I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 155


Sementara itu, orang yang dipanggil oleh si manja Jessy saat ini sedang ke kantor untuk menghadiri rapat umum pemegang saham. Ada masalah yang dihadapi oleh perusahaannya yang cukup mengguncang keuangan, sehingga jajaran dewan komisaris memutuskan untuk menyelenggarakan pertemuan.


Christoper masih memakai perban di setengah wajah karena belum percaya diri dengan penampilan baru di kulitnya yang sudah terkelupas. Ruang pertemuan yang biasa digunakan untuk rapat para pemegang saham di perusahaannya itu sudah dipenuhi oleh kurang lebih sepuluh orang yang masing-masing memiliki sedikit saham di sana.


“Ayo kita mulai,” ucap Christoper yang sudah menunggu sejak tiga puluh menit lalu.


“Tunggu sebentar, masih ada empat orang yang belum hadir.”


Christoper menaikkan sebelah alis. “Siapa lagi? Bukankah biasanya kita selalu bersepuluh?”


“Ada, Tuan. Mereka baru saja membeli saham dari beberapa orang di sini. Orangnya sangat sibuk karena memiliki banyak agenda, dan meminta untuk ditunggu.”


Christoper melihat jam di pergelangan tangannya. Dia berdecak karena sudah lebih dari waktu yang ditentukan. “Kita mulai saja, mereka tak on time.”


Seluruh orang yang hadir di sana justru saling berpandangan satu sama lain. Seakan tidak berani meninggalkan empat orang penting tersebut.


“Kenapa diam saja? Aku juga memiliki agenda lain!” tegur Christoper yang mulai tak sabar.


Suara pintu terbuka pun membuat seluruh mata beralih ke arah empat orang yang baru saja datang.


“Mulai saja rapatnya, maaf karena kami terlambat dan membuat kalian menunggu,” ucap seorang pria muda dengan suara tegas.


Christoper membulatkan mata saat melihat anak-anak keluarga Dominique masuk ke dalam ruangan dan duduk bersama dengannya.


Delavar menaikkan sebelah alis seolah mengejek Christoper. Ini adalah yang akan didapat pada orang seperti si keriting jika tidak bisa diberi tahu menggunakan ucapan atau kekerasan.


“Baik, mari kita mulai rapat hari ini.”


Ketua komisaris pun memaparkan hasil pengawasan terhadap kinerja perusahaan selama satu tahun ini. Masalah-masalah yang dihadapi tak jauh dari keuangan yang ada kejomplangan antara penjualan dan pendapatan.


Cukup sengit karena keluarga Dominique meminta untuk diusut tuntas akar permasalahan. Bukan sekedar dilihat dari laporan saja.


Delavar menatap ke arah Christoper. “Kau sebagai CEO, apa yang dilakukan hingga kecolongan seperti itu? Seharusnya saat penjualan tinggi, pendapatan perusahaan juga pasti mengikuti. Ini justru sebaliknya!”


“Aku bekerja, tentu saja banyak yang harus dilakukan, bukan sekedar memantau itu saja,” kilah Christoper.


Danesh menatap dingin ke arah pria keriting tersebut. “Kami juga bekerja dan sibuk, tapi tidak sampai kecolongan seperti itu!”


“Sebenarnya, kau itu bisa memimpin sebuah perusahaan atau tidak?” tambah Dariush yang ikut menimbrung.


Belum sempat Christoper menjawab, anak keluarga Dominique yang terakhir sudah mengeluarkan suara juga. “Lebih baik kita voting saja, ganti CEO nya jika memang dia tak becus dalam memimpin,” celetuknya memberikan ide.


Christoper langsung membulatkan mata. Baru pertama kali ini ada pemegang saham perusahaannya yang berani mengusulkan hal tersebut. Dia melihat raut wajah seluruh orang yang berada di sana. Menilai siapa saja orang-orang yang akan mendukung dia untuk tetap menjadi pemimpin perusahaan itu.