I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 39


Baik Delavar ataupun Christoper, keduanya masih tetap berdiri. Tak ada yang mau mengalah atau meredam emosi. Dua pria itu tetap saling melemparkan kilatan pertengkaran.


“Apa hubungannya adikmu dengan aku dan wanitaku?!” Delavar mulai bertanya dengan nada yang tegas. Sepertinya, pria di hadapannya ini tak bisa dihadapi dengan cara halus.


“Satu tahun yang lalu kau sudah berani menolak lamaran Jassy, adikku!” ungkap Christoper.


Membuat Delavar menarik sudut bibirnya sinis. “Memangnya kenapa? Aku tak suka dengan adikmu yang manja, mengganggu, dan merepotkan itu! Wajar jika aku menolaknya,” pungkasnya tanpa beban saat mengungkap semua alasannya menolak seorang wanita yang merupakan juniornya saat di kampus.


Mata Christoper terlihat melotot saat adiknya dijelek-jelekkan oleh Delavar. Kedua tangannya mengepal dan rasanya ingin meninju orang di hadapannya itu, tapi bekas tamparan Delavar saja masih terasa sampai sekarang.


“Kau harus tahu akibat dari penolakanmu itu!” pungkas Christoper dengan nadanya terdengar bergetar bercampur emosi. Tangannya memperlihatkan sebuah video kondisi adiknya dari ponsel. “Setelah kau menolaknya di malam itu, dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga mengalami kecelakaan dan sekarang kakinya lumpuh! Dia harus bergantung dengan kursi roda, tak bisa bergerak leluasa seperti dulu lagi!” ungkapnya.


Delavar mengedikkan bahu dan menunjukkan bahwa dia tak peduli. “Itu urusan adikmu, aku hanya menolaknya, tak melukainya, tak memukulnya, tak berkata kasar padanya, bahkan aku belum pernah mencicipi tubuhnya! Jadi bukan salahku jika dia sampai seperti itu! Lagi pula bukan aku yang mengemudikan mobilnya atau yang menabraknya!” balasnya tak merasa bersalah karena memang bukan dia pelaku kecelakaan itu.


Christoper menunjuk wajah Delavar menggunakan telunjuk. Matanya terlihat sangat marah sampai rautnya merah padam. Emosinya sudah sampai ke ubun-ubun. Anak keluarga Dominique itu tak memperlihatkan empati sedikit pun atas peristiwa yang menimpa adiknya.


Wajah Delavar tetap santai menghadapi Christoper. Bahkan dia tak takut saat pria di hadapannya itu seperti sedang menantangnya.


Christoper merasa tenaganya tak cukup seimbang dengan Delavar yang bertubuh lebih tinggi dan kekar. Dia menurunkan tangan dan menyeringai. “Setidaknya aku sudah membalas perbuatanmu itu pada wanita incaranmu!”


Christoper tertawa mengejek. “Satu tahun terakhir aku memang memata-mataimu, ingin membalas semua perbuatanmu terhadap adikku. Jadi aku mencari celah,” pungkasnya.


Delavar mengepalkan tangannya, rahangnya mulai mengeras saat bisikan dari Christoper itu mampu memercikkan api amarah dalam dirinya.


“Kau pasti belum pernah mencoba tubuhnya, kan?” ejek Christoper. Wajahnya benar-benar mengesalkan. “Pasti belum, karena akulah yang mendapatkan virginnya.”


Christoper tertawa terbahak-bahak karena puas melihat Delavar yang nampak terkejut dengan fakta yang baru saja dia ungkap.


“Keparat kau!” seru Delavar.


“Kalau aku keparat, lalu kau apa? Brengsek? Bukankah kita sama? Bahkan kau sampai membuat adikku cacat!”


“Jelas kasta kita berbeda, kau hanya kaum rendahan yang membalas dendam dengan cara salah! Jika masalahmu denganku, seharusnya kau tak perlu membawa orang lain ke dalamnya! Pengecut!”


“Setidaknya, jika adikku tak bisa mendapatkanmu, maka tak boleh ada wanita lain yang bersamamu!”


“Adik dan kakak sama saja, gila!”


Christoper mengedikkan bahu, tak peduli dengan hinaan yang dilontarkan oleh Delavar. “Mungkin sebentar lagi kau yang akan menjadi gila! Aku yakin jika sebentar lagi wanitamu itu akan hamil, karena cairanku sudah ku buang di dalam sebanyak mungkin.”