I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 175


Delavar dan Amartha akhirnya pulang juga ke Finlandia dengan menaiki helikopter yang sama persis digunakan oleh Daddy Davis. Sepasang pengantin itu sekarang sudah menginjakkan kaki di mansion keluarga Dominique.


Delavar segera keluar lagi dari kamarnya, dan mengajak Amartha untuk masuk ke dalam salah satu mobil yang terparkir di sana.


Daddy Davis yang melihat sepasang pengantin berjalan menuju luar pun mengikuti dari belakang.


“Kau mau pergi ke mana lagi?” Daddy Davis bertanya dengan tegas dan menghentikan putranya agar tak jadi masuk ke dalam mobil dan meninggalkan mansion. “Biarkan istrimu istirahat di dalam!” perintahnya kemudian dengan meninggalkan sentilan di kening Delavar.


“Ke dokter kandungan, Daddyku sayang. Aku ingin memeriksakan anak di dalam rahim istriku,” jelas Delavar seraya mengusap dahi.


“Pakai supir!” Daddy Davis melambaikan tangan untuk memanggil salah satu karyawannya. “Kau boleh pergi, tapi segera pulang ke mansion, jangan kemanapun lagi!”


Delavar berdecak. “Aku dan Amartha ingin pulang ke apartemen kami, Dad. Sudah membeli tempat tinggal sendiri, untuk apa masih menumpang dengan orang tuaku,” tolaknya.


“Mulai besok kau harus berangkat bekerja! Siapa yang akan menjaga menantuku yang sedang hamil itu, kalau kalian tinggal di apartemen hanya berdua?”


“Sebelum berangkat kerja akan aku antar istriku ke mansion, tapi saat aku pulang tetap di apartemen.”


Delavar tetap teguh, dia tidak ingin tinggal di mansion Dominique terlalu lama, kecuali saat liburan masih bisa dipertimbangkan. Tahu sendiri di sana ada Dariush yang suka mengganggu.


“Oke, seperti itu juga boleh. Pokoknya Daddy mau penjagaan yang terbaik untuk cucu dan menantuku,” pinta Tuan Dominique.


“Iya.” Delavar menyingkirkan tangan Daddynya dari pintu mobil.


“Tidak!” Daddy Davis pun masuk ke dalam bangunan utama setelah mobil milik Delavar melesat meninggalkan mansion. Kepala bergeleng merutuki salah satu putranya. “Dia itu anak siapa? Bisa-bisanya dimabuk cinta sampai lupa daratan.”


...........


Sementara di dalam mobil Delavar, tangan kanan pria itu mengelus perut Amartha terus menerus. “Apa kau ada keluhan? Dudukmu nyaman?”


“Aku baik-baik saja.” Amartha mengusap pipi Delavar dengan lembut. “Hanya merasa tak enak dengan Daddymu, kita main pergi saja. Pasti dia sangat marah.”


Tangan Delavar berganti mengacak-acak rambut Amartha dengan gemas. “Tenang, orang lain yang belum mengenal Daddyku akan menilai dia pemarah, arogan, kejam, menakutkan. Aslinya, Tuan Dominique itu penyayang, tapi dengan caranya sendiri.” Dia mencoba menjelaskan agar sang istri tidak perlu merasa tak enak hati.


Kendaraan roda empat itu pun berhenti juga di salah satu rumah sakit swasta yang ada di Helsinki. Delavar tidak membawa Amartha ke tempat praktik Dokter Beverly, karena sudah pasti penuh dan mereka tidak akan mendapatkan antrian hari ini.


Setelah menunggu selama satu jam, Delavar dan Amartha pun masuk ke dalam ruang dokter obgyn. Wanita itu sudah berbaring di brakar untuk dilakukan USG.


“Anak-anak kita, Sayang. Ternyata ada banyak,” ucap Delavar yang saat ini sedang menatap monitor seraya menggenggam tangan Amartha, dan menciumi permukaan kulit sang istri.


Sepasang pengantin berkaca-kaca matanya karena terharu.


“Sesuai harapanmu, Sayang. Ternyata kita diberikan malaikat kecil lebih dari satu.” Amartha mengusap rahang tegas suaminya dengan perasaan lega, karena bisa diberi kesempatan untuk mewujudkan keinginan Delavar.