I’M Not A Virgin

I’M Not A Virgin
Part 66


Delavar mengeluarkan decakan penuh ejekan seraya kepalanya menggeleng. “Sepertinya aku harus memberikan kaca besar di ruangan ini agar kau puas mengaca pada dirimu sendiri.”


Kaki Delavar semakin mengayun mendekati tawanannya. Dia menendang tas berisi uang sepuluh juta euro yang masih utuh tak terpakai. “Nikmati saja uang yang kau minta. Bukankah itu yang kau inginkan?”


“Bodoh! Bagaimana aku bisa menikmatinya jika kau memberiku uang tapi tak membebaskanku!” seru Papa Max. Tubuhnya meronta karena kesulitan untuk bergerak.


Delavar mengedikkan bahu. Kakinya mulai berjalan memutari sang tawanan, melihat kondisi fisik yang baunya bukan main. Bayangkan saja seseorang tak mandi selama satu minggu dan disekap di dalam gudang yang sirkulasi udaranya tak terlalu lancar.


“Aku sudah memberimu penawaran pada saat itu, tapi kau tak memilih kebebasan. Maka nikmati saja buah keserakahanmu,” ucap Delavar. Kakinya berhenti tepat dalam jarak tiga meter dari Papa Max yang bau dan membuat perutnya seperti diaduk-aduk tapi masih dia tahan agar tak muntah. “Aku sudah melakukan tes DNA, ku pastikan kau menyesal jika Amartha adalah anak kandungmu,” lanjutnya memberikan informasi.


Papa Max menarik satu sudut bibirnya sinis. “Mustahil!” tampiknya.


Delavar mengedikkan bahu. “Kita lihat saja satu minggu lagi.”


Tak berselang lama, seorang pelayan pun masuk dengan membawa piring berisi makanan bergizi dan satu gelas susu. “Tuan, ini makannya.”


“Suapi dia!” titah Delavar dengan menunjuk Papa Max menggunakan dagunya.


“Baik.” Pelayan itu sampai membawa masker karena tak tahan dengan bau pak tua itu. Dia menyendokkan hidangan tersebut dan mengarahkan ke mulut Papa Max.


Namun pak tua menyebalkan tersebut melengos. “Aku tak mau makan!” tolaknya.


Pelayan itu menengok ke belakang, di mana Delavar sedang berdiri. “Tuan, dia selalu seperti ini,” beritahunya.


Delavar melipatkan tangan di depan dada. “Makan! Kau itu sudah tua jangan menyusahkan!” tegasnya dengan memasang mata elang yang menghunus tatapan mata sang tawanan.


“Tidak mau!” tolak Papa Max dengan suaranya yang meninggi. “Bebaskan aku terlebih dahulu!” pintanya.


“Coba saja gunakan uangmu itu untuk membebaskanmu,” cetus Delavar memberi ide. “Tidak bisa, kan? Terkadang kebebasan jauh lebih berharga dibandingkan harta. Tapi orang-orang seperti dirimu tak akan bisa tahu akan hal itu!”


Delavar bergeleng kepala. Susah sudah meluruskan otak pak tua itu. Sepertinya saat pembagian kepintaran, Papa Max membolos sehingga tak cerdas sedikit pun.


“Kau mau makan dengan cara baik-baik atau tidak?” tanya Delavar sekali lagi.


Tapi Papa Max melengos. “Bebaskan dulu, baru aku mau makan,” pintanya sangat tak terdengar tulus.


“Kenapa? Kau sudah ingin menghirup udara segar?”


“Ya.”


Delavar menganggukkan kepala tapi tak berkomentar apa pun. Dia justru menatap ke arah pelayan. “Ambilkan sarung tangan karet yang biasa digunakan oleh chef Untuk memasak, dan panggilankan dua pelayan lagi untuk ke sini!” titahnya.


“Baik, Tuan.” Pelayan itu segera menjalankan tugas dan tak butuh waktu lama langsung kembali lagi dengan semua permintaan sang tuan.


Delavar memakai sarung tangan untuk menutupi kedua telapaknya. “Kalian semua juga pakai ini,” titahnya seraya menyodorkan box berisi gloves ke pelayan yang lain.


Ketiga orang yang bekerja di mansion keluarga Dominique itu melakukan sesuai perintah sang tuan.


Delavar memberikan piring untuk dipegang salah satu pelayan. Dan bibirnya menyeringai sinis ke arah Papa Max. “Mari kita makan dengan caraku.”


...*****...


...Ayo guys mampir ke karya baru temen aku, judulnya Kala Bos Menggoda, author Novi wu...