
Belum juga pikiran Delavar dingin karena masih memikirkan motif pria yang mengintainya dan sekaligus orang yang sudah menikmati tubuh Amartha. Ponselnya kembali berdering. Kali ini dari nomor telepon nirkabel di mansion keluarga Dominique.
“Ada apa?” Delavar langsung menanyakan maksud orang tersebut menghubunginya.
“Tuan, orang yang Anda sekap di gudang tak mau makan sejak kemarin. Dia minta dilepaskan terlebih dahulu baru mau menerima makanan yang saya bawakan,” ungkap pelayan yang ditugaskan untuk memberikan makan dan minum pada Papa Max.
Delavar berdecak kesal. “Biarkan saja jika dia tak mau, yang penting kau sudah memberinya makan.”
“Bagaimana jika dia mati, Tuan?”
“Paksa dia minum. Tak masalah jika dia tak mau makan, yang penting jangan sampai dehidrasi.”
“Baik, Tuan.”
Panggilan keduanya pun terputus. Delavar memijat pelipisnya yang berdenyut akibat memikirkan semua hal yang terjadi di hari ini.
“Pak tua itu menyusahkan saja,” gumam Delavar seraya berdiri meninggalkan sofa untuk merebahkan tubuh ke kasur dan bersiap untuk istirahat.
Namun, telinganya kembali mendengar seseorang mengetuk pintu. “Ck! Siapa lagi yang datang!” gerutunya.
Walaupun malas, Delavar tetap mempersilahkan sekretaris pribadinya masuk ke dalam. “Ada apa?”
“Mr. Grew ingin merubah jadwal pertemuannya menjadi besok, Tuan. Anda harus mengecek lagi dokumen ini sebelum diajukan padanya,” ungkap sekretaris berjenis kelamin wanita itu.
Delavar menghela napasnya. “Taruh di meja, aku akan membacanya.” Dia mengibaskan tangan agar sekretarisnya keluar dari ruangannya.
Setelah Delavar sendirian, dia mengambil dokumen itu dan siap membaca isinya. “Tak ada waktuku untuk mengistirahatkan otak,” gumamnya.
Dua hari berlalu, Delavar segera pulang ke Finlandia setelah semua urusannya selesai. Dengan dijemput oleh supir, dia diantarkan pulang ke mansion karena langit sudah gelap saat kakinya mendarat di Kota Helsinki.
Kedatangan Delavar di mansion itu langsung disambut oleh pelayan yang bertugas mengawasi tawanannya. “Tuan, orang yang Anda sekap tetap menolak untuk diberikan minum. Sekarang dia tak sadarkan diri,” ungkapnya.
Delavar berdecak seraya melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. “Panggilkan Mr. Brave ke sini, katakan jika ada orang yang sudah tak makan dan minum selama empat hari. Dia pasti tahu apa yang harus dibawa dan lakukan,” titahnya dengan tegas.
Badan Delavar rasanya lelah sudah diperas otaknya untuk bekerja mengurus perusahaan, ditambah memikirkan motif pengusaha muda yang mengintainya, dan sekarang masih harus mengurusi pak tua sialan.
“Panggil aku jika Mr. Brave sudah datang.” Delavar memberikan perintah lagi sebelum naik ke kamarnya.
“Baik.”
Anak ketiga keluarga Dominique itu pun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. “Sudah lima hari aku tak membuang anak-anakku, jika sedang pusing dan banyak yang harus dipikirkan seperti ini memang paling enak melepaskan bibit premiumku,” gumamnya.
Delavar pun memulai ritualnya untuk mencapai kenikmatan dengan caranya sendiri. Dia memberikan sedikit sabun di tangan agar licin saat bermain solo. Mau bagaimana lagi, satu-satunya orang yang ingin dia jadikan partner bermain di atas ranjang hanya Amartha. Tapi wanita itu saja sangat dingin dengannya, padahal dia tak masalah mendapatkan wanita yang sudah tak virgin lagi.
Rasa nikmat mulai menjalar dari pangkal paha Delavar saat tangannya semakin mempercepat ritme gerakan. Matanya terpejam memikirkan Amartha dan berfantasi dengan wanita itu. Satu detik berikutnya terdengar suara erangan beriringan cairan putih yang menyembur keluar.
Rasa pusing di kepala Delavar lumayan tersamarkan. Dia segera membersihkan tubuh dan lagi-lagi harus mengantarkan calon anak-anaknya menuju tempat pembuangan.
...*****...
...Kayanya Delavar ni cocok kita sebut sebagai Delavar si sadboy tukang col* wkwkwkwk...