I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 82


Sedari tadi Amartha terus menyaksikan bagaimana Delavar menghajar hingga menyiksa pria brengsek yang menghamilinya. Dia tak takut melihat aksi tersebut karena dirinya justru menginginkan hal lebih, yaitu membunuh pria yang seperti tak merasa bersalah setelah membuat hidupnya sekacau ini.


Delavar langsung mengembalikan pisau penuh darah itu kepada pelayan. Dia melepaskan jambakan dari rambut ikal Christoper.


Kaki Delavar mengayun menuju Amartha yang terlihat jelas sangat marah. Segera memeluk tubuh wanita itu agar berhenti memintanya untuk membunuh Christoper, karena dia tak ada alasan untuk menghabisi nyawa pria itu. “Kita pulang sekarang,” ajaknya.


“Tidak, aku ingin pria itu mati!” tolak Amartha seraya menunjuk ke arah Christoper yang sudah lemas dengan banyak darah keluar dari wajah, lengan, dan telapak tangan.


“Kita pulang, Amartha.” Delavar menggandeng tangan wanitanya dan sedikit memaksa agar keluar dari bangunan yang sudah berantakan.


Sebelum tubuh keduanya benar-benar hilang dari pandangan semua pengunjung coffee shop itu, Delavar menatap satu persatu orang di sana.


“Jangan sampai aku melihat ada berita, foto, ataupun video kejadian hari ini menyebar di semua media! Jika sampai hal itu terjadi, kalian tahu sendiri akibatnya,” ancam Delavar. Dia menggertak orang-orang yang dia tahu sempat merekam kesadisannya.


Tak ada yang berani, semua orang yang memiliki foto atau video pun langsung dihapus karena tak ingin mencari masalah dengan Delavar.


Delavar menggandeng Amartha lagi untuk menyeberang jalan. Dia menghiraukan pakaiannya yang terdapat noda bercak darah.


“Sakit, Delavar!” tegur Amartha seraya menghempaskan tangan pria itu yang menggenggamnya sangat erat sedari tadi.


Delavar sedikit mengendurkan tangannya tanpa melepaskan gandengan tersebut. “Maaf, Amartha,” sesalnya seraya membukakan pintu dan mempersilahkan wanitanya masuk ke dalam mobil.


Anak ketiga keluarga Dominique itu pun ikut masuk ke dalam kendaraan pribadinya. Dia segera menginjak gas untuk melintasi jalanan Kota Helsinki.


“Kenapa kau tak membunuh pria itu? Dia yang sudah membuatku hamil, bahkan tega memfoto aku saat tak memakai busana dan merekam aksi kejinya!” protes Amartha dengan amarah yang masih menyelimuti hatinya. Rasanya belum puas hanya dengan mengetahui pria keparat itu tersiksa.


“Tapi manusia seperti dia pasti akan memakan korban lagi. Aku tak mau ada wanita lain yang akan berakhir seperti aku.”


Delavar mengulas senyum manisnya. “Aku sudah membuat alat reproduksinya lumpuh dan ku pastikan dia tak akan bisa memiliki anak lagi.”


Amartha menarik sudut bibirnya, setengah puas walaupun belum sepenuhnya. “Pantas saja dia mengotot ingin aku melahirkan anak sialan ini.”


“Lalu, kau mau?”


“Tentu saja tidak, untuk apa aku melahirkan keturunan orang seperti dia? Sampah!”


Delavar menatap wajah Amartha saat berada di lampu merah. Dan keduanya saling bersitatap. “Masih ada waktu untukmu berpikir, aku tak ingin kau menyesali keputusan ini.”


Amartha menggeleng dan tetap teguh dengan pendiriannya. Delavar juga sudah tak bisa membujuk lagi.


Kendaraan roda empat itu pun berhenti di mansion keluarga Dominique. Di sana lebih banyak orang dan pastinya tak akan membuat Amartha kesepian.


“Aku ambil kompres untuk meredakan memar di pipimu, ya?” pamit Delavar setelah membawa Amartha duduk di sofa.


“Ikut,” pinta Amartha.


Dan Delavar secara otomatis mengulurkan tangannya. Keduanya berpindah ke dapur. Dengan telaten, pria itu mengompres menggunakan es pada pipi Amartha yang terlihat jelas bekas tamparan.


“Apa kau tak merindukan orang tuamu? Papamu atau mamamu? Ku lihat kau tak pernah mencari atau bertemu mereka?” tanya Delavar ingin memastikan bagaimana tingkat kepedulian Amartha pada orang tua setelah mendapatkan perlakuan yang sangat buruk.