I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 35


Delavar menyelesaikan ritual mandi beserta penghantaran kepergian jutaan calon anak-anaknya ke pembuangan. Entah sudah berapa puluh atau beratus juta bibit premiumnya tebuang sia-sia.


Sosok pria bertubuh kekar walaupun wajahnya manis berpadu dengan tampan itu sudah memakai pakaian serba santainya. Delavar keluar kamar saat pelayan memanggilnya memberitahukan bahwa Mr. Brave—dokter keluarga Dominique sudah sampai di mansion.


Tepat saat Delavar sampai di anak tangga terakhir, pelayan lainnya datang bersama seorang pria. “Tuan, ada yang mencari Anda,” ujarnya.


“Ya, tinggalkan saja dia.” Delavar memberikan perintah pada pelayan mansionnya untuk kembali mengerjakan yang lain.


“Tuan, apa Anda yakin ingin bertemu orang itu hari ini juga?” Roxy yang datang menemui Delavar di malam hari. Setelah mendapatkan pesan dari tuannya itu jika sudah sampai di Finlandia, dia segera berangkat menuju mansion keluarga Dominique yang saat ini menggajinya untuk bekerja.


“Iya, lebih cepat semakin bagus,” terang Delavar. Padahal dia sudah tak sabar ingin mengetahui motif orang yang mengintainya sampai membawa Amartha sebagai korbannya.


“Baik, saya sudah menghubungi orang tersebut dan dia meminta untuk bertemu di mansionnya. Apakah Anda tak masalah?” tanya Roxy. Setelah pulang dari Belanda, dia langsung menjalankan tugas selanjutnya yang diberikan oleh Delavar. Dia memang salah satu tenaga ahli di Cosa Nostra milik keluarga Dominique yang terkenal cekatan dan tepat waktu jika menyelesaikan tugas.


“Tak masalah, setelah ini kita berangkat ke mansionnya. Kau hubungi saja dia jika malam ini juga aku mau datang ke sana!” titah Delavar.


Sebuah suara dehaman dari seorang pria berumur empat puluh tahunan itu membuat Delavar dan Roxy menatap ke arahnya. Mr. Brave merasa terabaikan sedari tadi berdiri memperhatikan interaksi dua pria bertubuh tinggi tersebut. “Jadi siapa yang sakit, Tuan?”


Tanpa rasa takut, Mr. Brave bertanya pada majikannya itu. Sebab Delavar jarang sekali terlihat marah, bahkan anak ketiga keluarga Dominique tersebut cenderung paling nampak santai dan ramah.


“Maaf, Mr. Brave. Aku sampai lupa jika ada kau di sini,” kelakar Delavar. Sejujurnya dia terlalu asyik berbincang dengan Roxy sampai lupa jika ada pak tua yang menyusahkannya harus diobati.


“Roxy, ayo ikut aku. Tolong kau ambil buggy car! Tubuhku terlalu lelah untuk berjalan sampai ke gudang,” titah Delavar.


“Baik, Tuan.” Roxy si penurut semua perintah majikannya itu segera keluar menuju pintu utama karena buggy car terparkir di sana.


Delavar, Mr. Brave, dan Roxy pun bersamaan menuju gudang di mana Maxim Debora berada. Mereka bertiga segera ke dalam bangunan yang berada paling ujung area mansion bahkan terlihat terbengkalai karena area itu memang sudah lama tak digunakan.


“Roxy, coba kau hidupkan lampunya!” titah Delavar lagi.


“Baik.” Roxy langsung mencari sakelar dan menghidupkan penerangan di ruangan itu.


“Oh, ternyata sudah ada yang mengganti lampunya, berarti aku tak jadi pensiun jadi anak pengusaha terkaya di Eropa,” seloroh Delavar. Tapi tak ada yang menertawakan candaan garingnya tersebut. Mr. Brave dan Roxy memiliki selera humor yang tak sereceh dia.


Ketiga pria itu bisa melihat seorang Maxim Debora yang biasanya sangat menyebalkan kini sedang tertunduk di kursi dan nampak lemas tak bertenaga.


“Coba kau cek pak tua itu, tapi jangan membuka talinya!” Namanya juga orang kaya yang bisa menggaji banyak orang, dia tinggal memberikan perintah, maka orang lain yang akan langsung mengerjakan. Buktinya Mr. Brave segera mendekati Papa Max.


Sedangkan Delavar dan Roxy cukup berdiri menatap dokter keluarga Dominique itu memeriksa pasien. Namun, saat keduanya fokus mengamati Mr. Brave yang mulai merebahkan Papa Max ke sebuah kasur lusuh, telepon Roxy berbunyi.


Roxy pun segera membuka ponsel yang baru saja mendapatkan pesan. “Orang itu menunggu satu jam dari sekarang, Tuan.” Dia memberitahukan isi pesan yang dikirimkan oleh pengusaha muda yang menguntit Delavar sejak satu tahun terakhir.