
Awan cerah sudah digulung habis oleh kegelapan. Setelah Delavar memastikan Amartha tidur nyenyak di kamarnya, dia keluar untuk mencari Dariush.
“Ada yang lihat si pengganggu?” tanya Delavar pada Danesh, Felly, Deavenny, dan Marvel yang sedang bermesraan di ruang keluarga. Mereka menginap di mansion Dominique semua.
“Siapa?” Mereka justru balas bertanya karena tak paham dengan sebutan yang diberikan oleh Delavar.
“Dariush.”
“Oh ... berenang,” jawab Danesh yang tadi sempat melihat kembarannya ada di kolam.
Delavar langsung meninggalkan saudaranya, berjalan keluar mansion dan memang ada seseorang yang sedang berenang di malam hari.
“Ck, ck, ck, malam-malam olahraganya berenang. Biar basah, ya?” ucap Delavar dengan nada mengejeknya seraya duduk di kursi dan memperhatian Dariush.
Dariush yang mendengar ada suara kembarannya pun menghentikan aktivitasnya. Bersandar di tepi kolam seraya menatap ke arah Delavar. “Kau itu menganggu saja. Kenapa? Kau mencariku?”
“Kalau tidak mencarimu, pasti tak akan sampai sini.”
Dariush pun meninggalkan genangan air. Memijakkan kaki di lantai dan mengambil handuk kimononya yang ada di samping Delavar.
“Ada apa mencariku? Gagal membuat Amartha basah, ya?” Dariush balas mengejek kembarannya seraya menutupi tubuh dan mengeringkan rambutnya.
“Kalau itu sudah pasti belum aku coba.”
Dariush duduk di hadapan Delavar. Menaikkan sebelah alisnya. “Intinya? Pasti ada sesuatu sampai kau mencariku dan meninggalkan wanitamu.”
“Mari kita bermain dengan pak tua itu,” ajak Delavar. Setelah mengetahui jika Papa Max adalah orang tua kandung Amartha, dia sudah bertekad ingin mengasingkan dan memberi pelajaran pada orang tua yang tak layak dihormati itu.
“Oh Delavar, hari ini sudah ku nantikan.” Dariush langsung berdiri. “Ayo kita berangkat sekarang,” ajaknya tak sabaran.
Delavar bergeleng kepala melihat semangat Dariush yang menggebu. “Aku yang memiliki urusan, kenapa kau yang bernapsu ingin menyiksanya?”
Dariush menyengir seraya melingkarkan tangan di leher kembarannya. “Karena aku bosan dan ingin melihat tontonan seru,” jelasnya.
Delavar mendaratkan telapak tangannya di kening Dariush. “Jadi kau memintaku untuk mengajakmu jika ingin mengeksesuki pak tua itu karena ingin menonton saja?”
“Ku pikir kau ingin menghabisi dia juga,” tutur Delavar seraya kakinya berjalan masuk ke bangunan utama mansion.
Dariush tertawa. “Kalau kau kuwalahan menghadapi dia dan lembek saat menyiksanya, baru aku akan turun tangan.”
“Kau gantilah pakaian, jangan seperti taipan mesum seperti ini,” titah Delavar seraya menepuk pantat kembarannya.
Untuk menuju lantai dua di mana kamar mereka berada, Delavar dan Dariush harus melewati ruang keluarga yang sedang menjadi tempat bermesraan dua kembarannya yang sudah menikah.
“Mau mengerjai mereka?” bisik Delavar di telinga Dariush saat kaki keduanya mendekati ruang keluarga.
Dariush mengangguk antusias. “Ayuk.”
“Deavenny, Danesh, Felly, Marvel,” panggil Delavar. Dan otomatis keempat orang yang dipanggil pun menengok.
“Apa.”
“Ada tontonan seru untuk kalian.” Delavar pun menarik tali kimono Dariush dengan gerakan cepat membuka handuk itu.
Danesh dan Marvel reflek menutup mata pasangan masing-masing. “Orang gila! Kau menodai mata istriku!” marah keduanya bersamaan.
Delavar dan Dariush tertawa terbahak-bahak. Padahal si anak kedua pun memakai celana renang yang pendek, tapi ya memang ada tonjolan yang nampak tercetak dengan jelas.
“He, Marvel. Kau itu untuk apa menutupi mata Deavenny? Sejak kecil juga kami sudah mandi bersama, dia itu tahu tubuhku lebih dulu dibanding kau,” kelakar Dariush seraya menunjuk sepupu dan kembarannya bergantian. “Jadi percuma saja kau menghalangi matanya, di otaknya sudah terekam postur tubuhku ini,” imbuhnya.
Marvel pun melepaskan tangannya dan menatap Deavenny. “Benarkah?”
Deavenny tersenyum menunjukkan rentetan giginya seraya mengangguk. “Kami sudah biasa berenang bersama. Jadi melihat itu.” Dia menunjuk area pangkal paha Dariush. “Aku sudah sering melihat milik kembaranku.”
Delavar dan Dariush pun semakin menertawakan Marvel. “Kau itu terlalu protektif,” cibir keduanya.
Kedua pria yang sama-sama jahil dengan keluarganya itu melambaikan tangan dan meninggalkan saudara mereka yang sedang memasang wajah kesal.
“Kita bertemu di gudang tempat pak tua itu disekap,” tutur Delavar sebelum keduanya berpisah untuk masuk ke dalam kamar masing-masing dan berganti pakaian.