
“Uh ....”
Amartha yang dimasukkan alat menyerupai tongkat, tapi Delavar justru mendesah di telinga calon istrinya itu.
Delavar ingin mengalihkan pikiran Amartha agar tak tegang dan sudah pasti akan merasakan sakit. Maka dia menurunkan harga diri di depan Dokter Beverly.
Benar saja, Amartha langsung membekap mulut Delavar. “Jangan seperti itu, kau membuatku malu,” peringatnya.
Terkekeh Delavar mendengar itu. “Makanya, kau jangan tegang, relax saja, atau mau aku lakukan foreplay agar kau bisa nyaman saat di USG?” tawarnya memberikan opsi yang pastinya akan ditolak.
“Aku akan relax, Delavar. Jadi, jangan macam-macam.” Amartha menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Dia mengikuti permintaan calon suaminya agar tak tegang.
Amartha pun selesai diperiksa oleh Dokter Beverly. Selama pemeriksaan, Delavar terus saja membuat suasana di sana menjadi hangat karena berkelakar terus. Bahkan wanita berjas putih itu pun sampai ingin menahan tawa.
“Silahkan duduk kembali, Nona dan Tuan. Saya akan menjelaskan sedikit kepada Anda,” ajak Dokter Beverly seraya menunjuk kursi yang ada di hadapan mejanya.
“Baik, Dok.” Amartha langsung menurunkan kakinya hendak menyentuh lantai, tapi Delavar mencegah tangannya.
“Hei, pakai dulu dalamanmu ini,” beri tahu Delavar seraya mengangkat sebuah kain berwarna hitam hingga sejajar dengan pandangan mata Amartha.
Amartha merebut kain miliknya itu. “Lupa,” cicitnya meninggalkan sebuah cengiran sekilas.
“Mau aku pakaikan? Dengan senang hati akan ku lakukan untukmu,” tawar Delavar dengan menaik turunkan alisnya.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” tolak Amartha. Dia segera turun dari brankar dan memakai kembali kain tersebut. Dengan mudah langsung terpasang sempurna karena saat ini dirinya memakai dress yang panjangnya hanya sampai menutupi setengah paha.
Delavar mengacak-acak rambut Amartha. “Tegang sekali wajah calon istriku ini,” ejeknya berakhir dengan rangkulan di pundak untuk menuntun wanita itu duduk di hadapan Dokter Beverly.
Sepasang calon pengantin itu pun sudah duduk. Amartha seperti tak nyaman, terlihat dari gerak geriknya yang tidak bisa diam.
“Ingin buang air kecil? Jangan ditahan,” bisik Delavar sebelum Dokter Beverly memulai pembicaraan.
“Tidak, tadi kan sudah dikeluarkan sebelum diperiksa,” jawab Amartha dengan tangannya mengelus lengan Delavar. “Kita dengarkan penjelasan dokter saja,” perintahnya kemudian.
Fokus Amartha dan Delavar saat ini pada wanita berjas putih yang terus mengulas senyum karena melihat tingkah pasangan menggemaskan itu.
“Jadi, untuk hasil keseluruhan pemeriksaan hari ini bisa diambil dalam waktu kurang lebih dua puluh empat jam. Besok Anda bisa datang ke mari untuk mengambil hasilnya,” jelas Dokter Beverly begitu lembut dan hati-hati.
Kedua manusia yang sedang hangat-hangatnya itu mengangguk bersamaan.
“Sebelumnya, saya ucapkan selamat untuk Nona Amartha dan Tuan Delavar yang akan melangsungkan pernikahan.” Dokter Beverly menatap ke arah pria berparas manis dan tampan itu. “Tapi, tolong istrinya jangan dihamili dulu, ya, Tuan,” pintanya.
Membuat Delavar menaikkan sebelah alis. “Kenapa? Kan sudah jadi istriku juga.” Pertanyaannya itu mengandung kebingungan yang tercetak jelas dari suara dan raut wajah.
Senyuman lembut Dokter Beverly berikan. “Tunggu minimal enam bulan setelah proses peluruhan embrio Nona Amartha, demi menghindari hal-hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi. Anda harus menunggu agar rahimnya kembali kuat terlebih dahulu untuk mengandung lagi.”
“Oh ... baiklah, nanti aku akan membeli durex sebanyak mungkin,” balas Delavar dengan berkelakar. Dia mengelus lengan Amartha dan menatap wanitanya. “Calon istriku mau yang rasa apa?” tawarnya seraya menaik turunkan alis.
Amartha melayangkan cubitan di lengan Delavar yang tak ada malunya membicarakan hal intim seperti itu di hadapan dokter. “Kita bahas masalah itu berdua saja,” peringatnya dengan mata mendelik.
Delavar terkekeh. “Baiklah, calon istriku sudah malu, Dok. Kalau begitu, terima kasih atas bantuannya. Jangan lupa datang ke acara pernikahanku.” Dia pun berpamitan seraya meninggalkan sebuah undangan, dan menggandeng Amartha untuk keluar.
Setelah melakukan pembayaran, Delavar mengajak Amartha langsung masuk ke dalam mobil.
“Kenapa rasanya aneh, ya?” celetuk Amartha saat kendaraan roda empat itu melaju. Dia terus mencari posisi duduk yang nyaman.