
Pertama kali membuka pintu kamar, Delavar langsung bisa melihat sosok wanita yang sangat dia rindukan dan takutkan jika tiba-tiba membatalkan pernikahan mereka karena ulah Christoper.
Delavar mulai mengayunkan kaki memasuki kamar pribadinya. “Sayang,” panggilnya pada calon istri yang saat ini sedang berdiri menatap jendela.
Amartha yang dipanggil tak membalikkan tubuh untuk sekedar menatap Delavar ataupun membalas sapaan dari pria itu. Tentu saja membuat hati anak ketiga keluarga Dominique semakin berdebar.
Delavar menutup lagi pintu. Dia berdiri lumayan jauh dari Amartha dan menatap punggung wanita itu yang tertutup baju tidur bermodel kimono.
“Maafkan aku karena tidak memberi tahu padamu sejak awal. Tolong jangan marah padaku atau membatalkan pernikahan kita,” ucap Delavar sangat pelan dan hati-hati.
Setiap satu langkah pria itu maju kian mendekati calon istrinya, dia akan berbicara untuk menjelaskan dan meluruskan semua informasi yang dilontarkan oleh Christoper.
“Oke, aku tau kemarin kau diam-diam menemui seseorang. Aku minta maaf karena memata-matai dirimu, itu ku lakukan karena hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Aku tak akan mempermasalahkan hal itu, yang penting tubuhmu masih sehat dan utuh di depan mataku.” Lagi Delavar mengayunkan kaki dan berhenti.
“Tapi harus ada yang diluruskan, informasi dari Christoper tidak semuanya benar.”
“Bukan aku yang membuat adiknya cacat tak bisa berjalan. Jessy seperti itu karena kecelakaan mobil yang dia alami setelah aku menolak lamarannya.”
“Dan dari kejadian itu, Christoper menganggap aku adalah penyebabnya. Dia berambisi untuk membalaskan dendam padaku karena aku tidak ingin bertanggung jawab menikahi adiknya.”
“Aku tidak bisa sembarangan memilih orang untuk ku jadikan istri, Amartha. Aku tak menyukai Jessy, tentu saja otomatis lamaran dia ku tolak.”
“Saat kejadian kecelakaan itu, aku berada di kantor. Jika kau tak percaya, bisa cek CCTV di perusahaanku. Aku juga tak menyewa orang untuk mencelakai dia.”
Sampailah kaki Delavar berhenti di jarak yang selisih tiga langkah dari Amartha berdiri. Tapi wanita itu tetap diam mematung mendengarkan ocehannya yang sedari tadi tak ditanggapi.
“Lalu, dari situlah Christoper mulai memata-matai kehidupanku. Dia melihat celah saat mengetahui bahwa aku menyukaimu. Dan rencana busuknya untuk balas dendam itu pun dilancarkan padamu karena si pria keparat tak suka kalau aku mendekati wanita lain selain adiknya. Dia sangat berambisi agar aku bertanggung jawab untuk merawat Jessy sampai tua.”
“Tapi aku tidak bisa, hatiku sedari dulu sudah kagum denganmu. Perasaan ini tak bisa dipaksakan.”
“Tolong jangan marah atau membatalkan pernikahan kita. Aku tidak sejahat atau sesadis yang dibicarakan oleh Christoper. Aku hanya bermaksud melindungi orang-orang terkasih.”
Amartha mulai berbalik badan dan keduanya saling bertatapan. Tak ada sepatah kata yang terlontar dari bibirnya. Hanya saja kaki kian mendekat ke arah Delavar.
Dan Amartha langsung melingkarkan tangan di leher calon suaminya. Menempelkan bibir dengan Delavar, menyesap setiap kenikmatan yang begitu dia rindukan.
Tangan Delavar otomatis melingkar di pinggang calon istrinya. Membalas setiap pergerakan lidah dan terjadilah ciuman asmara yang begitu membara. Melunturkan segala kegundahan dan keresahan hati dua insan tersebut.
“Kau harus berjanji akan terus berada di sisiku sebagai bukti rasa bersalahmu yang menyebabkan aku pernah menjadi sasaran balas dendam,” pinta Amartha setelah menyudahi ciuman itu.
...*****...
...Tidak ada konflik, lelah bestie konflik terus. Udah bucin masa mau dipisahin. Mau jadi kaya sinetron ini cerita ga kelar-kelar nanti kalo kek gitu wkwkwk....