I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 151


Sebelum hari pernikahan datang, Delavar ingin menyelesaikan semua urusan yang mungkin saja bisa menghambat ketika acara atau kehidupan setelah keduanya tercatat menjadi sepasang suami istri. Mulai dari kedua orang tua Amartha, dan Christoper beserta Jessy. Orang-orang itu yang saat ini jelas bisa menghambat perjalanan hidup. Maka, lebih baik dipastikan semua beres terlebih dahulu agar lega saat menjalani bahtera rumah tangga yang bahagia.


“Aku ingin langsung berbicara pada intinya,” ucap Delavar dengan nada tegas. Dia tak ingin berlama-lama di rumah itu, karena terlalu jijik dengan orang tua Amartha yang terlihat penjilat.


Mama Lylac yang hendak ke dapur mengambilkan beer pun mengurungkan niat dan ikut duduk bersama sepasang calon pengantin di sofa. “Memangnya ada apa kalian kemari?” Dia bertanya dengan suara yang dibuat seanggun mungkin.


Delavar tak langsung menjawab, namun mengantungkan tangan ke arah Amartha. “Dokumen yang aku titipkan ke tasmu, mana?” pintanya.


Amartha memangku tas tenteng berukuran besar, mengeluarkan sebuah map milik calon suaminya.


Bukan Delavar yang tega membiarkan Amartha membawa barang miliknya, tapi wanita itu yang berinisiatif sendiri agar lebih ringkas barang bawaan mereka berdua.


“Ini.” Amartha memberikan barang yang dicari oleh Delavar.


“Terima kasih, Sayang.” Tentu saja bukan sekedar ucapan, Delavar pasti mengecup pelipis wanita itu. Terang-terangan dia menunjukkan kemesraan.


Delavar membuka map, mengeluarkan sebuah undangan yang pasti sebentar lagi akan viral karena berbeda daripada pebisnis lainnya. Menyodorkan benda tersebut ke arah Mama Lylac. “Aku ingin menikahi putrimu, satu minggu lagi,” ungkapnya.


Mama Lylac mengambil undangan tersebut. Tersenyum sendiri melihat bahan yang digunakan. “Kau datang ke sini untuk meminta restuku? Tentu, dengan senang hati aku memperbolehkan Amartha menikah denganmu,” ucapnya begitu percaya diri. Bagaimana tidak senang jika keinginannya untuk bergabung dengan komunitas sosialita itu sebentar lagi akan tercapai karena memiliki menantu dari keluarga yang sangat kaya.


“Kesepakatan apa?”


Delavar mengeluarkan kertas lain yang sudah berisi banyak tulisan dan satu berukuran kecil. Menyodorkan itu ke hadapan calon mertua yang tak ingin dia anggap. “Aku akan memberimu cek sebanyak sepuluh juta euro, tapi kau harus menandatangani dokumen itu.”


Mata Mama Lylac tentu saja langsung membulat. Kepala pun didekatkan pada cek yang ada di atas meja. Memastikan jumlah nominal dan keasliannya. Tangan dengan kulit keriput itu langsung menyambar. Hati pun senang karena baru kali ini akan mendapatkan uang dengan nominal tak main-main. Jika dirupiahkan bisa mencapai lebih dari seratus lima puluh miliar.


“Mana dokumennya? Aku langsung tanda tangani.” Mama Lylac meminta kertas yang harus dia sepakati.


“Kau bisa membaca perjanjian yang tertulis di sana terlebih dahulu,” beri tahu Delavar seraya menunjuk kertas yang berjumlah sepuluh lembar dan memberikan pulpen.


“Tidak perlu, aku pasti langsung setuju,” tolak Mama Lylac. Tentu saja dia tak akan melewatkan segepok uang yang datang dari calon menantu kaya rayanya. Dia segera membubuhi tanda tangan di dua perjanjian yang sama.


“Aku pasti akan datang ke acara pernikahan kalian,” tutur Mama Lylac seraya memberikan pulpen serta kertas yang berjumlah banyak tadi.


Delavar memberikan kepada Mama Lylac satu perjanjian tadi yang sudah dia tanda tangani juga. Sedangkan satunya untuk dipegang sendiri. “Aku sarankan agar kau membaca perjanjian itu dan patuhi dengan benar jika tak ingin mendapatkan masalah dalam hidupmu,” perintahnya.