I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 153


Dari posisi kapal pesiar berhenti, hingga ke yacht. Delavar dan Amartha diantarkan oleh salah satu bodyguard yang bertugas untuk menjaga pak tua Max.


Dan kini keduanya sudah berada di transportasi yang bisa mengapung di air tersebut.


Delavar melingkarkan tangan pada pinggul wanitanya. “Kau jangan terkejut saat melihat kondisi Papamu,” cicit pria itu seraya mengajak Amartha berjalan menyusuri kapal yang tidak terlalu besar, tapi masih tetap terkesan mewah.


“Memangnya kau apakan Papaku, selain di asingkan?” tanya Amartha seraya kedua mata melirik ke arah Delavar.


“Ada pokoknya.” Delavar tidak bisa menceritakan saat ini. Lebih baik melihat kondisi pak tua itu secara langsung saja.


Akhirnya, orang yang dicaripun ketemu juga. Pak tua Max berada di area belakang kapal. Duduk di bagian ujung dan sedang tertawa terbahak-bahak.


Amartha menghentikan langkah. Berdiam diri menatap kondisi orang tuanya yang dekil, rambut acak-acakan, kusam, pokoknya sangat tidak terawat.


“Aku abadi ... hahahaha.” Pak tua itu terlihat mengangkat kedua tangan ke atas. “Aku tidak bisa mati,” imbuhnya berucap dengan nada yang tak seperti orang normal.


Amartha mengerutkan kening saat melihat orang tuanya berucap sendiri dan mengatakan hal-hal aneh. “Dia kenapa?” Lebih baik bertanya pada calon suaminya saja.


Delavar mengedikkan bahu, tak begitu yakin juga karena dia tak memantau kondisi kesehatan pak tua Max, baik secara fisik maupun psikis. “Mungkin dia sudah gila karena mau bunuh diri tapi gagal terus. Hidup sendirian, tidak ada yang bisa diajak berbicara. Sepertinya sudah kena mental,” jelas Delavar memberikan penilaian dari sudut pandangnya.


Amartha tidak memanggil orang tuanya sedikit pun. Masih melihat semua yang dilakukan oleh Papa Max.


Delavar meraih pundak Amartha untuk menyingkir saat pak tua Max berjalan menuju area dalam yacht. Bahkan mengabaikan keberadaan keduanya.


“Aku juga tak tahu, mungkin bisa saja seperti itu,” jawab Delavar.


“Ayo kita ke dalam, aku ingin lihat apa yang dilakukan oleh Papaku.” Amartha menggandeng lengan Delavar untuk mengayunkan kaki bersamaan.


Setelah tadi Amartha melihat Papa Max berbicara sendiri di ujung kapal, kini korneanya pun menangkap sosok pria tua itu sedang meletakkan tempat sampah di atas kursi, kemudian ada alat pel, dan sebuah ember.


“Aku pasang lima juta euro,” ucap Papa Max seraya meletakkan tas berisi segepok uang yang diberikan oleh Delavar pada saat itu.


Delavar memang membawakan uang tersebut agar terus bersama pak tua Max. Dia tak mengambil lagi apa yang sudah diberikan pada orang lain.


“Kau taruhan berapa? Mana uangmu?” Papa Max terlihat menunjuk ember yang ada di atas kursi. Dia seperti sedang mengajak bicara benda tersebut.


Papa Max berdiri dan meninju ember. “Kalau mau bermain judi, modal! Bawa uang untuk taruhan,” marahnya.


Amartha sampai meringis sendiri melihat kelakuan Papanya. “Sepertinya dia sudah gila sungguhan.”


Rasanya ingin iba dengan kondisi Papa Max. Tapi, jika mengingat kelakuan pak tua itu, Amartha bahkan sulit sekali memaafkan semua perbuatan buruk di masa lalu yang diakibatkan dari ulah Papanya.


“Apa kau akan menyalahkan aku yang sudah membuat mental orang tuamu seperti itu?” tanya Delavar seraya mengelus punggung Amartha. “Dia sudah pernah membuatmu sampai depresi, maka aku ingin membalas hal yang sama. Dan akhirnya, sekarang dia sungguh terkena mentalnya.”