I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 55


Delavar mengambil makanan yang dia pesan melalui layanan delivery. Dia tak mungkin kuat menahan lapar, ditambah telinganya yang mengintip dari balik pintu itu mendengar bahwa mommynya sedang membujuk Amartha agar mau mengisi perut pun membuatnya memesan banyak sekali hidangan.


Tangan kekar di balik kemeja putih yang lengannya digulung hingga batas siku itu membawa empat papperbag dan satu box pizza. Tepat saat dia ingin menaruh ke atas meja makan, tiga wanita berbeda generasi sedang keluar kamar.


Delavar mengangkat semua bawaannya, memperlihatkan kepada ketiga wanita itu. “Makan, aku sudah membeli banyak makanan lezat,” ajaknya.


“Mommy dan Amartha baru mau masak bersama, tapi karena kau sudah membelinya, kita makan itu saja,” balas Mommy Diora. Dia menatap ke arah wanita yang berada digandengan tangannya. “Kau mau? Atau tetap ingin memasak denganku?” tanyanya meminta persetujuan kepada Amartha.


Setelah dibujuk rayu dengan berbagai cara yang lumayan menguras pikiran Mommy Diora, akhirnya Amartha pun setuju juga diajak makan. Awalnya Nyonya Dominique itu menawarkan untuk masak bersama, dan disepakati. Tapi Delavar sudah terlanjur membeli banyak makanan.


Amartha mengangguk menyetujui. “Makan yang sudah ada saja,” jawabnya dengan suara lirih.


“Aku siapkan di meja makan dulu.” Delavar langsung membawa dan menyusun hidangan yang dibeli di restoran terkenal yang ada di Kota Helsinki itu.


Sedangkan ketiga wanita tersebut hanya memandangi gerakan tangan Delavar yang begitu lihai menyiapkan sarapan.


Setelah siap semuanya, Delavar menarikkan satu kursi dan memandang Amartha hingga tatapan keduanya saling bertubrukan. “Kau mau duduk di sini?” tawarnya.


Amartha menengok ke arah Mommy Diora, tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Tapi tatapannya seolah meminta persetujuan.


Mommy Diora mengulas senyum dan menganggukkan kepala. Berpura-pura saja paham dengan maksud tatapan Amartha, padahal dia sendiri tak bisa menebak isi dalam pikiran wanita yang ditaksir anaknya tersebut.


Amartha kembali memfokuskan pandangan pada Delavar dan menggoyangkan kepala ke atas dan ke bawah secara perlahan.


“Kau mau pizza?” tawar Delavar. Dia mengangkat piring berisikan satu slice hidangan khas Italia.


Amartha menjawab dengan anggukan kepala. Pelit sekali berbicara, apa susahnya menjawab mau atau tidak. Tapi beruntunglah karena Delavar begitu sabar menghadapi wanita itu.


“Mommy ambilkan.” Nyonya Dominique bersiap mengulurkan tangan untuk meraih hidangan yang tersedia di dalam box lumayan besar.


Namun Delavar memberikan isyarat gelengan kepala. “Biar aku saja, Mom. Aku yang akan melayaninya, Mommy makan saja apa pun yang disukai,” cegahnya agar wanita yang sudah melahirkannya memberikan ruang untuk dirinya menunjukkan perhatian pada Amartha.


“Baiklah jika itu maumu.” Mommy Diora pun tak jadi mengambil pizza. Dia memikirkan perutnya sendiri yang pagi-pagi sekali sudah pergi menjemput dokter Sophie dan belum sempat sarapan.


“Kau mau satu saja, atau lebih?” tanya Delavar setelah sepotong pizza mendarat sempurna di piring Amartha.


“Satu,” jawab Amartha sangat singkat dan lirih.


“Oke, ada yang ingin kau makan lagi? Salad? Burger? Pasta? Atau sesuatu yang tak ada di meja ini? Croissant buatan chef di mansionku?”


Kepala Amartha menggeleng. “Tidak, ini saja sudah cukup.”


“Baiklah, makan yang banyak, Sayangku,” celetuk Delavar seraya melemparkan senyum sangat manis dan menunjuk piring agar Amartha segera mengunyah.