
Hari ini adalah libur nasional, Delavar mengajak Amartha untuk berkunjung ke mansion keluarga Dominique. Membicarakan terkait pernikahan mereka berdua. Semalam pun Delavar sudah menghubungi seluruh kembarannya untuk berkumpul membahas hal penting dan bersejarah dalam hidupnya itu.
Dua insan yang sedang hangat-hangatnya itu mengayunkan kaki menuju ruang keluarga. Rencananya ingin menunggu semuanya berkumpul, tapi ternyata Tuan dan Nyonya Dominique beserta tiga anak dan dua menantunya sudah duduk manis di sana.
“Wuih ... jam berapa kalian sampai di sini? Aku bahkan tak melihat mobil di depan,” tanya Delavar. Dia mengajak Amartha untuk duduk di sofa yang cukup untuk dua orang saja.
“Dari semalam, kami menginap di sini. Jelas saja tak melihat mobil di depan, karena semuanya masuk ke garasi,” jawab Deavenny seraya melemparkan kacang yang sudah dikeluarkan dari kulitnya ke arah Delavar.
Delavar membuka mulut dan kacang itu berhasil masuk tepat ke dalamnya. “Oh ... bagus, jadi aku tak perlu menunggu kalian.”
“Langsung ke inti saja, kau mengajak kami berkumpul ingin membicarakan apa? Mataku ternoda melihat kalian semua bermesraan di depanku yang jomblo ini,” seloroh Dariush dengan mengeluarkan helaan napas kasar dan menghempaskan badan hingga tersandar pada sofa.
“Mommy sama Daddy juga sudah tua masih senang berpelukan dan ciuman terus di mansion. Sekarang partner jombloku sudah menemukan pasangannya,” keluh Dariush seraya berdecak meratapi nasibnya sendiri.
Kelakaran Dariush itu mengundang tawa seluruh orang yang ada di sana.
“Mau aku belikan mannequin untuk teman tidurmu?” tawar Delavar di sela tawanya yang terdengar begitu renyah.
Dariush melempar keripik yang sedang berada di pangkuannya itu ke arah Delavar. “Sombong kau sekarang. Mentang-mentang sudah mendapatkan guling hidup, mengejekku. Dikira aku tak laku apa?” omelnya.
“Memang, wajah tampan, tapi mendapatkan satu wanita saja sampai sekarang belum berhasil.” Danesh ikut menimbrung dengan nada bicara khasnya, datar.
“Sudah cukup saling ejeknya, sekarang kita fokus pada calon pengantin terlebih dahulu. Baru kita pikirkan jodoh untuk Dariush.” Mommy Diora menengahi perdebatan anak-anaknya yang jika berkumpul pasti akan seperti itu, ramai.
“Jadi, kapan kalian berdua akan menikah?” tanya Daddy Davis menatap Delavar dan Amartha secara bersamaan.
Amartha mengangguk dan menghiasi korneanya pada orang tua Delavar. “Pertengahan musim gugur ini.”
“Aduh ... tolong tanggal pastinya, aku tak paham pertengahan musim gugur itu kapan. Yang aku tahu hanya tanggal menggaji karyawanku,” kelakar Dariush langsung menimpali informasi dari Amartha.
“Satu bulan dari sekarang!” Delavar mempertegas informasi tersebut.
“Oh ... bagus, masih lama berarti,” tutur Darisuh dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Memangnya kenapa?” Delavar menatap curiga pada salah satu kembarannya itu.
Dariush mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpu siku tangan ke paha dan menatap dengan seringai jahil pada Delavar. “Masih bisa aku gagalkan,” selorohnya diiringi tawa seorang diri.
Delavar, Danesh, Deavenny, dan Daddy Davis melepaskan diri dari rangkulan pasangan mereka masing-masing. Mendekati Dariush dan melayangkan geplakan pada pria itu.
“Sembarangan kau itu!” omel keempat orang itu.
Dariush mengusap kepalanya. “Bercanda! Ketampananku bisa berkurang jika digeplak terus,” protesnya.
“Ck, ck, ck.” Keempat orang itu berdecak sekaligus menggelengkan kepala dan duduk kembali pada posisi semula.
“Lagi pula mereka pasti tak akan bisa digagalkan pernikahannya. Lihat saja bibir keduanya, bengkak.” Tunjuk Dariush pada wajah Delavar dan Amartha. “Pasti semalaman penuh mereka berciuman terus,” kelakarnya kemudian.