I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 29


Delavar menarikkan kursi tepat di depan kaca besar miliknya. Mempersilahkan Amartha untuk duduk senyaman mungkin. Lalu menarik sebuah laci di meja tepat di mana wanitanya sedang menatap pergerakannya melalui pantulan cermin.


Tangan Delavar mengeluarkan hair dryer dan juga sisir, diletakkan tepat di hadapan Amartha. Wanita itu langsung mengalihkan pandangan dari cermin saat sorot keduanya sama-sama menatap satu sama lain dari pantulan kaca tersebut.


“Ini barang yang kau cari, apa kau membutuhkan catokan juga?” tanya Delavar.


“Tidak.” Amartha meraih kabel dan hendak menyambungkan ke listrik, tapi dia sendiri tak tahu letak colokannya di mana. “Apa kau bisa membantuku?” pintanya seraya mengangkat ujung kabel.


“Oh, tentu.” Delavar dengan senang hati mengambil alih benda yang dipegang oleh Amartha dan membuka penutup colokan listrik yang ada di dekat meja.


“Apa kau mau ku bantu mengeringkan rambut juga? Atau mungkin menyisir? Aku bisa melakukannya untukmu.” Delavar menawarkan bantuan lagi saat hair dryer sudah tersambung dengan listrik.


“Tidak, terima kasih, aku bisa sendiri,” tolak Amartha. Dia mulai menghidupkan pengering rambut tersebut dan mengarahkan ke surainya yang memang sengaja dicat pirang.


Merasa tak dibutuhkan bantuannya, Delavar mengayunkan kaki sedikit menjauh dari Amartha. Dia menggunakan skincare di wajah dengan lembut. “Apa kau mau krim untuk pelembab wajahmu?” tawarnya mencoba membuka sebuah obrolan agar di ruangan itu lebih terasa hangat.


“Tidak.”


Delavar menarik dua alis dan bahunya ke atas. Bola matanya berputar untuk mencari pembicaraan lain. Mengobrol dengan Amartha harus memiliki inisiatif topik sendiri. Jika tidak, maka hanya akan ada suasana sunyi saja karena wanita itu tak banyak bicara.


“Make up mungkin?” Delavar menawarkan hal lain, padahal dia sendiri tak memiliki itu.


“Tidak.”


“Serum rambut mungkin, agar rambutmu halus dan kuat?” Delavar menunjukkan sebuah botol yang biasa dia gunakan untuk merawat surai hitam dan lebatnya.


Delavar menghela napas, untung saja dia sudah biasa berlatih sabar menghadapi seorang wanita dingin seperti Amartha.


“Harus ku letakkan di mana sisir dan hair dryernya?” Akhirnya kali ini Amartha yang bertanya pada Delavar karena dia memang perlu mengutarakan hal tersebut setelah selesai dengan urusan rambutnya.


“Letakkan saja di situ, biar aku yang menyimpannya,” terang Delavar seraya kakinya mengayun untuk mendekat.


Amartha langsung berdiri saat anak ketiga keluarga Dominique itu tepat berada di sampingnya. Sedangkan Delavar, dia mengambil sisir yang tadi digunakan oleh Amartha.


Delavar mengecek benda tersebut. Dibolak-balik tetap saja dia tak melihat bagian tubuh Amartha yang sangat dibutuhkan untuk saat ini. “Kenapa rambutmu tak ada yang rontok?”


“Karena aku rawat.” Amartha menjawab seperlunya.


Delavar mengusap tengkuknya, harus dengan cara apa lagi dia mendapatkan rambut Amartha. Mencabut secara diam-diam? Sepertinya itu tak sopan. “Em ... Amartha,” panggilnya.


“Ya?”


“Boleh aku meminta rambutmu satu helai saja?” Delavar pun memutuskan untuk meminta secara baik-baik.


Amartha mengerutkan kening menatap Delavar yang nampak seperti orang bingung atau lebih cenderung gugup. “Untuk apa?”


“Rambutmu bagus dan kuat, sepertinya aku tertarik untuk membuat produk perawatan rambut. Mungkin struktur rambutmu bisa ku gunakan sebagai penelitian sebelum meluncurkan produk baru.” Delavar memberikan alasan yang terlintas di dalam kepalanya.


Seharusnya bukan urusan Delavar juga untuk membuktikan bahwa Amartha anak kandung Papa Max atau bukan. Tapi penasarannya terlalu tinggi dan juga rasa ingin memberikan balasan pada pak tua itu yang sudah tega pada wanitanya juga mendorong dia memiliki inisiatif melakukan tes DNA.