I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 77


Sedari tadi Amartha terus terenyuh dengan kedekatan keluarga besar Dominique. Bagaimana hangatnya perlakuan mereka satu sama lain dengan dibumbui oleh candaan. Betapa bahagianya jika memiliki sanak saudara seperti mereka semua. Tapi sayangnya, dia tak pernah mendapatkan perlakuan baik dari keluarganya sendiri.


Amartha juga tak terganggu dengan kedatangan Marvel yang termasuk ke dalam mantan kekasihnya. Dia sudah memaafkan pria itu walaupun memanfaatkannya.


“Lucu kan punya anak? Kau tak mau membesarkan bayimu?”


Bisikan Delavar membuat Amartha menatap ke arah pria itu. Gelengan kepala sebagai jawabannya. “Anak-anak memang lucu, tapi aku tetap tidak mau anak ini,” jawabnya.


Delavar menyengir seraya tangannya mengelus punggung Amartha. Dia tak mau memaksa jika memang pendirian wanitanya tak goyah. “Mau aku ambilkan makan?” tawarnya.


“Boleh?” tanya Amartha.


“Tentu saja.” Delavar pun memenuhi piring Amartha dengan seluruh hidangan buatan chef yang tersedia di sana. “Jika tak habis, nanti aku akan bantu menghabiskannya,” tuturnya seraya mempersilahkan wanita itu untuk mulai makan malam mengikuti anggota keluarganya yang sudah mengunyah makanan di mulut masing-masing.


“Dariush kapan pulang?” tanya Delavar disela kunyahannya. “Kita sudah berkumpul lengkap seperti ini, kasian sekali dia tak ikut gabung.”


“Kenapa? Kau merindukan aku?” Tiba-tiba suara seseorang yang masih memakai setelan jas rapi itu menyahut dari balik tangga. Dia mendekat ke meja makan seraya mengendurkan dasinya. Baru saja mendarat di Helsinki setelah perjalanan ke luar negeri, Dariush langsung pulang ke mansion karena mendadak begitu merindukan suasananya. Dan ternyata keluarganya sedang berkumpul. Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin sudah mengalir hingga ke darahnya.


“Dih, malas sekali merindukanmu,” cibir Delavar seraya menjulurkan lidah.


Dariush melihat di sana ada Amartha. Mendadak otak jahilnya bekerja ingin mengerjai Delavar. Dia mendekati kembarannya itu yang duduk di samping Amartha.


Dariush Memeluk Delavar dari belakang seraya mendaratkan kecupan di pipi. “Biasanya juga kau selalu minta tidur satu kamar dan memintaku untuk membantu menidurkan ini.” Tangannya yang usil itu menunjuk area pangkal paha Delavar. Dalam hatinya sedang menahan diri agar tak tertawa saat kembarannya mulai melotot ke arahnya.


Delavar segera menyingkirkan tubuh kembarannya. Makanan mereka saja belum habis, baru berkurang setengah, sudah ada pembuat onar datang. “Tidak, dia hanya bercanda.” Dia segera mengklarifikasi sebelum salah paham.


Dariush melingkarkan tangan di leher Delavar. Menatap Amartha dengan cengiran keisengannya. “Sepertinya kau harus berpikir dua kali jika mau menerimanya,” selorohnya.


Delavar membekap mulut Dariush agar berhenti mengeluarkan bualan. “Jangan percaya dia, Amartha. Dia itu iri karena belum mendapatkan pasangan,” pintanya.


Delavar mendorong tubuh kembarannya agar menjauh. “Pergi lagi saja kau,” usirnya.


Dariush pun tertawa terbahak-bahak. “Ah ... rindunya aku mengerjai kalian,” kelakarnya seraya menghempaskan pantat di kursi miliknya.


Untung saja Annora dan Agathias sedang asyik dan fokus dengan makanan mereka, sehingga tak terlalu mendengarkan perbincangan uncle mereka yang sedikit kurang normal jika sudah berkumpul.


Sedangkan anggota keluarga yang lain hanya bergeleng kepala melihat kelakuan dua pria itu.


“Kalian itu terlalu lama sendiri, makanya segera menikah,” ejek Deavenny.


Delavar melirik ke arah Amartha yang sepertinya masih sedikit terkejut melihat perlakuan Dariush padanya. “Kalau aku terserah Amartha, dia siap menikah, maka aku lebih siap.”


Semua orang dewasa itu menatap bersamaan ke arah wanita yang dimaksud. “Amartha bagaimana, siap menikah dengan Delavar?”