
Amartha mengerjapkan mata saat tidurnya terganggu oleh alarm jam digital yang ada di nakas. Dia menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang nampak asing baginya. Dan fokusnya berhenti pada sosok pria yang masih terpejam di sofa dengan posisi meringkuk tanpa berselimut apa pun.
Tangan Amartha sedikit mengangkat selimut untuk melihat keutuhan pakaiannya. Dia bisa bernapas lega karena masih tertutup kain dan tak terbangun dalam kondisi sudah polos seperti biasanya ketika diam-diam tubuhnya dijual, dan bahkan dirinya sendiri tak tahu siapa orang yang merenggut kesuciannya. Setiap kali dia terbangun, pasti sudah polos dan sendirian. Dia bukan seseorang yang sok suci atau anti berhubungan intim. Tapi baginya, berhubungan seperti itu harus dilakukan dengan seseorang yang dicintai dan bukan atas keterpaksaan.
Amartha menyibakkan selimut dan menurunkan kakinya perlahan hingga menyentuh lantai. Dia ingin segera pergi sebelum Delavar terbangun. Namun sayang, ternyata pergerakannya sudah terdengar hingga telinga pria yang saat ini merubah posisi menjadi duduk.
“Kau sudah bangun?” tanya Delavar. Pria berparas manis itu hanya bisa menatap Amartha dari kejauhan, sebab dia teringat saat semalam wanita itu terlihat sangat marah mana kala dirinya lancang menarik tubuh molek tersebut hingga terjatuh ke pangkuannya.
Amartha menjawab dengan anggukan, lagi pula pertanyaan basa-basi macam apa itu. Sudah tahu matanya terbuka, masih saja ditanya hal remeh seperti itu. Tapi dia tak sampai mengucapkan kalimat yang menyakitkan tersebut, cukup dipendam dalam hatinya saja.
“Terima kasih karena semalam Anda sudah menyelamatkan saya,” ucap Amartha dengan bahasa formalnya. Dia ingat betul jika Delavar yang membantunya pergi dari jebakan papanya sebelum tak sadarkan diri.
Delavar melemparkan senyum termanisnya. “It’s okay, aku senang bisa membantumu.”
Keduanya hanya bisa saling pandang dalam jarak dua setengah meter. Namun sedetik kemudian Amartha mengalihkan perhatian ke pakaian yang melekat di tubuhnya, karena sorot indah milik Delavar memancarkan sesuatu yang membuatnya harus buru-buru memutus kontak mata.
“Apa Anda yang menggantikan baju saya?” tanya Amartha. Pakaiannya sudah berbeda dari yang semalam dipakai. Bahkan saat ini dia menggunakan kaus yang ukurannya sangat besar untuk tubuhnya.
“Tidak, pelayan mansionku yang menggantinya. Aku mana berani lancang saat kau tak bangun,” jawab Delavar dengan jujur.
“Saya akan mencuci kaus ini terlebih dahulu sebelum dikembalikan,” ungkap Amartha.
Delavar mengiyakan, dia tak memberikan pakaian miliknya itu karena bisa saja sebagai jembatan agar Amartha menemuinya. “Bawa saja, lagi pula pakaianmu yang semalam juga sedikit sobek,” tuturnya.
Delavar pun beranjak berdiri dari sofa. “Tunggu di sini sebentar,” pintanya.
Kaki yang dipenuhi oleh otot itu mengayun menuju walk in closet untuk mengambil pakaian kotor milih Amartha. Dia langsung keluar setelah mendapatkan apa yang dicari. “Boleh aku mendekat ke arahmu?” izinnya seraya mengangkat kain yang ada di tangannya sebagai pertanda bahwa ingin memperlihatkan barang tersebut.
Amartha mengangguk memberikan izin. Sejujurnya Delavar adalah pria yang manis dan cukup sopan karena hal sepele seperti ingin mendekat ke arahnya saja sampai harus meminta izin darinya terlebih dahulu. Namun sayang, dia merasa tak pantas untuk dicintai lagi setelah hidupnya dihancurkan oleh orang tuanya sendiri dan torehan luka dari mantan kekasihnya yang masih memiliki ikatan persaudaraan dengan Delavar juga membuatnya takut dimanfaatkan kembali oleh para lelaki kaya tersebut.
...*****...
...Delavar itu enggak lemah lembut guys, tapi dia sedang mencoba menjunjung tinggi harga diri wanita yang dicintai. Dia gak lancang macem CEO cassanova atau arogan macem CEO yang merajalela di dunia pernoveltoonan....
...Aku sedang mencoba nulis yang berbeda biar enggak sama aja kaya yang laen....