
Delavar sudah melepaskan pantatnya dari kursi, bersiap untuk mengecek ke toilet jika wanitanya terjadi sesuatu hal yang buruk di sana. Namun, baru setengah berdiri, seorang wanita berpakaian ketat yang sama persis saat dia temui pagi tadi sudah berjalan menuju ke arahnya.
Amartha Debora, wanita yang usianya satu tahun lebih muda dari Delavar itu sedari tadi berdiam diri di toilet. Menunggu papanya pergi karena dia tak ingin dipermalukan. Apa lagi di depan seseorang yang dikenal.
“Tuan, maaf, saya harus pergi.” Demi menjaga kesopanannya, Amartha berpamitan kepada Delavar sebelum meninggalkan restoran tersebut. Sudah tak ada lagi kepentingan di sana, untuk apa berlama-lama. “Terima kasih karena sudah membantu mengusir orang tuaku,” ucapnya sebagai penutup sebelum kaki mengayun.
Amartha meraih tas yang sedari tadi tergeletak di atas kursi. “Permisi.”
Delavar tak membiarkan wanitanya pergi begitu saja. Tangannya mencekal pergelangan Amartha agar tak beranjak. “Apa kau tak makan dulu? Aku yang membayar tagihan ini, sayang jika tak dihabiskan,” tuturnya seraya menunjuk hidangan di atas piring yang masih utuh dan nampak belum tersentuh itu menggunakan sorot mata.
“Tidak, saya sudah kenyang,” tolak Amartha. Dia berusaha melepaskan tangan Delavar. Mencoba menghindari pria yang setiap hari terus mencoba mendekatinya tersebut. Namun dia sadar diri, tak pantas dan tak cocok dengan keluarga Dominique.
Delavar justru semakin mengeratkan tangan dan sengaja menarik Amartha hingga wanitanya jatuh di atas pangkuannya dengan terduduk miring. Pria berparas manis bercampur tampan itu memegang pinggul Amartha dan menatap penuh cinta. “Temani aku makan saja kalau begitu,” pintanya.
Amartha yang terkejut saat pantatnya menyatu dengan paha Delavar pun melotot. Tangannya reflek melayang di udara hendak menampar wajah tampan anak ketiga keluarga Dominique. Namun diurungkan saat menyadari ada salah satu meja yang sedang menatap ke arahnya. Saat ini dirinya sedang menjadi tontonan keluarga Dominique dan Giorgio.
Amartha memilih untuk mendorong dada Delavar dan segera berdiri. “Tolong jaga sikap Anda, Tuan. Ini di tempat umum, tidak sepantasnya orang terpandang seperti Anda berbuat semena-mena dengan orang lain,” tegurnya. Dia tak suka diperlakukan seperti tadi. Terkesan murahan.
Amartha menghela napas. “Baiklah.” Akhirnya, dia pun mau menerima tawaran Delavar. Toh hanya duduk di sana dan melihat pria itu makan.
Senyum Delavar merekah saat Amartha duduk di depannya. Tangan kekarnya menarik piring dan minuman yang seharusnya milik wanitanya, namun sayang jika tak dilahap. “Kau benar tak mau makan ini?”
Amartha mengangguk yakin. “Saya tidak berselera,” ungkapnya.
“Kalau begitu, aku saja yang makan. Lagi pula ini belum kau sentuh dan sayang jika dibuang.” Delavar meraih garpu dan mulai memasukkan makanan tersebut ke dalam mulut.
Baik Amartha dan Delavar, keduanya tak tahu jika di dalam hidangan tersebut sudah dicampur oleh obat laknat.
“Sepertinya Anda sudah selesai makan, Tuan. Saya permisi karena sudah tidak ada lagi kepentingan di sini,” ucap Amartha saat Delavar menandaskan spaghetti dan cocktail yang seharusnya untuk dirinya.
“Tunggu, Amartha.” Delavar hendak mencegah wanitanya agar tak pergi lagi. Tapi sayang, Amartha tetap mengayunkan kaki menjauhinya. “Singkat sekali makan malamku dengannya, hanya lima menit,” keluhnya seraya menghembuskan napas lemah. “Seharusnya tadi ku perlambat makannya agar dia di sini lebih lama.”