluar juga dari dalam rahimnya.


“Boleh minta tolong letakkan itu pada sebuah wadah? Terserah apa saja,” pinta Amartha.


“Boleh.” Dokter Beverly memberikan perintah pada perawat yang ikut bersamanya masuk ke ruangan pasien untuk mengambil wadah yang diminta oleh Nona Amartha Debora.


Tak berselang lama, perawat itu datang lagi dan memberikan sebuah cup yang tak terlalu besar tapi cukup untuk menaruh embrio yang baru sebesar buah ceri.


Dokter Beverly memasukkan calon bayi yang tak diinginkan oleh sang ibu tersebut. “Ini, Nona.” Dia memberikan cup tersebut kepada pasiennya.


Amartha menerima seraya bibirnya mengulas senyum. “Terima kasih sudah membantu aku, Dok,” ucapnya.


Dokter Beverly mengangguk dan tersenyum ramah. Dia mengganti kain yang sudah berlumuran banyak darah. Dan memasangkan yang baru.


“Berikan padaku, Dok. Biar aku yang membersihkan itu bersama kain yang tadi,” pinta Delavar seraya mengulurkan tangannya untuk mengambil alih kain tersebut.


Dokter Beverly mengulurkan kain putih yang kini sudah bercampur warna merah itu kepada Delavar. “Kalau pendarahannya sudah berhenti, mohon panggil saya lagi.”


“Baik.” Delavar menganggukkan kepalanya dan menatap kepergian dua wanita yang berkerja di bidang kesehatan itu.


“Aku taruh ini ke kamar mandi, ya? Aku rendam dulu bersama yang tadi, sebelum mengering,” pamit Delavar. Dia beranjak meninggalkan Amartha untuk mengurus kain yang kotor tersebut.


Tadi ketika kain pertama diganti, anak ketiga keluarga Dominique itu sudah meminta bantuan pada salah satu office girl yang bekerja di sana untuk membelikan ember, sikat, dan juga sabun cuci. Sehingga di dalam kamar mandi sudah ada tempat untuk membersihkan kain kotor tersebut. Dia tak mau bekas darah wanitanya dibersihkan orang lain atau laundry.


Delavar kembali lagi menghampiri Amartha yang sedang menatap cup berisi embrio itu dengan wajah yang terus mengulas senyum. “Selamat, akhirnya kau berhasil melewati masa sulitmu,” ucapnya dengan tulus seraya mengulas senyum manis dan mengelus kening wanitanya.


Amartha menarik kedua sudut bibirnya. “Terima kasih karena kau sudah menemaniku melewati ini,” balasnya penuh rasa syukur karena diberkahi seorang pria yang tetap ada di sisinya dan mendukung setiap keputusannya, walaupun dalam kondisi di titik terendah.


“Tentu, kau senang sekarang?”


Delavar beralih mengusap perut Amartha. “Bagaimana perutmu, apakah masih sakit?”


“Mulai mereda, tak sesakit tadi.”


Helaan napas lega keluar dari bibir Delavar. “Mau kau apakan embriomu itu?”


“Mau aku berikan pada pria keparat itu. Dia meminta aku melahirkan anak ini, maka akan aku kabulkan sebagai kenang-kenangannya yang tak bisa memiliki keturunan lagi,” jawab Amartha dengan seringai devilnya.


Tangan Delavar menengadah. “Berikan padaku, biarkan aku yang menyimpannya,” pintanya.


Kepercayaan Amartha pada Delavar kini sudah meningkat. Mungkin sekitar delapan puluh persen, untuk sisanya masih dalam proses. Dia memberikan hadiah untuk Christoper itu kepada Delavar.


“Mau makan? Kau pasti sangat lelah sedari tadi belum mendapatkan asupan energi,” tawar Delavar seraya menunjuk nampan berisi makanan yang tadi dibawakan oleh perawat.


“Boleh.”


Delavar pun menaikkan tempat tidur pasien agar Amartha bisa duduk dengan nyaman, lalu beranjak berdiri untuk mengambil makanan tersebut. “Aku suapi.”


Amartha menjawab dengan anggukan. Dan dengan telaten, Delavar merawat wanita itu dengan sepenuh hati.


“Delavar,” panggil Amartha di sela-sela kunyahannya.


“Hm?”


“Bagaimana jika setelah aborsi ini aku akan mandul?”